
Jam 07.07 pagi.
Safira keluar dari kamar mandi sambil menyanyikan sebuah lagu, lagu yang Safira nyanyikan memiliki makna yang begitu dalam. Sampai membuat seorang Devano terdiam mendengarnya.
"Kita akan ke rumah sakit pagi ini, jadi bersiap-siaplah!" ucap Dev saat Safira sudah menyelesaikan lagunya.
"Siapa yang sakit, Kak?" tanya Safira lalu melangkah mendekati kamar mandi, ia hendak memakai bajunya di sana.
"Sudah, jangan banyak tanya! Sekarang pakai bajumu, aku akan menunggumu di sini."
Dev melangkah mendekati meja kerjanya. Sementara Safira masuk ke dalam kamar mandi, sambil mengulangi ucapan Dev tadi.
"Sudah, jangan banyak tanya! Sekarang pakai bajumu! Aku akan menunggumu di sini!" ucap Safira menirukan ucapan Devano tadi.
* * *
Safira keluar dari kamar mandi, kini ia sudah memakai semua pakaiannya, dan juga menyisir rambutnya dengan rapi. Safira mengedarkan pandangan mencari Dev, pria yang mengatakan akan menunggu dirinya tadi.
"Kak Dev?" teriak Safira mencari Dev. Safira pun membuka pintu kamar, dan langsung menuruni tangga menuju lantai dasar.
"Kau sangat lama, Sayang! Aku sampai lumutan menunggumu di kamar!" ucap Dev saat melihat Safira melangkah mendekatinya, Safira kini memasang wajah cemberutnya.
"Dasar pria!" gerutu Safira. Safira pun mendudukkan dirinya di samping Dev. Namun, aroma tubuh Dev tiba-tiba saja membuat dirinya mual, dan ingin mengeluarkan semua isi perutnya.
Safira berlari sambil menutup mulutnya, ia menjauh, sejauh-jauhnya dari Dev dan juga Jimmy. Membuat kedua pria itu menatap ke arahnya, dengan tatapan bingung dan juga aneh.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Dev. Dev pun bangkit dan berjalan mendekati Safira. Berbeda dengan Safira, ia malah semakin menjauh dari Dev. Safira masuk ke dalam dapur dan langsung mendudukkan dirinya di meja makan.
"Jangan mendekat, Kak! Aku tidak suka mencium bau tubuhmu!" tegas Safira.
Dev langsung mencium aroma tubuhnya sendiri. Tidak ada yang salah dengan aroma tubuhnya, bahkan Dev baru saja mandi dan berganti baju setengah jam yang lalu.
"Jangan mendekat!" teriak Safira. Safira kembali menutup hidung dan juga mulutnya. Beberapa menit kemudian, wanita itu berlari ke arah meja dapur. Ia memuntahkan semua isi perutnya tepat di wastapel dapur.
"Sayang?" Dev berlari mendekati Safira, memijit tengkuk wanita itu.
Safira mendorong dada Dev menjauh darinya. Ia kembali memuntahkan isi perutnya, sampai perutnya terasa kosong dan wajahnya mulai memucat.
Laras berlari memasuki dapur, kini wanita itu yang membantu Safira untuk berjalan mendekati meja makan. Laras meminta Safira untuk duduk, ia pun langsung membuatkan susu coklat hangat untuk Safira.
Sementara itu, Jimmy sudah menyiapkan mobil untuk Dev dan Safira. Jimmy pun mendekati Dev, mengusulkan untuk segera membawa Safira menuju rumah sakit.
Dev kembali mendekati Safira. Namun, langkahnya langsung terhenti saat melihat Safira kembali menutup hidung dan mulutnya.
"Jangan mendekat, Kak!" lirih Safira.
Dev pun mengalah, ia juga tidak tega jika melihat Safira memuntahkan lagi isi perutnya.
"Panggil saja dokter Lin untuk ke sini!" ucap Dev pada Jimmy. Jimmy langsung mengeluarkan Hpnya dan menghubungi dokter pribadi keluarga Pranata itu. Jimmy juga meminta Dokter Lin untuk membawa alat tes kehamilan nantinya. Karena Jimmy mengerti apa yang terjadi pada Nyonya Mudanya sekarang.
* * *
15 menit kemudian.
Dokter Lin datang, lengkap dengan semua alat tempurnya. Wanita paruh baya itu pun berjalan menaiki tangga menuju kamar Dev dan Safira. Dokter Lin mengikuti langkah Jimmy yang berjalan di depannya.
"Silahkan, Dok," ucap Dev mempersilakan Dokter Lin untuk masuk. Dokter Lin pun tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya memasuki kamar itu.
