
Kini, jam sudah menunjukkan pukul 19.00
Dev, Jimmy dan Safira sudah duduk di meja makan. Ketiga orang itu saling menatap satu sama lain. Mereka sedang menunggu Davina sekarang.
"Biar aku yang memanggilnya," ucap Safira. Ia berdiri dan melangkah menuju kamar Davin. Diketuknya pintu kamar gadis itu, namun tidak ada sampai ketukan ketiga. Membuat rasa khawatir menghantui hati Safira.
"Davin...." panggil Safira sambil mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Dan Davin berdiri di depan pintu sambil memegang perutnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Safira khawatir. Davin mengangguk lalu tersenyum tipis.
"Aku hanya sakit perut, mungkin efek kebanyakan makan makanan yang pedes," ucap Davin. Gadis itu keluar dari kamarnya lalu berjalan bersama Safira menuju dapur.
"Ada apa? Kenapa wajahmu sepucat itu?" tanya Dev sambil memperhatikan wajah Davin.
"Dia sakit perut, Kak," jawab Safira mewakili Davin yang terdiam seribu bahasa.
"Hmmm, belum sakit, maka belum akan berhenti makan cabenya!" Dev menghembuskan nafas pelan. Pria itu meminta Davin untuk duduk di meja makan, lalu berdiri untuk membuatkan susu hangat untuk gadis itu.
"Biar aku saja, Kak!"
"Tidak, kau duduk dan mulai makan malam terlebih dahulu! Jangan membantah atau...."
"Baiklah," potong Safira sebelum Dev mengeluarkan kata-kata ancamannya.
Dengan terpaksa, Jimmy dan Safira pun memulai makan malam mereka terlebih dahulu. Sementara Dev sibuk membuat susu hangat untuk Davina.
"Minumlah, dan jangan lupa minum obatnya!" ucap Dev. Ia menyodorkan segelas susu hangat pada Davin, dan juga beberapa butir obat sakit perut.
Setengah jam kemudian.
Davin sudah kembali ke kamarnya, Jimmy sudah pulang beberapa menit yang lalu. Kini hanya tersisa Dev dan Safira saja di dapur. Dev masih setia menunggu Safira membersihkan dapur, pria itu kadang duduk dan juga kadang berdiri di dekat Safira.
Setelah semua selesai, Safira pun mengajak Dev untuk naik dan istirahat di kamar. Dev mendengar apa yang Safira katakan, ia pun dengan patuh berjalan membututi Safira menaiki tangga.
Keduanya berbaring di atas kasur, setelah mengganti baju mereka dengan baju tidur yang berwarna senada. Dev memiringkan tubuhnya menghadap Safira, menatap wajah yang terlihat begitu menenangkan itu.
"Ada apa, Kak?" tanya Safira dengan nada yang terdengar begitu menggoda ditelinga Dev.
"Kurasa, ada yang perlu kita rubah mulai sekarang!" Dev bergeser mendekati Safira, menarik tubuh wanita itu agar masuk ke dalam pelukannya.
"Apa yang harus diubah?"
"Panggilanmu padaku!" jawab Dev, pria itu kembali memainkan daun telinga Safira.
"Geli, Kak!" Safira menahan tangan Dev, menggenggam tangan itu erat.
"Mulai sekarang, kau harus memanggilku Sayang!" Perintah Dev pada Safira.
"Sa-Sa-Sayang?" ucap Safira terbata. Kini jantungnya sudah berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Iya, seperti itu!" Dev menurunkan tubuhnya, sampai wajahnya dan wajah Safira sejajar.
"Aku akan belajar untuk mencintaimu, menjadikanmu satu-satunya wanita di dalam hatiku, dan hidupku," lanjut Dev dengan mata yang menatap netra Safira.
"Maaf, aku tau, kau sakit mendengar ini. Tapi aku berjanji, berjanji untuk belajar lebih baik dari sebelumnya!" Dev mendaratkan bibirnya pada kening Safira, mencium kening itu cukup lama.
"Aku mencintaimu, Kak," ucap Safira tanpa ragu sedikit pun. Wanita itu tersenyum lalu memeluk tubuh Dev erat.
"Kau melakukan kesalahan!" Dev melepaskan dirinya dari pelukan Safira. Membuat wajah bahagia Safira memudar seketika.
"Panggil aku Sayang! Bukan Kak Dev lagi!" ucap Dev memperjelas maksudnya. Safira tersenyum mendengar itu.
"A-aku, Aku mencintaimu, Sa-sayang!"
Dev tersenyum sakit mendengar ucapan Safira. Bagaimana pun, Safira adalah seorang wanita. Tidak seharusnya kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebelum Dev yang mengucapkan terlebih dahulu padanya. Namun apa daya, Dev sendiri masih menata hatinya, dan mencoba untuk mencintai Safira, hanya Safira, tanpa ada bayangan Aurora lagi di dalamnya.
"Tidurlah, aku tau kau pasti sangat lelah hari ini," ucap Dev. Pria itu kembali pada posisi semula, ia membiarkan Safira tidur dengan nyaman di dalam pelukannya.
'Maaf, Sa. Aku harus melakukan ini padamu. Karena jujur, jauh di dalam hatiku, aku sangat tersiksa ketika mendengar pria lain memanggil namamu! Apalagi sampai memanggilmu dengan panggilan yang seharusnya aku yang mengatakan itu.' Batin Dev. Dev terus mengelus kepala Safira, sungguh, ia sangat kesal jika mengingat Bastian yang memanggil Safira dengan panggilan "Sayang."