Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Gengsi Tingkat Dewa



"Apa ini, Jimm?" tanya Dev setelah Jimmy menyerahkan kotak nasi berwarna Pink itu padanya.


"Kotak nasi, Tuan," jawab Jimmy polos.


"Bodoh! Aku tau ini kotak nasi! Tapi, kenapa warnanya seperti ini!" teriak Dev sambil menatap tidak percaya kotak nasi yang ada di tangannya.


"Hanya itu yang ada, begitu kata Nona Safira," jelas Jimmy dan langsung melajukan mobil menuju perusahaan.


"Memalukan sekali!" Dev membuka kotak nasi itu lalu menggigit sepotong roti bakar yang masih hangat.


Dev memakan habis semua roti bakarnya, selama perjalanan menuju perusahaan, sambil sesekali tersenyum aneh.


'Sepertinya ini awal yang bagus untuk Tuan Dev dan Nona Safira.' Batin Jimmy.


☆ ☆ ☆


Siang harinya, Dev bersandar sambil melamun menatap langit-langit ruangannya, lalu sesekali tersenyum tidak jelas.


"Tuan, apa anda ingin sesuatu untuk menu makan siang?" tanya Jimmy sopan.


"Aku ingin pulang," jawab Dev tanpa sadar.


"Pulang? Apa anda sedang merindukan seseorang. Atau sedang merindukan masakan seseorang?" goda Jimmy.


"Jangan banyak bicara, Jimm!" Dev bangkit dari duduknya, lalu melangkah keluar mendahului Jimmy.


'Tunggu dulu, apa yang akan kukatakan nanti pada Safira?' Batin Dev bertanya, sekaligus bingung sendiri.


"Ada apa, Tuan?" tanya Jimmy karena Dev tiba-tiba berhenti dan memutar arahnya.


"Tidak jadi, pesankan saja makan siang untukku di tempat biasa," jawab Dev lalu merebahkan dirinya di atas sofa.


'Hahahaha, gengsinya tingkat dewa.' batin Jimmy mengejek Dev.


☆ ☆ ☆


Pukul 5 sore. Jimmy dan Dev kini sudah tiba di rumah. Mereka berdua saling menatap saat melihat Safira yang duduk di dekat kursi, sambil menatapi tangannya.


"Tanganmu kenapa?" tangan Dev sambil berjongkok di hadapan Safira.


"Eh, Kak Dev," ucap Safira lalu berdiri dan menyembunyikan tangannya yang terkena setrika.


"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Dev penasaran.


"Tidak ada," ucap Safira. Namun ia masih menyembunyikan tangannya.


"Tanganmu! Coba lihat!"


"Ah, aku lupa, aku belum mengangkat jemuranku," ucap Safira lalu melangkah hendak menuju taman samping.


"Berikan tanganmu!"


"Bekas apa ini?" lanjut Dev bertanya sambil menatap tangan Safira yang mengembung, dan berair.


"Anu, itu, bekas setrika," jawab Safira tertunduk.


Dev kembali menghembuskan nafasnya, lalu mengajak Safira untuk duduk di ruang tengah.


"Jimm! Ambilkan kotak obat di kamarku!"


Jimmy mengangguk lalu melakukan apa yang Dev minta. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa kotak obat milik Dev.


"Lain kali, jangan melamun saat menyetrika," ucap Dev sambil mengoleskan salep pada tangan Safira.


"Terimakasih, Kak."


"Hmmm, sama-sama."


Dev bangkit lalu berjalan menuju dapur. Ia seketika tertegun ketika melihat begitu banyak menu makan malam yang akan dimasak Safira.


"Apa dia bisa masak dengan kondisi tangan seperti itu?" gumam Dev lalu melirik ke arah Safira yang berjalan menuju dapur.


"Kau yakin akan memasak sebanyak ini?" tanya Dev dengan nada yang masih disetting dingin.


"Iya, memang kenapa, Kak?"


"Tanganmu?" tanya Dev terlihat sedikit khawatir.


"Ini?" Safira mengangkat tangannya. "Ini tidak berarti apapun," lanjut Safira lalu tersenyum samar.


'Bantu, tidak? Bantu, tidak?' Batin Dev bertanya-tanya.


Pria itu terus menatap Safira yang dengan semangat memotong sayuran di atas meja dapur.


"Bisa kubantu?" Akhirnya, kata-kata itu keluar juga dari mulut Dev.


"Kak Dev? Kak Dev ingin membantu apa?" tanya Safira bingung.


"Apa saja," jawab pria itu kembali dingin.


"Tidak apa Kak, sebaiknya Kakak mandi dan ganti baju saja, aku bisa melakukan semua ini sendiri," ucap Safira.


"Hmmm, baiklah." Dev melangkah keluar dari dapur, lalu menatap Jimmy yang seolah sedang menertawai dirinya.


'Sial, kenapa jadi seperti ini, sekarang.' gerutu batin Dev kesal.


Pria itu dengan cepat melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Ia mematung sejenak lalu mengelus tengkuknya sambil tersenyum tipis.