Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano Untuk Safira (5)



Pukul 7 malam.


Safira berjalan mendekati Dev yang masih duduk di depan meja kerjanya. Dev masih sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang terus tertunda.


Safira menyentuh pundak Dev dengan lembut, lalu memainkan daun telinga pria itu. Dev menghentikan aktivitasnya, ia memutar tubuhnya menghadap Safira. Menarik pinggang Safira, hingga Safira terduduk dia atas pangkuannya.


"Ada apa, Sayang? Kenapa menggangguku?" tanya Dev sambil mengelus perut rata Safira.


"Aku ingin keluar, tapi Kak Dev masih...."


"Kau ingin kemana? Kita akan pergi sekarang juga!" potong Dev. Dev menciumi bahu Safira dengan lembut, mengesek-gesekkan batang hidungnya pada bahu Safira.


"Aku ingin makan bakso yang di dekat taman kota itu."


"Kita akan pergi kesana, bersiaplah!" jawab Dev. Dev melepaskan tubuh Safira, membiarkan wanita itu untuk menyiapkan dirinya.


Safira bangkit lalu menatap Dev. Ia menundukkan kepalanya saat pandangannya dan Dev bertemu.


"Katakan saja apapun yang kau inginkan, Sayang! Jangan takut seperti itu!" Dev bangkit lalu memegang dagu Safira, dan tersenyum manis pada Safira.


"Kau ingin apa? Katanlah! Aku akan berusaha untuk mewujudkannya."


"Aku ingin makan bakso. Tapi, aku tidak ingin keluar dengan mobil," ucap Safira.


"Aku ingin Kak Dev memboncengiku dengan motor, motor yang sama dengan milik Davina," lanjut Safira. Safira kembali menundukkan kepalanya.


"Hanya itu?"


Safira mengangguk cepat.


"Bersiaplah, aku akan meminta Jimmy untuk membawa motor itu sekarang juga!" ucap Dev dengan senyum manis dibibirnya.


Safira melangkah mendekati Dev, memeluk tubuh Dev dengan gemas.


"Terimakasih....terimakasih...." ucap Safira sambil menghujani wajah Dev dengan kecupan hangat miliknya. Safira melepas tubuh Dev, ia berjalan mendekati lemari baju, mengambil jaket hitam tebal untuk ia kenakan.


* * *


Jimmy menghubungi seorang pengawal, meminta pengawal itu untuk segera menghantarkan motor milik Dev. Motor yang sama dengan motor milik Davina, hanya berbeda warna saja.


Tidak butuh waktu lama, motor itu kini terparkir di halaman depan rumah Dev. Dev membuka pintu utama, lalu tersenyum saat melihat apa yang diinginkan istrinya sudah ada di depan mata.


Safira melangkah mendekati Dev. Ia pun ikut tersenyum bahagia, karena Dev selalu mewujudkan keinginannya.


Jimmy melangkah mendekati Dev dan juga Safira. Ia menyerahkan kunci motor itu pada Dev, dan juga menyerahkan beberapa kartu-kartu penting lainnya.


"Hati-hati, Tuan," ucap Jimmy. Dev hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


"Kau sudah siap, Sayang?" tanya Dev pada Safira, Safira melingkarkan tangannya memeluk perut Dev, dan juga menyadarkan dagunya pada pundak pria itu.


"Sudah, Kak."


Kini motor itu melaju keluar dari halaman depan rumah Dev. Safira pun semakin mengeratkan pelukannya, mencari titik ternyaman untuk dirinya sendiri.


* * *


Dev menghentikan motornya tepat di depan gerobak bakso yang Safira maksudkan. Safira turun terlebih dahulu, lalu berjalan mendekati gerobak bakso itu.


"Permisi, Pak?"


"Iya, Nona? Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin pesan dua mangkuk baksonya, Pak."


"Dibungkus atau makan disini, Non?"


"Makan disini aja, Pak," jawab Safira sambil mendudukkan dirinya di sebuah meja dan kursi kayu panjang.


Dev turun dari motornya, lalu menyusul Safira. Ia ikut mendudukkan dirinya di samping Safira.


"Kenapa tidak diikat, Sayang?" tanya Dev dengan tangan yang mulai merapikan rambut Safira.


"Aku lupa, Kak."


Safira tersenyum saat melihat dua mangkuk bakso terhidang di hadapannya. Ia menarik satu mangkuk, lalu memberikan mangkuk yang lain pada Dev.


Dev masih sibuk memegangi rambut Safira, mengikat rambut itu dengan sekedarnya saja. Ia kini menatap Safira yang sedang menyantap bakso di hadapannya dengan sangat lahap, tanpa memperdulikan lagi siapapun yang ada disekitarnya.


"Kau mau lagi?"


Safira mengangguk pelan. "Tapi baksonya saja, boleh, 'kan?"


Dev tersenyum mendengar ucapan Safira, ia memindahkan semua bakso yang ada di mangkuknya pada mangkuk kosong Safira.


