Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano Pranata Yoga Safira Maharani



2 Minggu kemudian....


Safira membaringkan tubuhnya dia atas kasur, menarik selimut sampai menutupi bagian perutnya. Ia memainkan Hpnya sambil menunggu kepulangan Dev, suaminya.


Cukup lama. Safira pun tersenyum saat melihat pintu kamar yang terbuka, dan melihat siapa yang berdiri di ambang pintu itu.


"Maaf, Sayang," ucap Dev. Dev meletakkan tasnya di atas meja, lalu melangkah mendekati Safira. Mengelus kepala dan juga perut Safira.


"Tidak apa, Kak. Aku baik-baik saja."


"Sekarang Kak Dev mandi dulu, aku punya sesuatu untuk Kak Dev," lanjut Safira tersenyum misterius.


"Tapi jangan yang aneh-aneh, ya? Awas kalau sampai..."


"Iya-iya, nggak bakal kok!" potong Safira.


Safira pun mendorong tubuh Dev menjauh dari dirinya. Sementara Dev, ia mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, sambil menebak, apa yang akan Safira memberikan untuknya?


* * *


15 menit kemudian...


Dev membuka pintu kamar mandi, dan matanya langsung menatap ke arah kasur. Ia pun mendekat, dan menatap seseorang yang berbaring di atas kasur itu.


"Sayang? Safira?" Dev menepuk-nepuk pipi Safira. Ia khawatir jika sampai terjadi hal yang tidak-tidak pada istrinya itu. Padahal, Safira hanya berbaring dengan mata yang terpejam saja.


"Sakit, Kak! Aku baik-baik saja! Jangan sekhawatir itu padaku!" ucap Safira sambil membuka matanya.


Safira menatap Dev yang masih telanjang dada, spontan, tangan jahilnya langsung memegang dada bidang Dev, dan tersenyum saat Dev memperhatikan tingkahnya.


"Kenapa malu? Peganglah! Aku milikmu, jadi jangan malu lagi padaku!" Dev meraih tangan Safira, dan meletakkan tangan itu di dadanya, seperti semula.


"Jadi? Kau ingin memberikan apa untukku?" tanya Dev.


Safira terlihat berpikir sejenak. "Tapi janji! Kak Dev tidak akan marah padaku!" ucapnya dengan ekspresi wajah yang cukup menggemaskan.


"Hmmm, baiklah, aku janji," jawab Dev sedikit kecewa.


Safira menarik tangannya dari dada Dev, ia berjalan mendekati ruang ganti dan cukup lama di dalam sana.


"Hehehe, ini, apakah Kak Dev mau memakainya?" ucap Safira. Ia memberikan sepasang baju tidur bergambar Doraemon pada Dev, dan meminta Dev untuk segera memakainya.


"Haruskah aku memakainya?" Dev mengambil baju tidur itu, membolak-balik sambil memperhatikan gambarnya.


"Kumohon...., Mau, ya, ya?" rengek Safira sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Terdengar Dev menghembuskan napasnya lalu mengangguk, menyetujui keinginan aneh Safira.


"Hehehe, aku tunggu di sini, Kak!" teriak Safira yang kini sudah berada di atas kasur. Sedangkan Dev sudah masuk ke dalam ruang ganti untuk memakai baju tidur Doraemon-nya.


"Turun sudah harga diriku sebagai pria tampan!" gumam Dev saat melihat pantulan tubuh tegap yang terbungkus baju tidur bergambar Doraemon.


Dev merapikan rambut dan juga bajunya, sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti.


"Uhhh, manisnya...." gemas Safira. Safira mencubit-cubit pipi Dev, lalu memasukkan dirinya ke dalam dekapan hangat pria itu.


"Puas?!" tanya Dev sambil mengelus kepala Safira.


"Puas, puas, puas!' teriak Safira. Ia melingkarkan tangannya memeluk pinggang Dev, dan semakin memasukkan dirinya pada pelukan pria itu.


"Terimakasih....Kak Dev yang terbaik!"


"Iya, sama-sama! Aku senang jika melihatmu senang," jawab Dev. Dev mengangkat tubuh Safira, kemudian membaringkan Safira di atas kasur.


"Tidurlah!" ucap Dev, setelah ia ikut naik dan membaringkan dirinya di dekat Safira.


Safira meringsut mendekati Dev, lalu memainkan jarinya pada dada bidang Dev yang masih terbungkus baju tidur Doraemon itu.


"Kak Dev?" panggil Safira sambil menghentikan gerakan jarinya.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku ingin menanyakan sesuatu. Dan Kak Dev harus menjawabnya dengan jujur!" ucap Safira. Dev pun mengangguk sambil meraih tangan Safira, meletakkan tangan itu di dekat pipinya.


"Apakah Kak Dev akan tetap mencintaiku, ketika perutku mulai membesar, dan badanku mulai melebar?" tanya Safira, lengkap dengan wajah polosnya.


"Emmm, bagaimana, ya?" gumam Dev berpura-pura. Ia ingin melihat, bagaimana ekspresi Safira ketika mendengar jawaban yang bertolak dari keinginannya.


"Aku sih...."


"Kak Dev pasti akan jijik melihatku! Iya, kan?!" potong Safira. Safira mulai menarik tangannya, dan bergeser menjauhi Dev.


"Hahahaha, tidak, Sayang! Mana mungkin aku jijik padamu! Aku akan tetap mencintaimu, tidak akan berpaling darimu, kau begitu juga karena ulahku, kan? Kenapa aku harus jijik padamu! Kau ini ada-ada saja!"


