Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano Untuk Safira (1)



Devano Pranata Yoga, pria yang dulu hanya menyimpan satu nama dalam hatinya, tidak ingin menggantikan nama itu dengan nama siapapun, termasuk Safira Maharani, istrinya.


Namun, waktu terus berjalan, Safira selalu ada untuk Dev, selalu sabar menghadapi semua sifat menyebalkan Dev, dan hal itu berhasil menyentuh hati Dev.


Sampai akhirnya, Dev mulai membuka hati untuk Safira, belajar untuk mencintai Safira, dan menjadikan Safira sebagai satu-satunya wanita di dalam hatinya.


Dan kini, Safira sudah mendapatkan balasan cintanya, bahkan ia mendapatkan cinta yang begitu besar dari seorang Devano Pranata Yoga.


* * *


Dev menuntun Safira menaiki tangga, pria itu menutup mata Safira dengan kain berwarna hitam. Dev menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar, membuat Safira ikut menghentikan langkahnya.


"Kak Dev?" Safira menggerakkan tangannya mencari keberadaan Dev, tangan Safira langsung terhenti saat Dev meraihnya, dan menggenggam tangannya dengan erat.


"Aku di sini, Sayang," bisik Dev sambil menuntun Safira berjalan memasuki kamar.


Dev memeluk tubuh Safira dari belakang, meletakkan dagunya pada ceruk leher Safira.


"Aku mencintaimu," bisiknya dengan nada yang terdengar begitu tulus.


Dev melepaskan Safira dari pelukannya, lalu membuka kain hitam yang masih menutup mata Safira.


Safira membuka matanya dengan perlahan, jantungnya kembali berdebar hebat, saat melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.


Dev berjalan mengitari Safira, lalu berlutut di hadapan wanita itu.


"Aku mencintaimu, Sayang," ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Dev membuka kotak itu di hadapan Safira dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya.


Dev meraih tangan Safira, menyematkan cincin berlian yang ia hadiahkan, khusus untuk calon ibu dari anaknya itu.


"Terimakasih, Kak..." Safira ikut berlutut lalu memeluk tubuh Dev. Ia menangis di dalam pelukan pria itu, menangisi semua takdir indah, yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Safira mendorong tubuh Dev menjauh dari dirinya, hal itu membuat Dev langsung menatap Safira dengan tatapan bingung sekaligus kesal.


"Kenapa, Sayang?" tanya Dev pada Safira yang memasang wajah cemberutnya.


"Kak Dev bau!" jawab Safira sambil mundur menjauhi Dev.


Dev hanya bisa menghela nafas saja. Belum apa-apa, Safira sudah menjauhi dirinya. Bahkan Dev belum mendapatkan ciuman terimakasih dari Safira.


"Ayolah, Sayang! Jangan seperti itu lagi," ucap Dev. Dev maju satu langkah mendekati Safira.


"Kak Dev bau!" teriak Safira. Safira mulai menutup hidung dan juga mulutnya, kini perutnya kembali memberontak, ingin mengeluarkan semua isinya.


Safira berlari menuju kamar mandi, ia mendekati wastapel lalu mengeluarkan apapun yang ingin keluar dari mulutnya.


Melihat hal itu, Dev pun ikut berlari menyusul Safira. Saat dirinya mendekat, saat itu juga Safira kembali memuntahkan isi perutnya.


"Kak Dev," lirih Safira dengan wajah yang mulai memucat. Dev yang tidak tega langsung mundur menjauhi Safira. Pria itu tidak ingin terjadi hal, yang tidak ia inginkan pada Safira dan juga janin, yang ada di dalam perut Safira.


"Keluarlah, Sayang!" ucap Dev yang kini berdiri dekat lemari baju. Safira pun menoleh, lalu melangkah dengan perlahan untuk keluar dari kamar mandi.


"Hati-hati, Sayang!" lirih Dev. Dev terus memperhatikan langkah Safira, takut Safira terpeleset atau terjatuh nantinya.


"Aku akan keluar, kau tidurlah!" ucap Dev. Dev kini sudah berdiri di depan pintu kamar, dan sudah siapa untuk tidur diruang tengah, demi Safira.


"Kak Dev!" panggil Safira.


Dev pun kembali membuka pintu kamar, lalu menatap ke arah Safira.


"Aku tidak bisa tidur tanpa Kak Dev," lanjut Safira dengan kepala yang tertunduk.


"Tapi kau kan...."


"Tidak lagi, Kak Dev mendekatlah!" potong Safira. Dev pun tersenyum dan langsung mendekati Safira.


Dev merapikan rambut Safira, lalu mendaratkan ciuman hangat pada kening Safira.


"Kak Dev?" lirih Safira sambil memeluk tubuh Dev. Ia kini sudah tidak lagi mual dengan aroma tubuh Dev.


"Kenapa, Sayang?" tanya Dev sambil memegangi kedua pipi Safira.


"Aku ingin roti bakar." Safira mengangkat wajahnya menatap Dev.


"Gampang, tunggu sebentar, ya. Aku akan membuatnya untukmu," jawab Dev tersenyum.


