
Di ujung kota sana.
Henry turun dari motornya, sambil terus menyebutkan nama Davin. Sepertinya, Henry benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Davin. Pria itu memasuki rumahnya, mendudukkan dirinya di depan sebuah TV tua.
"Matamu...tak bosan kupandang...." ucap Henry bernyanyi tanpa sadar. Henry pun membuka kotak Hpnya, memeriksa Hp yang baru saja ia beli itu.
Bastian yang baru keluar dari kamar langsung berjalan mendekati Henry, kakaknya. Bastian menepuk pundak Henry pelan.
"I love you, Davin!" ucap Henry yang terkejut, membuat Bastian langsung mengerutkan dahinya mendengar ucapan langka kakaknya itu.
"Siapa Davin? Jangan-jangan...." goda Bastian sambil tersenyum mengejek.
"Sudah, sudah, jangan ganggu aku!" jawab Henry. Ia kembali fokus pada Hp barunya.
"Kak!" Bastian mendudukkan dirinya di samping Henry. "Mau kah kau membantu aku untuk mendapatkan cinta pertamaku?" lanjut Bastian sambil menatap wajah serius Henry.
"Usaha sendiri!"
"Ayolah!" ucap Bastian memelas. Karena jujur saja, nyali Bastian sempat menciut setelah mengetahui, siapa suami Safira yang sebenarnya.
"Hmmm, katakan! Apa yang harus kulakukan?!" Henry meletakkan Hpnya lalu menatap Bastian, yang terpaut usia lima tahun dengannya.
Bastian semakin mendekat, lalu membisikkan sesuatu pada sang Kakak.
"Yang benar saja?! Kita ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengannya! Sudahlah! Lupakan cinta pertamamu itu! Dan carilah wanita lain di luar sana!" ucap Henry. Pria itu kembali mengambil Hpnya, dan memainkannya.
"Tunggu dulu!" Henry berpikir sejenak. "Jadi, selama ini kau menyukai Safira?!" lanjutnya dengan ekspresi wajah yang sangat sulit diartikan.
"Hmmm, dia cinta pertamaku sejak SMA!" jawab Bastian lalu tersenyum saat bayangan Safira terlintas di pikirannya.
"Lupakan saja dia, sama seperti aku yang sudah melupakannya!"
"Tidak, aku hanya suka padanya tidak mencintainya!" Bantah Henry.
"Sama saja!" ucap Bastian sambil menatap sang Kakak dengan tatapan yang begitu tajam.
"Tapi aku sudah menemukan gantinya sekarang, karena aku tau, aku tidak pantas untuk mendampinginya, apalagi untuk MEREBUT nya dari Devano!" jawab Henry penuh penekanan pada kata merebut.
"Tapi mereka tidak saling mencintai! Maka aku masih punya peluang untuk mendapatkan Safira-ku!" ucap Bastian tak mau kalah.
"Terserah! Lakukan apa saja yang kau ingin lakukan! Dan satu lagi, aku tidak akan mendukung usahamu yang satu ini!" Henry berdiri lalu melirik sekilas pada Bastian yang terlihat kesal karena ucapannya.
"Berpikirlah sebelum bertindak! Agar kau tidak menyesal nantinya!" ucap Henry lalu pergi, meninggalkan Bastian yang masih memikirkan kembali semua keputusannya.
'Aku akan mencobanya terlebih dahulu, jika memang Safira mencintai Devano, maka aku akan membiarkan mereka tetap bersama, dan jika tidak! Aku akan berusaha untuk mendapatkan cinta Safira-ku!' Batin Bastian berencana.
☆ ☆ ☆
Di rumah Devano dan Safira.
Davin membuka pintu utama sambil bersenandung ria. Gadis itu terus bersenandung tanpa memperdulikan tatapan aneh dari Jimmy dan juga Kakaknya.
"Selamat sore, Kak Dev, Kak Jimmy," sapa Davin lalu berjalan menuju kamarnya. Gadis itu meletakkan tasnya lalu menbaringkan dirinya di atas kasur.
"Kenapa aku jadi teringat Om tadi, ya? Ah, jangan bilang aku tersihir oleh senyuman manisnya itu?!" gumam Davin sambil berguling-guling tak jelas di atas kasurnya. Sampai,
Brukk....
Davin terjatuh dari atas kasur, dengan posisi kepala yang menjadi bawah. Sedangkan salah satu kakinya masih berada di atas kasur.
"The Sihir of Om-Om tampan!"