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Dev dengan nada lemah lembutnya.


"Aku hanya takut, takut Kak Dev akan meninggalkan aku dan juga..."


"Sssst, itu tidak akan terjadi! Aku janji, padamu, dan juga padanya." Dev menyentuh perut Safira. "Aku berjanji akan menjaga kalian dengan nyawaku, dan aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian, selamanya! Aku akan selalu ada untuk kalian!" ucap Dev dengan senyum manis di bibirnya.


Dev semakin merengkuh tubuh Safira, mendekap Safira dengan seluruh cinta yang ada di dalam dirinya untuk Safira.


"Aku mencintaimu, Kak!" gumam Safira. Safira tidak mau kalah, ia pun membalas pelukan Dev, dengan pelukan yang begitu erat, sampai tidak ada jarak lagi antara tubuhnya dan juga tubuh Dev.


"Hehehe, dia bangun, ya?" ucap Safira tercengir.


"Ini karena ulahmu, Sayang?! Jadi, kau harus belajar menjadi wanita yang bertanggung jawab, dan menuntaskan semua perkaranya!" jawab Dev dengan senyum jahilnya.


"Hmmm, aku akan belajar untuk itu."


Safira hanya bisa diam dan menikmati setiap sentuhan yang Dev berikan padanya. Sentuhan yang membuat dirinya terbang dan melayang-layang di awan.


* * *


Pukul 06:45 pagi.


Dev membuka matanya, ia tersenyum saat mendapati sepasang mata indah yang sedang menatap dan memperhatikan dirinya. Mata itu terus menatapnya, dengan tatapan yang penuh akan makna cinta di dalamnya.


Dev menyingkirkan beberapa helai rambut yang mengganggu penglihatan, ia kembali tersenyum saat sebuah tangan lembut mengelus pipi, dan memainkan daun telinganya.


"I love you, honey."


Mimpi apa Dev semalam? Sampai ia mendapatkan kebahagiaan sebesar ini di waktu paginya? Kebahagiaan sederhana yang tidak perlu harta untuk mendatangkannya!


"I Love You too, Sayang-ku." Dev tertawa saat melihat bibir cemberut Safira. Buru-buru ia ulangi ucapannya, agar istri cantiknya itu tidak kecewa.


"I Love You too, Honey."


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat begitu saja pada permukaan bibir Dev, membuat jantung Dev berbetak lebih cepat dari sebelumnya.


"Bukannya Kak Dev sering melakukan itu padaku? Kak Dev sering menciumku! Tidak tau kah, Kak Dev? Betapa berdebarnya jantungku saat itu?"


Safira menatap Dev sejenak, lalu kembali mendarat bibirnya pada permukaan bibir Dev. Safira mulai menikmati bibir itu, membuat sang pemilik bibir hanya bisa tersenyum dengan perlakuan manisnya.


"Kak Dev sering memainkan daun telinganku! Seperti ini!"


Dev kembali tersenyum saat merasakan tangan jahil yang memainkan daun telinganya, Safira benar-benar berniat untuk meniru dan membalas semua perbuatan jahilnya.


"Balik tubuhmu!" perintah Safira.


"Hei, hei! Kau ingin melakukan apa, wanita kecil?!"


"Balik tubuhmu! Atau, aku akan melahap habis bibirmu!" ucap Safira, lengkap dengan ekspresi wajah yang menirukan ekspresi wajah Dev saat memerintahnya.


"Hahahaha, baiklah!" Dev pun merubah posisinya, dari terlentang menjadi tengkurap, sesuai dengan perintah Safira.


Safira memijit bahu Dev dengan pelan, begitu sampai beberapa menit kedepannya. Pijitan itu tiba-tiba saja berubah menjadi kecupan hangat ,yang membuat semua bulu halus milik Dev berdiri, dan hampir tegak karena merasakan.


"Bukannya Kak Dev senang sekali menjahiliku! Apalagi sampai memutar balikkan fakta pada diriku! Kak Dev sengaja memijatku, membuat aku terangsang oleh sentuhan tangan dan bibir jahil Kak Dev ini!" ucap Safira sambil memukul pelan tangan dan juga bibir Dev.


Dev hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat, setelah tawa Dev mereda.


"Kak Dev selalu menyiapkan air untukku, mengengdong tubuhku sampai dalam kamar mandi. Kak Dev menyiapkan baju ganti untukku, mengeringkan dan juga menyisir rambutku."


"Bisakah Kak Dev melakukannya lagi untukku? Bisakah aku mendapatkan perlakuan manis itu setiap...."


"Aku akan tetap melakukannya, walau kau tidak memintanya padaku!" potong Dev. Dev bangun dari tidurnya, menurunkan dirinya dari kasur, lalu mengangkat tubuh Safira.


"Aku bersedia melakukannya, sampai kapanpun," bisik Dev sebelum ia menurunkan Safira dari gendongannya.


"Dan aku, aku akan siap menerimanya sampai kapanpun, hehehe...." jawab Safira tertawa kecil.


Dev tersenyum mendengarnya. Kini ia sibuk pada bak mandi yang ada di hadapannya. Ia sibuk mengisi dan juga mengatur suhu air untuk Safira.


"Mau kutemani?" ucap Dev menawarkan dirinya. Dan Safira pun menganggguk menerima tawaran darinya.


Dan jika sudah begini, maka tidak lain dan tidak bukan, pasti akan terjadi hal panas di antara keduanya. Membuat keduanya sampai lupa akan dimana dan sedang apa mereka seharusnya.


* * *