
Safira menatap ke arah Jimmy dan Dev. Terlihat dua orang pria itu masih saja sibuk dengan laptop dan kertas-kertas yang ada di hadapan mereka. Padahal, Safira ingin sekali Dev menemaninya untuk tidur lebih cepat, tapi apalah daya, Dev pasti masih sibuk dengan urusannya sekarang.
Akhirnya, Safira pun memutuskan untuk naik ke kamarnya. Ia menaiki tangga dengan lemas, Safira benar-benar ingin Dev menemani dirinya.
Jimmy melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia kini melirik ke arah Tuannya.
"Tuan, sebaiknya Anda tidur saja, saya akan menyelesaikan semuanya," ucap Jimmy tersenyum.
"Tidak, Jimm! Ini masih banyak! Tidak mungkin aku membiarkanmu menyelesaikan semuanya lagi!"
"Tapi, Tuan. Ada yang lebih membutuhkan Tuan sekarang. Dia pasti masih setia menunggu Tuan," ucap Jimmy.
Dev mengangkat wajahnya lalu menoleh ke arah dapur.
"Safira?" gumam Dev. Dev melepas semua pekerjaannya, dan langsung berlari menaiki tangga.
"Kan, sudah kutebak sebelumnya!" Jimmy merapikan semua kertas-kertas tadi, lalu memasukkannya ke dalam sebuah map.
Dev membuka pintu kamar dengan perlahan. Ia tersenyum saat mendapati Safira yang sudah terbaring di atas kasur, dengan tubuh yang diselimuti oleh selimut tebal. Dev mendekat lalu mengecup kening Safira.
Dev mundur satu langkah, ia berniat untuk kembali turun dan membantu Jimmy. Karena Safira sudah tertidur, dan tidak membutuhkan dirinya saat ini, pikir Dev.
Safira membuka matanya lalu menarik ujung baju Dev. Membuat Dev langsung menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Safira.
"Jangan pergi, Kak. Temani aku tidur, kumohon..." lirih Safira.
"Aku di sini, Sayang. Aku akan menemanimu, sekarang tidurlah!" Dev kembali mendekati kasur. Menaikkan dirinya lalu berbaring di samping Safira.
Safira meringsut mendekati Dev, memasukkan dirinya ke dalam pelukan hangat pria itu.
Dev menarik selimut sampai menutupi tubuhnya dan Safira. Ia tertugun saat melihat pakaian yang Safira kenakan sekarang. Dev menahan nafasnya, mencoba menahan air liur yang hendak keluar dari mulutnya.
"Sa-sayang? Kenapa memakai pakaian ini?" tanya Dev. Dev kembali menahan nafasnya saat Safira tiba-tiba memeluknya dengan erat.
"Aku hanya ingin memakainya. Memang tidak boleh, ya?"
"Bukan begitu, kau boleh memakainya, tapi...." Dev menghentikan ucapannya.
"Tapi apa, Kak?" tanya Safira.
"Tidak apa, tidurlah," jawab Dev sambil mengelus kepala Safira.
Dev kembali menarik selimut sampai menutupi semua bagian tubuhnya dan juga Safira.
"Kak Dev?"
"Kenapa, Sayang? Apakah kau ingin sesuatu?" tanya Dev lembut.
Safira melepaskan Dev dari pelukankannya, lalu membalik tubuhnya membelakangi Dev. Safira meraih tangan Dev, menaruh tangan itu di atas perutnya.
Dev yang mengerti keinginan Safira pun langsung tersenyum dan memeluk tubuh Safira dari belakang. Dev terus mengelus perut rata istrinya sampai ia mendengar deru nafas Safira mulai teratur.
Dev kembali tersenyum. Ia tetap memeluk Safira. Dev menghentikan elusan pada perut Safira. Membuat Tangan Safira kembali meraih tangannya. Meletakkan tangan Dev kembali ke perutnya.
"Jangan berhenti, Kak!" gumam Safira.
Dev mengikuti kemauan Safira. Ia terus mengelus perut rata Safira dengan penuh kasih sayang.
"Kau rindu Ayah, ya? Tenang saja, kita akan segera bertemu nanti, kau sabar ya, Nak," ucap Dev sambil tersenyum jahil. Dev terus mengelus perut Safira, sampai ia tertidur dan ikut larut dalam mimpinya.
* * *
"Kak Dev....Bangun, Kak....." ucap Safira sambil mengoyang-goyangkan tubuh Dev. Safira terus berusaha membangunkan Dev. Wanita itu tidak perduli lagi dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 2 malam.
Dev membuka matanya yang terasa masih berat. Ia tersenyum saat melihat Safira yang duduk di dekatnya.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku lapar, Kak....." rengek Safira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dev menatap ke arah jam dinding, lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan.
"Anak Ayah ingin apa sekarang?" tanya Dev. Wajah Dev kini berada tepat di depan perut Safira.
"Aku ingin makan nasi goreng buatan Kak Dev," jawab Safira dengan manjanya.
"Itu saja?"
"Kau tunggu di sini, aku akan membuatnya untukmu, sabar, ya, Sayang." Dev bangkit lalu turun dari kasur. Pria mencoba untuk menahan kantuknya, ia berjalan menuruni tangga sambil menutup mulutnya yang terus menguap.