Dokter Lin kembali tersenyum pada Safira yang terbaring di atas kasur, dengan wajah yang masih pucat. Dokter Lin pun memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah wanita itu, semuanya normal, tidak ada gejala sakit apapun pada tubuh Safira sekarang.
"Maaf, Nyonya, saya sudah memeriksa keadaan tubuh Nyonya, Nyonya baik-baik saja, dan...." Dokter Lin berhenti sejenak. Wanita paruh baya itu pun menatap ke arah Dev dan Jimmy secara bergantian.
"Anda sedang hamil, selamat atas kehamilan Anda. Selamat Tuan Muda, Anda akan menjadi seorang Ayah," lanjut Dokter Lin tersenyum.
Dev masih diam, mulutnya seakan terasa begitu kaku untuk mengucapkan satu kata saja. Tanpa terasa, pria itu pun mengeluarkan air mata bahagianya. Dev mendekati Safira yang masih terbaring, lalu memeluk tubuh wanita itu, dan mengucapkan terimakasih padanya.
"Agar lebih jelas lagi, Anda bisa menggunakan alat ini untuk memastikan semuanya," ucap Dokter Lin. Dokter itu memberikan alat tes kehamilan pada Safira.
Safira mengambil benda pipih itu, dengan sedikit senyuman menghiasi wajah pucatnya.
"Aku akan membantumu," ucap Dev dan langsung mengangkat tubuh Safira menuju kamar mandi.
Safira pun menampung air seninya di sebuah wadah kecil, dan mencelupkan ujung benda pipih yang ada ditangannya.
Dan benar saja apa yang Dokter Lin sampaikan tadi. Safira memang sedang mengandung sekarang, seusai dengan bukti yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan itu. Di alat itu terdapat dua garis merah.
'Terimakasih, Tuhan.' Batin Safira.
Safira pun membuang air seni yang ia tampung tadi, lalu mencuci wadah kecil itu. Safira membuka pintu, diperhatikannya wajah penasaran dari Dev, dan juga Jimmy. Sepertinya kedua pria itu ingin melihat buktinya sekarang juga.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Dev. Dev terus menatap Safira yang tidak kunjung memperlihatkan atau memberitahukan hasilnya.
"Aku, aku hamil, Kak," ucap Safira dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
Dev memeluk tubuh Safira, tanpa memperdulikan lagi Jimmy dan Dokter Lin yang masih berdiri di dekat mereka.
"Jimm, sebaiknya kita keluar dulu," ucap Dokter Lin. Jimmy pun mengangguk dan langsung melangkah keluar dari kamar itu.
"Terimakasih, Tuhan....Dan terimakasih, Sayang," ucap Dev. Pria itu melepaskan Safira dari pelukannya, mengangkat tubuh Safira, dan membaringkannya di atas kasur seperti semula.
"Kak Dev?" Safira meraih tangan Dev, menggenggam tangan itu dengan erat.
"Berjanjilah untuk selalu ada disisiku, dan jangan pernah tinggalkan dan lupakan aku," lirih Safira.
"Aku janji, Sayang...Aku akan selalu ada untukmu, dan tidak akan pernah meninggalkanmu," jawab Dev dengan nada yang begitu meyakinkan.
Dev mengelus kepala Safira, menciumi setiap inci wajah wanita itu. Safira hanya bisa memejamkan matanya, menikmati setiap kecupan hangat di wajahnya.
"Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya," bisik Dev.
Dev ikut membaringkan dirinya di samping Safira. Kedua makhluk itu benar-benar lupa dan tidak perduli lagi, dengan dua orang yang masih menunggu mereka di lantai dasar.
'Terimakasih, Tuhan. Terimakasih atas kebahagiaan yang Engkau berikan pada Tuan Muda Dev dan juga istrinya. Dan terimakasih atas kebahagiaan yang juga ikut terselip, disetiap duka yang Engkau berikan. Kami percaya, TakdirMu jauh lebih indah dari apa yang kami rencanakan sekarang.' Batin Jimmy. Jimmy menyandarkan kepala pada kursi kerjanya.
Tanpa disuruh ataupun diminta oleh Dev, Jimmy sudah melakukan semuanya terlebih dahulu. Pria itu sudah merangkum semua hal tentang ibu hamil. Mulai dari awal kehamilan sampai bagaimana cara merawat bayi yang benar. Hal ini Jimmy lakukan untuk memudahkan Tuannya dalam menghadapi dan menemani Safira nantinya.
~14 September 2020~
(23:58) #Devano97♥