
Davin terus menatap lampu merah, lalu mendengkus kesal sambil menatap ke arah jam tangannya, dan juga orang-orang di sekitarnya. Ingin rasanya Davin menerobos lampu merah itu, namun, apalah daya, begitu banyak polisi yang berdiri di seberang jalan sana.
Jarak satu mobil dari motor Davin. Seorang pria tidak sengaja menatap ke arahnya, membuat senyuman di wajah pria itu langsung mengembang, namun tidak berbuah><
Henry terus menatap gadis yang terlihat kesal itu, sayangnya, belum apa-apa, gadis itu langsung melesat jauh meninggalkannya. Henry pun menatap ke arah lampu lalu lintas yang sudah berubah warna, dengan segera, ia menancapkan gasnya, membuntuti motor pujaan hatinya itu.
10 menit kemudian.
Motor Davina sudah memasuki area kampus, dan tidak lama, motor itu pun terparkir di parkiran yang sudah ramai, dan hampir tidak menyisakan tempat untuk motornya.
"Oh, ternyata dia kuliah di sini," gumam Henry yang masih menatap Davina dari kejauhan. Matanya terus mengikuti kemana Davin berjalan, sampai gadis itu hilang dan masuk ke dalam gedung kuliahnya.
☆ ☆ ☆
Beberapa jam kemudian.
Agnes berjalan di samping Davin, kedua gadis itu berjalan dengan ekspresi wajah yang sama, sama-sama dingin dan terlihat begitu datar, tanpa ada sedikit pun senyum menghiasi bibir keduanya.
Sesampainya di parkiran, Davin dan Agnes dibuat bingung oleh sebuah coklat batang dan sepucuk surat, yang diletakkan di atas motor Davin.
Davin menatap sekitar parkiran, namun, tidak ada siapapun di sana. Hanya ada dia dan Agnes saja.
"Dari siapa?" tanya Agnes, padahal Davin sendiri tidak tau itu dari siapa.
"Entahlah." Davin membuka surat kecil yang diikat diatas coklat itu, surat itu berisikan sebuah nama yang entah, orang mana yang menjadi pemilik nama itu.
"Henry? Siapa, ya? Apa kau tau?" tanya Davin. Agnes menggeleng cepat, karena ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Hati-hati, Davin. Kita tidak tau apa yang sudah pria itu lakukan pada coklat ini, siapa tau dia sudah menaruh guna-guna di sini," ucap Agnes sambil mengamati sebatang coklat yang kini ada di tangannya.
"Benar juga, aku tidak bisa menerimanya," jawab Davin. Davin pun melangkah mendekati meja taman, lalu meletakkan coklat itu di atas meja.
"Ayo!" ucapnya pada Agnes. Keduanya pun langsung menancapkan gas, keluar dari area kampus, dan meluncur menuju minimarket yang terletak tidak jauh dari kampus mereka.
Sementara itu, Henry mengacak rambutnya, pria itu terus memutar otaknya, mencari cara agar ia bisa berlihat Davin lebih dekat lagi, atau hanya sekedar melihat wajah datar wanita itu sekali lagi.
Henry berjalan memasuki minimarket yang sama, dengan minimarket yang Davin dan Agnes masuki beberapa menit yang lalu. Henry mengedarkan padanya mencari sosok Davin, kakinya melangkah mundur namun matanya terus mencari di mana dua gadis dingin itu sekarang.
Davin berpegangan pada lengan Agnes, lalu membalikkan tubuhnya untuk melihat, siapa orang yang sudah menabraknya itu.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Henry saat Davin dan Agnes menatap ke arahnya.
"Tidak apa, Om. Lain kali lebih berhati-hatilah," jawab Davin dengan ekspresi datarnya. Davin menarik lengan Agnes, mengajak Agnes untuk melangkah menuju kasir.
'Sial! Kenapa seperti ini?!' Batin Henry, Henry pun melangkah mendekati lemari pendingin, mengambil sebotol minuman, dan langsung berjalan menuju kasir. Keberuntungan bagi Henry, karena sekarang ia bisa berdiri di belakang Davin yang sedang membayar semua belanjaannya.
"Terimakasih, Nona," ucap si Mbak kasir. Davin hanya menanggapi dengan senyum tipis. Davin mundur satu langkah,
"Aduh kakiku!" gumam Henry saat Davin dengan tidak sengaja menginjak sepatunya, membuat kakinya kesakitan.
"Hah? Maaf, Om, saya tidak sengaja," ucap Davin sambil mengatupkan kedua tangannya. Henry tersenyum melihat itu.
"Tidak apa, saya baik-baik saja," jawab Henry tersenyum. Henry pun maju satu langkah, setelah Davin bergeser ke kanan dan berjalan menuju pintu keluar minimarket.
Davin menoleh. "Sekali lagi maaf, Om," ucapnya sebelum ia benar-benar keluar dari minimarket itu. Henry kembali tersenyum pada Davin, membuat si Mbak kasir berdehem beberapa kali.
"Eh, jadi berapa, Mbak?" tanya Henry sambil mengelus tengkuknya.
"Tujuh ribu saja, Om," jawab si Mbak kasir sambil tersenyum tak jelas.
"Heh! Aku bukan Om-mu!" ucap Henry dengan mata yang menatap tajam si Mbak kasir. Mbak kasir hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, tanpa peduli tatapan tajam dari pria yang ada di depannya itu.
"Davin! Kurasa, Om itu menaruh hati padamu," ucap Agnes saat ia dan Davin sudah kembali ke kampus.
"Tidak mungkin! Itu hanya perasaanmu saja!" bantah Davin. Namun, hatinya tiba-tiba saja berdebar ketika mengingat senyuman mempesona milik Henry.
"Atau? Sebenarnya, kau yang suka pada Om itu?!" Agnes langsung menghindar ketika tangan Davin hendak menyerangnya.
"Jaga bicaramu! Aku tidak akan suka pada pria seperti itu!"
"Kita lihat saja," ucap Agnes, dan kali ini, ia mendapatkan pukulan mantap dari Davin. Davin menatap Agnes dengan tatapan yang begitu tajam, sampai Agnes tidak sanggup lagi bersitatap dengannya.