
"Safira? Kau belum tidur?" ucap Dev dengan suara yang masih berat.
"Aku baru saja terbangun, Kak."
"Apa cara tidurku membuatmu tidak nyaman? Sampai kau terbangun tengah malam seperti ini?" tanya Dev lalu bangun dari tidurnya.
"Tidak, Kak. Aku tadi hanya ingin ke kamar mandi," jawab Safira masih dengan kepala tertunduk, dan juga tubuh yang membelakangi Dev.
"Tidurlah, kau pasti sangat lelah." Dev menyentuh pundak Safira. "Aku tidak akan memarahimu lagi, jika kau tidur dengan cepat," lanjutnya sambil tersenyum samar.
Safira pun mengangguk, lalu kembali membaringkan tubuhnya di dekat Dev. Sementara Dev, ia malah melangkah turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian. Dev keluar, kini ia mendapati Safira sudah tertidur sambil memeluk boneka beruangnya. Dev pun melangkah mendekati wanita itu, dan membaringkan dirinya di samping Safira.
"Maaf, Sa. Aku tau, kau pasti sangat tersakiti dengan semua ini. Dan aku berjanji, aku berjanji akan mencoba membuka hati untukmu, dan mencoba menyimpan Aurora ke dalam memori lamaku," ucap Dev. Pria itu kembali memejamkan matanya, lalu melingkarkan tangannya pada tubuh Safira.
☆ ☆ ☆
Jam 05.40
Safira terbangun oleh dering alarm Hpnya. Ia kembali mengerutkan dahinya, saat melihat tangan Dev kembali memeluk tubuhnya.
Safira bergerak dengan pelan, lalu memindahkan tangan Dev, dan membiarkan pria itu memeluk boneka beruangnya.
"Lebih baik aku mandi dan langsung turun untuk menyiapkan sarapan untuk Kak Dev dan juga Davin," ucap Safira lalu melangkah menuju kamar mandi.
15 menit kemudian. Safira keluar dengan tubuh yang hanya ditutupi handuk putih selutut. Ia pun berjinjit mendekati lemari untuk mengambil pakaiannya. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Safira kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaiannya.
Beberapa menit berlalu. Safira kembali keluar dari kamar mandi, lalu melangkah mendekati pintu kamar.
"Kau mau kemana?" tanya Dev yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Dapur, Kak," jawab Safira lalu membuka pintu dan melangkah menuruni tangga.
Safira mengetuk pintu kamar Davin, bermaksud membangunkan gadis itu terlebih dahulu, sebelum ia memasuki dapur.
"Davin....Bangun dan mandilah," ucap Safira sedikit berteriak. Safira pun melangkahkan kakinya menuju dapur, setelah ia mendapat sahutan dari Davin.
☆ ☆ ☆
Jam kini menunjukkan pukul 07.05
Dev, Davin, dan Jimmy pun sudah duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Pagi ini, Safira memasak dua porsi nasi goreng pedas, untuk Jimmy dan Davin. Dan juga beberapa potong sandwich khusus untuk Dev. Sementara menu sarapan untuk dirinya sendiri? Dia lupa!
"Kak Safira tidak sarapan?" tanya Davin sambil melirik Dev dan Safira secara bergantian.
"Tidak, kalian duluan saja. Masih banyak hal yang belum Kakak kerjakan," jawab Safira lalu melangkah keluar dari dapur, dan berjalan menuju halaman depan untuk menyiram bunga dan menyapu halaman.
Beberapa menit kemudian. Dev, Jimmy dan Davin kini sudah selesai dengan sarapan mereka. Mereka pun berjalan secara bersamaan menuju halaman depan.
"Tinggalkanlah semua itu, dan masuklah untuk sarapan. Aku sudah membuat roti bakar dan juga susu hangat untukmu," bisik Dev pada Safira yang masih sibuk menyapu halaman.
"Selesaikan ini dulu, Kak. Setelah itu, aku akan masuk untuk sarapan."
"Sarapan atau ciuman!" Ancam Dev masih dengan berbisik.
"Baiklah." Safira pun melepas sapunya lalu melangkah memasuki rumah, dan langsung mencuci tangannya untuk sarapan.
"Hati-hati di jalan. Ikuti peraturan lalu lintas, dan jangan lupa pakai helm-mu!" ucap Dev memperingati adiknya yang selalu membuat masalah dengan polisi lalu lintas.
"Siap, Komandan." Davin tersenyum lalu memanaskan motornya. Sementara Jimmy dan Dev langsung memasuki mobil mereka dan langsung melaju menuju perusahaan.
'Awal yang bagus. Devano kami kembali, dan Kak Safira akan segera mendapatkan balasan cinta dari Kak Dev. Sungguh TakdirMu sangat indah, Tuhan. Kau selalu memberikan kebahagiaan setelah kesedihan yang mendalam.' Batin Davina.