Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Davina Pranata Yoga (5)



Davina membuka helm yang ia kenakan, sambil tersenyum membayangkan wajah tampan si pemilik helm yang sebenarnya. Gadis itu bersenandung ria, ia bahkan terus menentang helm itu sampai ke dalam ruang utama.


"Davin?" panggil Kamila pada Davin. Davin pun menoleh ke arah Kamila, dan langsung berlari menghampiri bibi tercintanya itu.


"Bibi kapan datang?" tanya Davin sambil menatap wajah Kamila.


"Tadi pagi," jawab Kamila tersenyum. Kamila menatap Davin cukup lama, sepertinya ada yang aneh dengan keponakannya itu.


"Apakah tuan putri yang dingin ini sedang jatuh cinta?" goda Kamila. Davin hanya tersenyum malu saja.


"Baiklah, seperti aku sudah tau jawabannya," lanjut Kamila tersenyum. Kamila mendorong tubuh Davin menjauh darinya, lalu meminta Davin untuk segera membersihkan tubuhnya yang masih berkeringat.


"Husss, kau bau sekali!" ejek Kamila sambil tertawa kecil.


"Baiklah, aku mandi dulu, setelah itu, aku akan menceritakan sesuatu pada Bibi," ucap Davin lalu diam sejenak sambil menatap Kamila. "Ini rahasia," lanjut Davin berisik.


"Oke, rahasiamu akan aman! Sekarang cepat naik dan bersihkan dirimu, bibi akan menunggumu di taman belakang!"


Davin pun kembali melanjutkan langkahnya mendekati tangga. Gadis itu terus tersenyum sambil mengayunkan helm yang ia pegang sejak tadi.


"Nah, kau di sini dulu," ucap Davin sambil meletakkan helm tadi di atas meja belajarnya. Gadis itu pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Usai mandi dan berganti baju. Davin kini melangkah keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan berjalan menuju taman belakang. Ditaman belakang sudah ada Kamila, dan juga Ibunya. Kedua wanita itu sedang duduk sambil menikmati susu coklat hangat mereka.


"Ibu, Bibi?" ucap Davin lalu mendudukkan dirinya di samping Jessica. Jessica dan Kamila pun tersenyum pada gadis itu.


"Ada apa, Sayang? Kau terlihat begitu bahagia hari ini? Apakah Ibu tertinggal kabar bahagia darimu?" goda Jessica. Davina hanya bisa tersenyum malu pada Ibu dan juga Bibinya itu.


"Tidak ada, Bu. Aku hanya sedang bahagia saja," jawab Davin. Gadis itu terus menatap Kamila, dan memberi kode pada Bibinya itu.


Jessica menatap Kamila dan Davin bergantian. Ia pun mengerti apa yang diinginkan anak bungsunya itu. Jessica berdiri lalu berjalan memasuki rumah utama.


"Bibi, aku takut menceritakan ini pada Ibu, aku takut Ibu dan ayah marah padaku," ucap Davin setelah Jessica benar-benar masuk ke dalam rumah utama.


"Bibi mengerti, kau tidak perlu takut pada Bibi, Bibi tidak akan mengatakan apapun pada ayah dan ibumu," jawab Kamila tersenyum.


"Emmm, Bibi? Bolehkah aku bertanya tentang Bibi dan Paman Jack?" tanya Davina hati-hati.


"Aku hanya ingin tau, dimana Bibi dan Paman bertemu pertama kali, dan bagaimana cerita cinta kalian?" lanjut Davin bertanya.


"Kami bertemu di sebuah kafe, saat itu, Bibi dan Ibumu sedang makan siang. Dan paman Jack, dia datang dengan senyum yang begitu manis dan tatapan mata yang begitu hangat. Sangat berbeda dengan Ayah dan Ibumu, apalagi dengan Kak Ken," ucap Kamila sambil tersenyum mengingat masa-masa indah itu.


"Apakah Ayah mengizinkan Bibi untuk pacaran dulu?" tanya Davin.


Kamila kembali tersenyum. Ia masih ingat, bagaimana perjuangannya dan Jack untuk mendapatkan restu dari Jessica dulu. Dan bagaimana awal Aldy merestui hubungannya dan Jack.


"Semuanya terlalu indah, dan terasa begitu melekat dalam ingatan Bibi," ucap Kamila. Davin hanya tersenyum mendengarnya.


"Ayahmu dulu adalah orang yang sangat dingin, lebih dingin dari yang kau lihat sekarang. Begitu pula dengan Ibumu, dia adalah wanita tangguh dengan hati yang lemah lembut dan sikap lemah lembut itu masih terlihat sampai sekarang," lanjut Kamila.


"Ibu dan Ayahmu selalu melakukan yang terbaik untuk Bibi, keduanya selalu menjaga perasaan Bibi. Tidak rela melihat Bibi menangis apalagi sampai menangisi seorang pria."


"Bibi benar-benar bersyukur atas semua ini. Jika mengingat dan menceritakan semua kenangan indah itu, mungkin tidak akan selesai sampai matahari kembali muncul dari arah timur," ucap Kamila.


Suasana hening sesaat.


"Bibi, aku, aku rasa, aku mulai menyukai seseoran," ucap Davin dan langsung tertunduk.


"Siapa?" tanya Kamila penasaran.


"Emmm, namanya Hen-henry," jawab Davin dengan pipi yang sudah memerah.


"Teman kuliahmu?"


Davin menggeleng. "Bukan, dia, dia terlihat sudah dewasa, dan aku tidak tau, dia tiba-tiba sering bermunculan disekitarku."


Kamila terdiam mendengar itu. Kini hanya satu hal yang ia pikirkan. Apakah pria yang bernama Henry itu adalah orang yang memiliki niat baik atau malah sebaliknya.


"Bibi?" panggil Davin, membuat Kamila tersadar dari lamunannya.


"Apakah pria itu tau, kalau kau memiliki darah yang sama dengan Dev?" tanya Kamila. Davin pun langsung menggeleng.


"Kurasa tidak, karena kulihat dia memandangku seperti wanita pada umumnya. Tanpa melihat aku anak siapa," jawab Davin.


Davin mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Henry. Pertemuan dikafe, dimall, diminimarket, dan juga pertemuan beberapa jam yang lalu.


Kamila hanya tersenyum mendengar semua cerita Davin. Wanita itu kini menatap Davin, meminta maaf pada Davin di dalam hatinya. Karena bagaimana pun, Kamila harus menceritakan semua ini pada Aldy dan Jessica. Ini semua demi keamanan Davin, dan ia tidak berniat menghalangi Davin untuk mencintai siapapun, asalkan dia bahagia dengan cintanya itu.