Dev menyalakan lampu dapur, lalu menyiapkan semua bahan-bahan nasi gorengnya.
Dev mengambil beberapa butir bawang merah, memotongnya menjadi beberapa bagian kecil. Rasa kantuk kembali menyerang Dev, membuat Dev tidak sadar kalau ia kini mengiris jarinya.
"Ya, Tuhan...." Dev tersentak saat merasakan rasa perih ditangannya ketika menyentuh potongan bawang merah.
Dev menatap jarinya yang terluka. Memang bukan luka besar, namun luka itu mengeluarkan darah segar yang cukup banyak.
Dev langsung menempelkan potongan bawang tadi pada lukanya, sampai luka itu berhenti mengeluarkan darahnya.
"Kak Dev...." Safira melangkah mendekati dapur. Safira menatap bingung pada Dev yang masih membersihkan sisa-sisa darah di atas meja dapur.
"Kak Dev terluka?" Safira meraih tangan Dev. Mencium tangan itu dengan rasa bersalah yang begitu besar.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Ini hanya luka kecil," ucap Dev. Dev tersenyum meyakinkan Safira, kalau dirinya benar-benar baik-baik saja.
"Maafkan aku."
"Kau tidak salah, Sayang. Sekarang duduklah, dan tunggu sebentar lagi."
7 menit kemudian.
Satu porsi nasi goreng terhidang di hadapan Safira. Safira tersenyum melihatnya. Ia menarik piring nasi goreng itu, menyendoknya dan melahapnya dengan semangat.
"Bagaimana?" tanya Dev sambil menyodorkan segelas air putih pada Safira.
"Enak...Aku suka...." jawab Safira dengan mulut yang masih mengunyah nasi gorengnya.
"Makanlah sampai kau kenyang, Sayang."
Dev terus menatap Safira. Sesekali ia tersenyum membayangkan bagaimana rasa nasi goreng buatannya itu. Karena ia sendiri tidak berani mencobanya.
"Kak Dev mau?" tanya Safira sambil mengarahkan satu sendok nasi goreng ke arah Dev. Dev menggeleng dengan cepat.
"Kau saja, Sayang....Aku....., Oke, oke, sekarang suapi aku," ucap Dev mengalah.
Dev pun membuka mulutnya, menerima suapan dari Safira. Dev langsung berlari ke arah wastapel, lalu membuang semua nasi goreng yang ada di dalam mulutnya, dan langsung meneguk segelas air putih.
"Maaf, Sayang....Maafkan aku...." Lirih Dev. Dev benar-benar tidak menyangka, ternyata nasi goreng itu sangat asin bahkan rasa garamnya lebih mendominasi dari rasa pedasnya.
"Ini enak, Kak. Kenapa Kakak membuangnya?" ucap Safira dengan wajah cemberutnya.
"Hah, i-iya, kau lanjut saja, Sayang. I-itu benar-benar enak." Dev sudah kehabisan kata-kata. Kini ia hanya bisa melihat Safira menghabiskan semua nasi goreng buatannya. Tanpa ada sebutir nasi yang tersisa.
* * *
Pagi harinya, di kediaman keluarga besar Pranata Yoga.
Jessica meraih Hpnya yang ia letakkan di atas meja rias. Ia membuka satu pesan yang sebenarnya sudah masuk sejak tadi malam. Namun, Jessica belum berniat untuk membukanya malam itu.
"Kak Jess, ini aku Zia. Aku hanya ingin menyampaikan kalau Davina sekarang berada di rumahku. Dia datang sendirian. Tapi, Kak Jess jangan khawatir padanya, aku dan Zen akan menjaganya, dia tinggal bersamaku disini." Begitulah isi pesan yang masuk di dalam Hp Jessica. Pesan itu dikirim oleh nomer baru yang sama sekali Jessica tidak kenal.
Namun, setelah membaca dengan teliti, Jessica sadar, kalau nomer itu milik Zia, dan putrinya kini sedang bersama wanita itu.
"Sayang...." teriak Jessica pada Aldy yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aldy mengerutkan dahinya lalu melangkah mendekati Jessica.
"Ada apa, Sayang? Kenapa berteriak sepagi ini?"
"Davin...."
"Ada apa dengan Davin?" potong Aldy dengan raut wajah yang mulai cemas.
"Dengar dulu!" Jessica menyalakan Hpnya lalu memberikan Hp itu pada Aldy.
"Davin bersama Zia dan Zen sekarang," ucap Jessica menjelaskan.
"Zia dan Zen?" Aldy berpikir sejenak. Pria itu menghembuskan nafas lega setelah mengingat siapa yang bersama putrinya sekarang.
"Aku akan menjemputnya," ucap Aldy tegas.
"Jangan sekarang, biarkan Davin menyelesaikan keinginannya dulu. Kita akan tetap menjaganya dari sini!" jawab Jessica menghalangi Aldy.
Aldy kembali berpikir dan menimbang semuanya. "Baiklah, aku akan mengirim pengawal untuk menjaganya," ucap Aldy. Jessica tersenyum mendengar itu.