
Dev menatap Safina yang masih fokus pada makanannya. Tidak biasanya Safira melamun saat makan, dan Dev cukup tau, apa yang menyebabkan Safira seperti ini sekarang.
"Safira? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Dev sambil menyentuh punggung tangan Safira. Safira mendongak menatap Dev, lalu kembali tertunduk karena tidak kuat melawan tatapan mata Dev.
"Aku, aku rindu Ayah dan Ibuku," ucap Safira tertunduk.
Dev menghembuskan nafasnya pelan, ia bangkit dari duduknya, lalu mendudukkan dirinya di samping Safira.
"Kita akan berkunjung ke rumah Ayah dan Ibu besok, jadi jangan bersedih lagi," bujuk Dev. Safira pun tersenyum mendengar hal itu.
"Habiskan nasimu! Aku tidak ingin kau sakit!" ucap Dev sambil mengelus kepala Safira. Dev sudah terbiasa bersikap seperti itu pada Safira ataupun Davina, adiknya.
Bagi Dev, Safira atau Davina sama saja, sama-sama wanita yang bisa dibilang dewasa, tapi juga butuh kasih sayang dan perhatian dari dirinya.
Usai makan malam, Dev dan Safira mendudukkan diri mereka diruang tengah, menikmati suasana ruangan yang memiliki cerita indah di dalamnya. Ruangan yang menjadi saksi awal mula cinta mereka. Walau salah satu pihak belum juga mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.
Dev bersandar pada sandaran sofa, tangan kanannya sibuk mengganti saluran Tv, sedangkan tangan kirinya sibuk memainkan daun telinga Safira, yang kini duduk di sampingnya.
"Tanggal berapa sekarang?" tanya Dev pada Safira. Tidak biasanya pria itu menanyakan tanggal pada Safira.
"Emm, sekarang tanggal dua puluh delapan Februari," jawab Safira. Dev hanya mengangguk tak jelas.
"Besok ulang tahun Bibi Kamila, dan satu minggu setelahnya, tepatnya tanggal delapan Maret, adalah ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu," ucap Dev. Pria itu meletakkan remote Tv lalu memiringkan tubuhnya menghadap Safira.
"Apakah kau tidak ingin memberi hadiah spesial untuk Ayah dan Ibuku besok?" tanya Dev. Safira pun mengerutkan dahinya tak faham.
"Pranata Yoga butuh penerus, apakah kau tidak ingin memberikan penerus itu?"
Safira terdiam sejenak. Ia berusaha mencerna ucapan Dev dengan perlahan, agar ia tidak salah faham dengan apa yang ingin Dev sampaikan.
'Apakah Kak Dev memintaku untuk hamil? Tapi tunggu dulu! Aku bahkan lupa dengan jadwal datang bulanku! Aku harus mengeceknya sekarang juga!' Batin Safira sambil menatap lurus ke depan.
"Sa? Kau kenapa lagi?" tanya Dev, karena Safira kembali melamun dengan tatapan yang entah tertuju kemana.
"Aku baik-baik saja, Kak. Tidak, maksudku, aku baik-baik saja, Sayang," ucap Safira sambil tersenyum.
Dev diam sejenak sambil menatap ke arah Safira. "Ayo, naik! Kita akan ke rumah Ayah dan Ibu terlebih dahulu, lalu kerumah utama untuk merayakan pesta ulang tahun Bibi Kamila," ucap Dev.
Safira tidak menjawab apapun. Ia hanya patuh dan membiarkan Dev menggendong tubuhnya menaiki tangga. Kedua insan itupun tertidur tanpa melakukan ritual malam mereka, karena besok mereka harus berkunjung ke rumah orangtua Safira, yang berada di ujung kota sana. Dan malamnya harus datang ke pesta ulang tahun Kamila.
☆ ☆ ☆
Safira bangun terlebih dahulu, ia pun mendongak menatap wajah tampan yang masih tertidur pulas itu. Safira menyentuh pipi Dev lalu menusuk-nusuk pipi itu sampai si pemilik wajah terbangun.
"Maaf," ucap Safira. Dev hanya mengangguk, dan tidak berniat untuk berdebat dengan Safira.
"Aku ingin mandi, tolong lepaskan aku!" pinta Safira. Namun Dev malah mengeratkan pelukkannya.
"Sebentar saja, Sayang!" jawab Dev saat Safira terus memintanya untuk melepaskan pelukannya.
'Aku tidak salah dengarkan? Aku, aku tidak bermimpi, kan? Kak Dev memanggilku sayang? Ini benar-benar Kak Dev, kan?' Batin Safira bertanya-tanya.
Beberapa menit kemudian. Dev melonggarkan pelukannya lalu menatap Safira cukup lama. Pria itu kini melihat ada kebahagiaan yang mendalam pada diri Safira.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Dev. Safira hanya menggeleng sambil tersenyum samar.
"Ayo mandi?! Bukannya kau ingin mandi tadi?" lanjut Dev. Safira hanya diam sambil menatap wajah pria itu. Pada detik berikutnya, Safira langsung memeluk tubuh Dev erat, ia kini merasa ada sesuatu yang mulai lengkap dalam hidupnya.
"Apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Dev. Safira kembali menggeleng dalam pelukannya.
'Kau sangat bahagia hanya dengan ini, Sa. Bagaimana jika aku menyatakan perasaanku padamu, apakah kau akan menangis dalam pelukanku lagi?' Batin Dev. Dev terus mengelus kepala Safira dengan penuh kasih sayang.
Safira melepaskan pelukannya, menatap Dev yang juga menatap ke arahnya.
"Aku akan menyiapkan air untukmu," ucap Dev. Namun Safira menghalanginya, wanita itu menahan tangan Dev, agar Dev tidak turun dari kasur.
"Sayang, lepaskan aku atau aku akan memberimu...."
Safira langsung melepaskan tangan Dev, sebelum pria itu melanjutkan ucapannya. Dev tersenyum melihat itu, pria itu pun berjalan menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk Safira.
Sementara itu, Safira membuka laci meja di samping kasur. Ia mengambil kalender kecil yang selalu ia gunakan untuk menghitung jadwal tamu bulanannya.
"Emmm, ini sudah jauh dari tanggal yang seharusnya. Dan bulan Februari ini, aku sama sekali tidak pernah menstruasi," gumam Safira.
"Kenapa, Sayang?" tanya Dev yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dev mendudukkan dirinya di samping Safira, pria itu juga menatap kalender kecil yang masih Safira pegang.
"Tidak apa, aku hanya melihat ini." Safira mengangkat kalender kecil itu, menunjukkannya pada Dev.
"Baiklah, sekarang taruh kalender itu dan masuk ke dalam kamar mandi! Atau kau ingin masuk dan mandi bersamaku?!" goda Dev. Safira langsung menggelengkan kepalanya dan berlari menuju kamar mandi.
"Jangan berlari!" teriak Dev sambil menggelengkan kepalanya karena tingkah laku Safira.