Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Beri Aku Waktu



"Apakah Kak Dev mencintaiku?" tanya Safira sambil tersenyum menguatkan dirinya sendiri.


Dev diam mendengar pertanyaan itu, ia tidak menyangka, kalau hal itulah yang menjadi keraguan dalam diri Safira sekarang.


"Beri aku sedikit waktu lagi," jawab Dev.


Dev menahan tubuh Safira yang hendak turun dari kasur. Pria itu memeluk tubuh Safira erat, tidak memberikan kesempatan pada Safira untuk lepas dari pelukannya.


'Bukannya aku tidak mencintaimu, Sa. Kuakui, aku mulai mencintaimu, jauh sebelum aku mengambil hakku, tapi, aku masih menunggu waktu dan momen yang tepat untuk mengungkapkannya. Agar kau selalu mengingat dalam hati dan pikiranmu, bahwa aku memiliki cinta yang hanya untukmu, hanya untuk dirimu!' Batin Dev. Dev terus memeluk tubuh Safira, kini, ia bisa merasakan ada tetesan air yang jatuh di atas dadanya.


"Kau menangis?" Dev memegang kedua pipi Safira, menatap netra indah yang mengeluarkan air mata berharga istrinya itu.


"Aku ingin mandi," jawab Safira, ia bahkan memejamkan matanya agar tidak bersitatap dengan Dev.


"Ayo!" Dev bangkit lalu menggendong tubuh Safira menuju kamar mandi. Safira hanya diam dan menurut saja.


Dev dengan penuh hati-hati menurun tubuh Safira, lalu menyiapkan air untuk wanita itu.


"Berendamlah! Aku akan membersihkan diriku juga," ucap Dev lalu melangkah menjauh dari Safira. Pria itu berdiri di bawah guyuran air yang membasahi seluruh tubuhnya. Sementara Safira, wanita itu merendam dirinya di dalam bak mandi sambil memejamkan matanya.


'Apakah aku terlalu egois padanya? Tapi aku juga butuh kepastian atas semua ini, selama ini, hanya aku yang mengakui perasaanku padanya, hanya aku yang memanggilnya dengan panggilan istimewa, tapi dia? Dia bahkan tidak pernah mengatakan apapun padaku, dia hanya berjanji untuk mencintaiku. Dan entah, apakah cinta itu sekarang sudah ada untukku.' Batin Safira.


Keduanya insan itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Dev sibuk memikirkan dan mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, sedangkan Safira, ia sibuk memikirkan perasaan Dev padanya.


☆ ☆ ☆


15 menit berlalu.


Safira sudah selesai dengan ritual mandinya, kini ia melangkah mendekati pintu kamar mandi. Saat Safira hendak membuka pintu, saat itu juga Dev membukanya dan berdiri sambil menatap Safira.


Dev menatap Safira cukup lama, lalu mengangkat tubuh wanita itu, menurunkannya di tepi kasur.


"Aku ada meeting penting pagi ini, jadi aku tidak bisa sarapan denganmu," ucap Dev sambil membenarkan dasinya.


"Jaga dirimu, jika ingin keluar, keluarlah. Tapi ingat, jangan keluar dengan pria lain di belakangku," lanjut Dev. Pria itu menunduk lalu mencium kening Safira cukup lama.


Dev melangkah mendekati pintu kamar, dan kembali menoleh untuk melihat wajah Safira sebelum ia benar-benar keluar dari kamar itu.


"Ingat sarapanmu! Bibi Laras akan sampai jam delapan nanti," ucap Dev lalu menghilang di balik pintu kamar.


"Kak Dev, apakah pertanyaanku menjadi beban bagimu? Apakah salah jika aku menanyakan hal itu padamu?" gumam Safira sambil melilit ujung jubah mandi yang ia kenakan.


Safira menatap sekitar kamar yang sudah didekorasi ulang, dan ada beberapa foto yang terpajang di sana. Salah satunya, foto Safira dan Dev saat bermain di danau buatan. Entah siapa yang mengambil foto itu, sampai foto itu terpajang sekarang di dinding kamar mereka.


Safira berjalan mendekati lemari baju, ia mengambil kaos berwarna abu polos dan juga celana jeans. Safira berniat untuk mengunjungi kafe dan juga membeli beberapa persedian bahan makanan yang sudah habis.