"Terimakasih," ucap Safira sambil tersenyum bahagia.


* * *


15 menit kemudian.


Safira dan Dev kini berada di tengah-tengah taman kota. Keduanya duduk di sebuah kursi, dengan tangan yang terus bertautan satu dengan yang lainnya. Safira menyandarkan kepalanya pada bahu Dev, ia melepas tangan Dev, dan meminta Dev untuk memainkan pipinya.


"Katakan kalau Kak Dev mencintaiku!" pinta Safira. Safira mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Dev yang juga menatap ke arahnya.


"Aku mencintaimu, Sayang. Apakah kau masih ragu dengan cintaku?"


Safira menggeleng pelan. "Katakan lagi, Kak!"


"Aku mencintaimu, Sayang."


"Lagi!"


"Aku mencintaimu, Safira Maharani!" teriak Dev, membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya.


Safira yang merasa malu pun langsung meringsut mendekati Dev. Ia menyembunyikan dirinya dibalik punggung Dev.


"Ayo pulang, Kak!" Safira menarik tangan Dev. Memaksa Dev untuk pulang secepatnya. Karena ia benar-benar malu dengan orang-orang yang terus menatap dirinya.


Dev tersenyum kecil, ia pun menyembunyikan wajah istrinya, tidak mengizinkan siapapun untuk melihat wajah istri tercintanya itu.


"Hei! Jangan tatap istriku seperti itu!" ucap Dev pada seorang remaja yang memperhatikan mereka sejak tadi. Remaja itu hanya bisa mengangguk patuh sambil mengalihkan pandangannya.


Dev terus merangkul Safira, melindungi Safira dari tatapan-tatapan liar disekitarnya. Dev melepas Safira, ia menaiki motornya, lalu meminta Safira untuk naik secepatnya.


Safira kembali menyembunyikan wajahnya pada punggung Dev, dan memeluk tubuh Dev seerat-eratnya.


* * *


Setengah jam kemudian.


Dev melepas jaketnya, membaringkan dirinya di atas kasur. Dev memainkan Hpnya sambil menunggu Safira yang masih berganti baju di dalam kamar mandi.


Pintu kamar mandi itu pun terbuka. Safira kini berdiri di depan pintu itu, dengan tubuh yang hanya terbungkus oleh lingerie berwarna hitam pekat. Safira berjalan mendekati kasur, membaringkan dirinya di samping Dev, yang masih sibuk dengan Hpnya.


"Sayang?" panggil Safira sambil membelai kepala Dev dengan lembut.


Dev mengalihkan pandangannya, ia mematikan Hpnya dan hanya terfokus pada Safira. Dev menelan ludahnya dengan susah payah. Memegangi dadanya yang kini berdebar kencang.


"Kau memanggilku tadi?" tanya Dev ragu, Safira hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


Dev mendekati Safira, dengan kepala yang mulai berputar, mencari cara untuk memaafkan kesempatan berharga di depan matanya.


Dev membelai wajah Safira dengan lembut, mendaratkan kecupan hangat disetiap inci wajah Safira.


"Aku mencintaimu, Sayang," bisik Dev dengan lembut. Dev menatap mata Safira cukup lama, lalu mendaratkan kecupan singkat pada bibir Safira.


Dev merubah posisinya, ia kini berada di atas tubuh Safira. Masih berusaha untuk mendapatkan hati istrinya itu. Namun, belum apa-apa, Safira sudah mendorong dada Dev, melepaskan dirinya dari bawah tubuh Dev.


"Kak Dev bau! Kak Dev belum mandi, ya?" ucap Safira dengan bibir yang mulai cemberut. Safira bergeser menjauhi Dev, ia meminta Dev untuk mandi terlebih dahulu.


"Tapi janji, kita akan melanjutkannya setelah aku mandi!" ucap Dev sebelum ia turun dari kasur. Dev pun mulai melangkah menuju kamar mandi, setelah Safira mengangguk dan menyetujui ucapannya.


Dev mandi dengan kecepatan kilat, tidak lupa untuk mengikat gigi dan juga menciumi ulang aroma tubuhnya. Dev tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya.


Dev membuka pintu kamar mandi. Ia mendengkus kesal saat melihat tubuh istrinya sudah ditutupi selimut tebal. Dan istrinya sudah tertidur dengan tenang.


Dev memegangi dadanya, mengelusnya sambil mengucapkan kata 'sabar' sebanyak-banyaknya. Setelah merasa tenang. Barulah Dev melangkah mendekati kasur, ditatapnya wajah tenang Safira, lalu tersenyum saat melihat bibir Safira seolah-olah tersenyum mengejek dirinya.


"Awas saja kau, Sayang! Aku akan menagih semuanya besok pagi! Aku tidak akan tertipu lagi!"


Dev menciumi bibir Safira, lalu naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Safira. Dev melingkarkan tangannya pada pinggang Safira, memeluk tubuh Safira sampai ia larut dalam mimpinya.