Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano & Safira (9)



Pukul 07.15


Semua menu sarapan sudah tersaji di atas meja makan. Jimmy dan Davin juga sudah pulang beberapa menit yang lalu.


Kini semua duduk di meja makan, bersiap untuk menyantap menu sarapan yang dihidangkan oleh seorang Devano Pranata Yoga. Davin dan Safira saling melirik, keduanya sedang menatap ekspresi aneh Dev setelah mencicipi masakannya sendiri.


"Tidak buruk, makanlah, kujamin kalian semua jatuh cinta pada masakanku," ucap Dev bangga, setelah mencicipi rasa masakannya.


'Ya, Tuhan....Ini benar Kak Dev-ku kan? Terimakasih, Tuhan. Terimakasih karena sudah mengembalikan Devano kami.' Batin Davin. Gadis itu terus tersenyum menatap sang Kakak.


"Hari ini, kita akan berkunjung ke rumah utama! Ayah dan Ibu sudah pulang tadi malam," ucap Dev disela-sela sarapannya. Davin dan Safira hanya menganggguk patuh. Begitu pula dengan Jimmy.


Usai sarapan dan bersih-bersih dapur. Dev dan Safira naik ke kamar mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah keluarga besar Pranata.


Dev mandi terlebih dahulu. Sedangkan Safira menyiapkan baju untuknya.


Beberapa menit kemudian. Dev keluar dari kamar mandi, dan langsung meraih baju yang Safira siapkan.


"Astaga!" Safira memutar tubuhnya membelakangi Dev. Dev hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku Safira. Dengan santainya, Dev membuka lilitan handuk dipinggangnya, memakai semua bajunya di belakang Safira.


"Sudah," ucap Dev memberi tahu. Safira kembali memutar tubuhnya menghadap Dev.


"Keringkan rambutku!" lanjut Dev lalu memberikan handuk putih kecil pada Safira.


Safira tersenyum mengambil handuk itu, ia pun mendekat ke arah Dev.


"Menunduklah, Kak!" ucap Safira dan langsung mendapat tatapan tajam dari Dev.


"Maaf, maksudku, menunduklah, Sa-sayang," lanjut Safira dengan wajah yang bersemu merah.


'Hahaha, kau lucu sekali!' Batin Dev dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Sudah selesai, Ka....Sayang." Safira mundur satu langkah dari hadapan Dev. Dan Dev pun maju satu langkah mendekati Safira.


"Kau punya utang padaku!" bisik Dev menggoda.


"U-utang? Utang apa, Sa-sayang?" tanya Safira bingung.


"Tadi, kau melakukan kesalahan lagi. Tapi tidak apa, aku akan menghukummu nanti malam!" jawab Dev tersenyum miring.


'Ya, Tuhan....Apa ini? Kenapa seperti ini?!' Batin Safira.


☆ ☆ ☆


Di kediaman keluarga Pranata.


Semua sudah berkumpul di sana. Mulai dari Kamila dan Keluarga kecilnya. Sampai dengan Ken, Keisha, dan juga Nathan, putra tunggal mereka. Mereka kini duduk di taman utama, lengkap dengan Aldy dan juga Jessica.


Semua tersenyum saat mobil Dev dan juga motor Davin terparkir di halaman utama. Dev keluar terlebih dahulu, pria itu membukakan pintu mobil untuk Davin, lalu menggenggam tangan wanita itu dengan erat.


"Bibi Kamila, Bibi juga di sini?" Davina berlari ke arah Kamila dan juga Erika. Gadis itu duduk di tengah-tengah mereka.


"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Kamila pada Davin yang sudah menempel padanya.


"Hehehe, kabarku baik. Bagaimana dengan Bibi?"


"Bibi juga baik," jawab Kamila tersenyum.


"Dev? Safira? Kalian berdua kenapa? Duduklah!" Kini Jessica yang membuka suara. Jessica tersenyum lalu menarik tangan Dev dan Safira. Membuat keduanya duduk di samping Jessica.


"Kalian berdua apa kabar?" tanya Ken. Dev dan Safira menoleh ke arah pria itu.


"Kami baik, Paman. Bagaimana dengan Paman Ken dan Bibi Keisha?"


"Kami juga baik, Dev. Senang melihatmu kembali tersenyum," jawab Keisha mewakili Ken. Dev dan Safira hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Nathan! Kau ikut denganku! Ada yang akan kutunjukkan padamu!" Davin berdiri lalu menarik paksa lengan Nathan, keduanya berjalan memasuki rumah utama.


"Mommy, aku mau masuk, di sini panas," keluh Erika pada Kamila. Kamila tersenyum menatap putrinya itu, lalu menyuruh Erika untuk masuk ke dalam rumah utama.


Suasana hening untuk sesaat. Jessica, Aldy, Ken dan Keisha menatap ke arah Dev dan Safira secara bersamaan. Mereka berempat saling bertukar pandang sekarang.


"Hemm! Bisakah kau melepaskan tangan Safira sebentar saja?!" Sindir Aldy pada putranya itu.


"Kami tidak akan merebutnya darimu," timbal Ken menggoda. Sementara yang digoda hanya menampakkan senyum, tanpa berniat melepaskan apa yang ia genggam sekarang.


'Aaaa, malunya aku....' batin Safira berteriak.


"Sa?" Panggil Jessica yang sejak tadi memperhatikan ekspresi wajah Safira.


"I-iya, Bu?" Safira mendongak menatap Jessica.


"Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa kau sakit?" tanya Jessica sambil menatap Dev dan Safira bergantian.


'Aku tidak sakit, ibu mertua....Aku hanya malu karena ulah putramu ini.....' jawab Batin Safira.


"Kau sakit, Sa?" Kini Dev yang bertanya pada Safira.


"Tidak, Ka....." Safira diam sejenak. Ia menatap Dev, lalu menatap Aldy, Jessica, Ken dan Keisha.


"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja, hanya sedikit kepanasan," lanjut Safira beralasan.


'Nggak apa-apa dapat hukuman, yang penting hukumannya bukan cerai atau poligami.' Batin Safira.


Akhirnya, setelah mendengar jawaban dari Safira yang kepanasan. Mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah utama, dan melanjutkan bicara di dalam ruang keluarga.


☆ ☆ ☆


Satu jam kemudian.


Dev dan Safira pamit untuk pulang. Karena masih banyak hal yang harus mereka lakukan hari ini.


"Hati-hati di jalan, dan semoga Tuhan selalu melindungi kalian," ucap Jessica setelah mobil yang ditumpangi Dev dan Safira melaju keluar dari halaman utama.


"Kak Dev?" panggil Safira, membuat Dev menatap ke arahnya, dengan tatapan yang begitu tajam.


"Kau sudah melakukan kesalahan lebih dari seratus kali! Apakah kau tidak takut dengan hukumanku?" Dev tersenyum miring.


"Maaf, Sa-sayang. Maafkan aku..." lirih Safira mendrama.


"Tidak ada kata maaf untuk kali ini! Bersiaplah untuk menerima hukumanmu nanti malam!" jawab Dev lalu menyadarkan kepalanya dan memejamkan matanya.


Sementara Jimmy, pria itu hanya tersenyum mendengar percakapan dua makhluk di kursi belakangnya.