Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano & Safira (2)



Kurang setengah jam perjalanan. Kini, Dev dan Safira sudah sampai di sebuah bangunan yang terlihat modern dan berkelas. Dev keluar terlebih dahulu, lalu membuka pintu mobil untuk Safira.


Pria itu kembali mencoba tersenyum pada Safira, dan langsung mengajak Safira memasuki bangunan itu. Ditatapnya mata Safira untuk beberapa saat.


"Bisakah kita mengulangnya dari nol. Anggap saja, aku dan kau baru dipertemukan hari ini," pinta Dev lembut. Ia menarik tubuh Safira mendekat ke arahnya.


"Jawab, bisakah kita memulai semuanya dari awal?" tanya Dev masih dengan nada yang begitu lembut.


Safira mengangguk lalu tersenyum menatap wajah Dev. Keduanya saling menatap cukup lama, sampai Dev yang terlebih dahulu mengalihkan pandangannya.


Dev melepaskan tubuh Safira lalu


berjalan mendekati sebuah meja, yang terletak di pojok ruangan. Ia kembali mendekati Safira, mengulurkan tangannya pada wanita itu.


"Mau kah kau menemaniku berdansa?" tanya Dev. Safira pun kembali mengangguk.


Dev melingkarkan tangannya pada pinggang Safira, lalu menuntun Safira untuk mengambil posisinya. Keduanya bergerak ke kanan dan ke kiri, sesuai dengan irama musik yang terdengar begitu indah itu.


"Maafkan aku," lirih Dev. Pria itu sedikit menunduk sampai keningnya dan kening Safira menyatu.


"Maafkan aku, Sa. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu," lanjut Dev, lalu mendaratkan satu kecupan hangat di kening Safira.


Safira mendongak menatap wajah Dev. Ia pun menghentikan gerakan kakinya, dan langsung memeluk tubuh tegap pria itu.


'Ya, Tuhan....Apa ini benar-benar Kak Dev? Aku tidak sedang bermimpi, kan?' Batin Safira.


Dev membalas pelukan dari Safira, mengelus kepala Safira dengan lembut. Cukup lama, Safira pun melepaskan Dev dari pelukannya.


"Terimakasih, Kak," ucapnya penuh kebahagiaan.


Dev hanya tersenyum menanggapinya. Ia kini menggenggam tangan Safira, mengajak Safira berjalan mendekati meja tadi.


"Lolipop untukmu," ucap Dev tersenyum. Ia pun menyerahkan tiga Lolipop berukuran jumbo itu pada Safira.


Safira kembali menatap wajah Dev tak percaya. Sungguh, semua ini terasa seperti mimpi bagi Safira. Safira memejamkan matanya, beberapa detik kemudian, ia merasakan bibir Dev mendarat sempurna di atas bibirnya.


☆ ☆ ☆


Di kafe.


15 menit lagi sebelum acara ulang tahun dimulai. Bastian, pria bertubuh tinggi tegap itu terus menatap ke arah pintu masuk, berharap seseorang yang ia tunggu-tunggu akan datang, dan memenuhi permintaan sederhananya.


Bastian terus menatap pintu masuk, matanya terbuka lebar saat melihat seorang wanita yang memakai gaun hitam selutut, berjalan memasuki kafe, dengan seorang pria tampan yang berjalan di sampingnya.


Kini, beberapa pasang mata melirik pada Dev dan juga Safira. Dev berjalan di samping Safira, lengkap dengan ekspresi datar dan dinginnya.


"Al." Safira menyentuh pundak Alisha. Membuat Alisha berteriak kaget, dan hampir menjatuhkan Hp yang ada di tangannya.


"Jubaedah! Kukira siapa!" ucap Alisha sambil mengelus dadanya.


"Bagaimana? Apa semua terkendali?" tanya Safira.


"Semua aman, dan semoga tidak ada kendala sampai akhir acara," jawab Alisha lalu menatap aneh wajah Safira.


"Kamu terlihat sangat bahagia sekarang, Sa. Apakah ada kabar gembira yang aku lewatkan?" lanjutnya bertanya.


"Hehehe, nanti saja kuceritakan," jawab Safira dengan pipi yang bersemu merah.


"Baiklah, aku ikut bahagia melihatmu bahagia." Alisha tersenyum lalu merangkul Safira keluar dari dapur Kafe. Keduanya kini melangkah mendekati Bastian, bermaksud memberi ucapan selamat ulang tahun pada kakak kelas mereka itu.


Bastian terus menatap wajah Safira tanpa berkedip, bahkan, ia belum rela untuk melepas tangan Safira yang masih berjabat tangan dengannya.


"Kak Bastian? Hallo!" Alisha melambaikan tangannya di depan wajah Bastian lalu menatap bingung pada tangan Bastian yang masih enggan untuk melepas tangan Safira.


"Kak!" Safira menarik tangannya secara paksa, membuat Bastian langsung tersadar dari lamunannya.


"Hehehe, maaf, Sa."


"Kamu terlihat sangat cantik malam ini," lanjut Bastian sambil menatap wajah Safira.


Safira hanya menanggapinya dengan senyum kaku, yang bahkan tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun selama ini.


"Selamat ulang tahun, Kak. Semoga Tuhan selalu merahmatimu," ucap Alisha sambil menggenggam tangan kiri Safira.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," bisik Alisha lalu menarik Safira menjauh dari Bastian. Sementara Bastian, pria itu terus memanggil Safira, berharap Safira meluangkan sedikit waktu untuk mengobrol dengannya.


"Ada apa, Al?!" tanya Safira ketika mereka sudah berada di depan ruang pribadi Safira.


"Kamu datang dengan siapa?!" tanya Alisha mengintrogasi.


"Aku datang dengan." Safira berhenti sejenak. "Kak Dev? Jangan sampai dia salah faham padaku!" lanjutnya dengan wajah yang mulai memucat.


"Sa, Safira....Dia, Kak Dev, dia di belakangmu," ucap Alisha tiba-tiba gugup, dengan beberapa butir keringat dingin mengalir di keningnya.


Safira pun memberanikan dirinya untuk membalik badan menghadap Dev.


"Kita pulang!" Dev langsung menarik tangan Safira, menggenggam tangan itu erat, sampai ia dan Safira keluar dari kafe, dan masuk ke dalam mobil yang masih terparkir rapi.