Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Davina Pranata Yoga (8)



Flashback!


Davin menatap sekeliling kamarnya, lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


Davin meraih tasnya, gadis itu memutuskan untuk tidak membawa Hp dan juga kunci motornya. Karena, Davin sudah berniat untuk pergi selama beberapa hari, ini semua ia lakukan untuk menenangkan pikirannya, dan juga untuk merenungi semua kesalahan yang telah ia lakukan pada Ayah dan Ibunya. Kesalahan yang ia sengaja ataupun tidak.


Gadis itu menutup pintu kamarnya, berjalan menuruni tangga. Davin pamit pada Aldy dan Jessica. Namun, ia hanya pamit untuk ke kampus, tanpa mengatakan apapun tentang semua rencananya.


"Hati-hati, Sayang!" teriak Jessica. Davin hanya mengangguk, lalu melangkah keluar dari rumah utama.


Davin meminta seorang pengawal untuk mengantar dirinya ke kampus, pengawal itu pun menuruti kemauan Davin, tanpa menaruh curiga pada gadis itu.


Sesampainya di kampus, Davin langsung masuk untuk mengikuti kelas paginya. Usai kelas itu berakhir, barulah Davin berpamitan


pada Agnes dan juga Pretty.


"Aku harus pergi untuk beberapa hari kedepan, kumohon, jangan katakan apapun pada ayah dan ibuku," ucap Davin sambil memegang bahu Agnes.


Agnes berpikir sejenak. "Kau mau kemana, Davin?" tanya Agnes khawatir.


"Aku tidak akan pergi jauh, kalian tenang saja, aku pasti akan kembali," jawab Davin tersenyum.


"Davin, pikirkan dulu dengan matang-matang! Jangan kabur seperti ini!" lirih Pretty.


"Ini demi masa depanku, aku hanya ingin menenangkan pikiranku! Kumohon dukung aku! Dan berjanjilah untuk tidak memberitahu ayah dan ibuku!"


"Baiklah."


" Kau hati-hati di jalan, kami pasti akan merindukanmu," lanjut Agnes mewakili Pretty.


"Terimakasih." Davin tersenyum lalu melangkah keluar dari kampusnya.


Davin berjalan kaki ke arah timur, ia sudah menentukan tempat mana yang akan ia tinggali untuk sementara ini. Gadis itu menghentikan sebuah taksi, lalu meminta taksi itu untuk menghantarnya sampai tujuan.


* * *


1 jam kemudian.


Taksi itu berhenti dipinggir kota sebelah, tepatnya di sebuah desa, yang dikenal dengan keramahan penduduk dan juga alamnya.


Davin turun dari taksi itu, lalu melangkah memasuki desa yang pernah ia kunjungi beberapa tahun yang lalu.


"Kak Davin? Apa yang Kakak lakukan di sini?" tanya seorang gadis yang kira-kira berusia 14 tahun itu.


Gadis itu masih menggunakan seragam SMP-nya.


"Aku ingin bertemu dengan Ibumu? Apakah kau bisa mengantarku?" ucap Davin. Gadis itu pun mengangguk lalu berjalan di samping Davin, sambil memperbaiki tasnya.


"Kau tidak sekolah?" tanya Davin.


"Tidak, Kak. Aku bolos," jawab gadis itu dengan polosnya.


"Kenapa?"


"Nanti siang ada tawuran, jadi, kuputuskan untuk pulang dari sekarang," jawabnya.


Davin hanya menggelengkan kepalanya saja.


Tidak butuh waktu yang lama, kini keduanya sudah sampai di depan rumah yang terbuat dari kayu. Gadis itu masuk terlebih dahulu, ia berteriak memanggil Ibunya, memberitahu pada sang Ibu, bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan dirinya.


"Davina?" ucap Zia. Ya, Zia adalah Ibu dari gadis tadi. Gadis itu bernama Almira.


"Silakan masuk, kenapa masih mematung disitu?" lanjut Zia tersenyum.


"Kau datang dengan siapa?" tanya Zia, setelah Davin duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu.


"Sendiri, Bi."


"Bibi, aku ingin menyewa kontrakan, apakah Bibi tau dimana aku bisa mendapatkannya?" lanjut Davin bertanya.


"Kontrakan? Disini ada, tapi, untuk apa kau menyewanya? Jika kau ingin, kau bisa tinggal di sini bersama kami," jawab Zia tersenyum.


"Tidak, Bi. Aku ada beberapa urusan di sini, dan aku tidak ingin merepotkan Bibi." Davin mulai tertunduk.


"Apakah Kak Jessica tidak mengatur semua kebutuhanmu?" tanya Zia. Karena Zia mulai merasa ada yang aneh dengan Davin.


"Ibu, ibu dan ayah tidak tau aku disini," lirih Davin.


Zia dan Almira terdiam mendengarnya.


"Davina? Sebaiknya kau beri tahu dulu Ibu dan Ayahmu," ucap Zia menasihati.


"Tidak bisa, Bi....Aku hanya ingin tinggal beberapa hari di desa ini, aku ingin mencari pengalaman baru saja." Davin diam sejenak.


"Aku juga ingin menata kembali jati diriku, aku ingin menjadi gadis yang lebih baik dari sekarang," lanjut Davin tersenyum perih.


Zia kembali terdiam. Ia mencoba untuk mengerti Davin, dan mencoba membantu Davin semampunya.


* * *


"Tinggallah disini, ini juga rumah Bibi, jika kau butuh apa-apa, maka datanglah pada Bibi, pintu rumah Bibi selalu terbuka untukmu," ucap Zia tersenyum.


Kini Zia dan Davin sudah berada di depan sebuah rumah, yang ukurannya lebih kecil dari rumah kayu sebelumnya.


"Terimakasih, Bi," ucap Davin sambil memeluk tubuh Zia.


Flashback Off!


Jessica menatap Aldy sambil menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tau harus mencari Davin kemana lagi.


Aldy bahkan sudah mendatangi semua rumah teman Davin. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui dimana Davin sekarang.


"Sayang? Sebaiknya kita laporkan saja pada polisi," lirih Jessica.


"Tidak, Sayang....Aku yakin, kita akan menemukan Davin secepatnya," tolak Aldy, karena Aldy memang tidak ingin polisi yang mencari keberadaan putrinya, ia tidak ingin ada wartawan ataupun media lain yang mengetahui tentang hilangnya Davin.


"Sekarang kita pulang! Jack, Dev, dan juga Jimmy sudah menebar semua pengawal, mereka akan segera membawa Davin kembali pada kita," ucap Aldy, Jessica hanya bisa mengangguk pasrah.


'Kembalilah, Sayang....Ibu dan Ayah tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak padamu," Batin Jessica.


* * *


"Hallo, Jimm?!" ucap Dev pada Jimmy di seberang sana.


"Iya, Tuan?"


"Bagaimana? Apakah kau sudah mencari tahu tentang Henry?"


"Sudah, Tuan. Henry tidak terlibat apapun, dia bahkan tidak mengetahui tentang kepergian Nona Davin."


"Bagaimana dengan teman-teman kuliahnya?" tanya Dev.


"Mereka juga tidak tau, Tuan. Tapi, mereka semua mengaku melihat Nona Davin saat pagi harinya. Dan setelah itu, tidak ada yang tau, kemana Nona pergi."


"Baiklah, tetap awasi pergerakan Henry! Dan masalah Davin, aku sudah menyuruh para pengawal untuk menyebar dan mencari keberadaannya, sampai ke kota sebelah," ucap Dev dan langsung memutuskan sambungan secara sepihak.