"Baiklah, sini." Dev mengangkat tubuh Safira sambil tersenyum manis pada wanita itu.


"Kak Dev, katakan, kalau kau mencintaiku!" pinta Safira saat Dev menurunkan dirinya di dekat meja makan.


"Aku mencintaimu, Sayang," ucap Dev dengan tulus dari hatinya.


"Ulangi terus, Kak! Sampai roti bakarnya jadi!" pinta Safira. Dev pun menurutinya dengan senang hati.


"Aku mencintaimu, Sayang," ucap Dev sambil mengoleskan selai coklat di atas roti tawarnya.


Dev terus mengulang ucapannya sampai roti bakar itu terhidang di hadapan Safira.


"Suapin!" ucap Safira, membuat Dev langsung tersenyum padanya.


Safira mulai bangkit dari duduknya, lalu mendudukkan dirinya di atas pangkuan Dev, sambil mengalungkan tangannya pada leher Dev.


"Sayang, kau membangunkan sesuatu di bawah saja," lirih Dev sambil menahan nafasnya.


Safira tidak perduli akan hal itu, ia tetap mengunyah roti bakarnya sambil tersenyum manis pada Dev.


'Ya, Tuhan...Apa ini? Jangan hukum aku seperti ini...." teriak batin Dev.


Safira menatap wajah Dev yang mulai gelisah, sepertinya ia harus segera turun agar Dev bisa mengontrol dirinya.


"Maaf," lirih Safira, lalu menurunkan dirinya dari atas pangkuan Dev.


"Aku tidak bermaksud seperti itu," lanjut Safira tertunduk.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku baik-baik saja," jawab Dev. Dev tersenyum lalu kembali menyuapi potongan roti terakhir pada Safira.


"Aku akan bertanggung jawab." Safira meraih tangan Dev lalu tersenyum meyakinkan pria itu.


"Tidak, Sayang, tenagamu tidak mampu untuk malam ini," jawab Dev. Dev tidak ingin menyakiti Safira, ia tau wanita itu tidak akan mampu melayaninya dengan kondisi tubuh yang seperti ini.


"Kak Dev menolakku?" Safira melepas tangan Dev, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Tidak, bukan begitu!" Dev bangkit, lalu mendekati Safira.


"Aku tidak ingin menyakitimu, percayalah, aku baik-baik saja. Kita bisa melakukannya saat tubuhmu sudah mampu menerima serangan dariku," lanjut Dev sambil tersenyum menggoda.


"Dasar pria!" cibir Safira. Kini ia meraih gelas yang berisi susu coklat, meneguknya sampai setengah gelas.


"Aku tidak ingin tidur dengan Kak Dev! Kak Dev jahat! Kak Dev tidak mengerti aku!" ucap Safira sambil melangkah meninggalkan Dev.


Dev mengelus dadanya, menarik nafasnya, lalu membuangnya dengan perlahan.


"Sabar, sabar, sabar....." ucap Dev sambil terus mengelus dadanya.


Setelah merasa lebih tenang, barulah Dev bangkit dan berjalan keluar dari dapur. Dev mulai menaiki tangga dengan jantung yang berdebar kencang, takut Safira benar-benar tidak ingin tidur dengan dirinya.


Dev membuka pintu kamar, lalu tersenyum saat melihat Safira yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dev pun berjalan dengan pelan, agar Safira tidak menyadari keberadaannya.


"Tidur diruang tengah, atau aku tidak akan bicara lagi pada Kak Dev?! Selamanya?!" ucap Safira dari balik selimutnya.


"Baiklah," jawab Dev lalu mengambil bantal guling dan selimut tipis di dekat Safira.


"Semoga mimpi indah," ucap Dev lalu melangkah mendekati pintu kamar. Dev langsung menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan Safira.


"Kak Dev....Maafkan aku....." teriak Safira. Safira bangun lalu berlari dan langsung memeluk tubuh Dev.


"Maaf," lirih Safira sambil mempererat pelukannya pada tubuh Dev.


"Iya, aku sudah maafkan, aku mengerti keadaanmu, sekarang tidurlah." Dev kembali mengangkat tubuh Safira, membaringkan Safira di atas kasur.


Dev terus mengelus kepala Safira, sampai wanita itu tertidur dengan wajah yang tersenyum pada dirinya.


"Aku akan terus ada untukmu, mengerti keinginan dan juga kondisimu." Dev mengecup kening Safira, mengelus perut rata Safira sambil memejamkan matanya. Tidak lama, Dev pun tertidur dan berpetualang dalam dunia mimpinya.


☆ ☆ ☆


Author :


Maaf, author minta maaf sebesar-besarnya. Author tidak bermaksud membuat readers kecewa dengan lebel tamat yang ada dicover novel. Tapi, ada satu, dua dan tiga alasan yang membuat author memberi lebel tamat, mohon pengertiannya😊 Dan sebenarnya, dalam kerangka, ceritanya sudah selesai, tapi author udah kembangin lagi menjadi beberapa bab. Devano Untuk Safira termasuk Bab final, ya😊Mohon pengertian dan kerja samanya🙏 Salam hangat dari author ingusan🌛#Devano97