
Jessica menatap Safira lalu kembali memeluk menantunya itu.
"Jaga dirimu, Sa. Ceritakanlah pada Ibu jika ada yang ingin kau ceritakan," ucap Jessica lalu melepas Safira dari pelukannya.
"Safira pamit, Ibu, Ayah." Safira mencium punggung tangan Jessica dan Aldy bergantian lalu masuk ke dalam mobil yang sudah Dev siapkan sebelumnya.
"Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Dev," ucap Aldy menepuk bahu putranya itu pelan.
Dev hanya menanggapinya dengan senyuman lalu mencium punggung tangan Aldy dan juga Jessica.
"Kak Dev?" panggil Davin dari pintu utama. Gadis itu berlari menghampiri Dev lalu memeluk pria itu erat.
"Sering-seringlah berkunjung ke sini," ucapnya lalu melepaskan Dev dari pelukannya.
"Kakak janji, Kakak akan berkunjung sekali seminggu," jawab Dev tersenyum pada sang adik.
Usai berpamitan pada Aldy, Jessica dan Davin, Dev pun langsung masuk ke dalam mobil yang ia kemudi sendiri.
"Singkirkan permen ini dari hadapanku!" ucap Dev saat melihat permen lollipop kesukaan Safira, yang Safira letakkan di kursi samping pengemudi.
"Baiklah, Kak." Safira meraih tiga lollipop itu lalu memasukkan ke dalam tasnya.
Mobil mulai melaju keluar dari halaman utama. Dev fokus dengan jalan di depannya, sementara Safira mulai fokus memantau laporan kafenya yang ia tinggalkan beberapa hari ini.
☆ ☆ ☆
"Selamat datang Tuan Muda, Nona Muda," sapa seorang pria berbadan tinggi dan tegap itu. Pria itu menurunkan semua barang-barang milik Dev dan juga Safira, lalu membukakan pintu untuk keduanya.
"Kamarmu di situ," ucap Dev sambil menunjuk sebuah kamar yang terletak di dekat tangga.
"Kamarku?" tanya Safira memastikan.
"Iya."
Safira melirik pria yang berdiri di belakang Dev. Pria itu terlihat bingung, sama seperti dirinya.
"Jimmy! Kau ikut denganku! Dan kau! Masuklah ke kamarmu dan bereskan semua barang-barangmu, karena di rumah ini tidak ada pelayan yang akan melayanimu! Dan satu lagi! Jangan pernah melangkah kakimu memasuki kamarku! Kecuali atas izin dan perintah dariku!" ucap Dev lalu melangkah menaiki tangga.
"Tuan? Apa yang anda lakukan?" Pria yang bernama Jimmy itu mengikuti langkah besar Dev, menaiki tangga.
"Kenapa? Bukankah aku sudah bilang! Aku tidak mencintainya! Aku tidak mencintainya! Dan aku tidak bisa mencintainya!" jawab Dev penuh penekanan.
"Dan jangan pernah berharap, kalau hatiku akan semudah itu terbuka dan menerima kehadirannya!"
Jimmy hanya diam. Ia juga tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Dev yang menjadi Tuannya.
Dev membuka pintu kamarnya, matanya langsung tertuju pada lukisan berukuran besar. Dimana lukisan itu menggambarkan seorang pria dan wanita yang saling menatap penuh cinta.
"Lihatlah, Ra. Rumah impian kita sudah jadi, sesuai dengan apa yang kita inginkan dulu," gumamnya.
Jimmy menatap Dev iba. Ia faham apa yang Dev rasakan sekarang. Tapi ia juga tidak menyangka bahwa Dev akan larut dalam semua ini.
"Tuan, saya pamit undur diri. Tuan istirahatlah. Saya akan tetap berjaga di bawah," pamit Jimmy lalu melangkah menuruni tangga.
Jimmy melirik pintu kamar Safira yang terbuka. "Semoga kehadiran Nona Safira bisa merubah sifat Tuan Muda Dev."
☆ ☆ ☆
"Hmmm, sebaiknya aku ke dapur saja. Siapa tau ada bahan makanan yang bisa kumasak," gumam Safira lalu bangkit dari tidurnya.
"Permisi." Safira menatap punggung Jimmy yang sedang duduk di depan laptopnya.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Emm, aku ingin bertanya. Apa aku dibolehkan memasak di dapur?" tanya Safira lugu.
"Tentu saja, ini rumah Tuan Dev, berarti rumah Nona juga," jawab Jimmy tersenyum.
"Baiklah, terimakasih."
Safira melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia membuka kulkas lalu menatap semua bahan makanan yang tersimpan di sana.
"Baiklah, kita buat yang enak tapi cepat saja."
Safira mengeluarkan semua bahan-bahan yang ia butuhkan, lalu mulai mencuci dan memotongnya.
"Siapa yang menyuruhmu memasak?" tanya Dev dari ambang pintu dapur, membuat Safira langsung menoleh dan menghentikan kegiatannya.
"Maaf, Kak. Aku lapar, dan tadi, aku sudah bertanya pada pria itu, dan dia bilang aku boleh memasak di sini," jawab Safira tertunduk.
"Hmmm, terserah! Lanjutkan saja, aku tidak perduli dengan urusanmu! Aku akan keluar, dan pulang malam," ucap Dev lalu meninggalkan dapur.
'Ya Tuhan, kenapa serumit ini? Kumohon mudahkanlah semuanya.' Batin Safira berdoa.
☆ ☆ ☆
Setelah makan dan mencuci piring bekas makannya, Safira pun keluar dari dapur dan melangkah menuju pintu utama.
Ia melirik Jimmy yang masih sibuk dengan laptopnya.
'Tadi siapa namanya? Jimmy?' Batin Safira sibuk mengingat nama si pria berwajah datar itu.
"Ada yang Nona butuhkan lagi?" tanya Jimmy sopan.
"Aku ingin ke taman, tolong bukakan pintunya," pinta Safira karena pintu utama terkunci dan sudah jelas dia tidak punya kunci untuk membukanya.
"Baiklah."
Jimmy berdiri lalu membukakan pintu untuk Safira.
"Sekali lagi terimakasih," ucap Safira tersenyum dan dibalas anggukan sopan oleh Jimmy.
Safira menatap semua bunga-bunga yang terrawat di taman depan. Ia duduk di kursi taman lalu mulai mengeluarkan Hpnya.
Safira menatap layar Hpnya yang menampilkan fotonya dan juga Dev saat acara pernikahan kemarin.
"Andai saja Kak Dev mencintaiku, ia pasti akan tersenyum tulus saat pernikahan kami, bukan hanya senyum palsu yang jelas sangat dipaksakan," gumam Safira.
Wanita itu memulai mengobrak-abrik kontaknya, mencari siapa orang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita selain Jessica.
Sayangnya, tidak ada satu pun orang yang bisa Safira hubungi saat ini. Ia juga sudah menghubungi sahabatnya Alisha, tapi wanita itu tidak mengangkat telepon darinya.
Akhirnya, Safira pun memutuskan untuk kembali masuk dan berdiam diri di dalam kamarnya.