
Dev membenarkan posisi kepala Safira, membuat Safira semakin nyaman dalam tidurnya. Pria itu juga membuka jasnya, menyelimuti Safira dengan jas itu.
Beberapa menit kemudian. Mobil berhenti di depan rumah Alisha, Alisha keluar, sebelumnya, ia menoleh ke arah kursi belakang, dan berterimakasih pada Dev atas tumpangannya.
Kini mobil kembali melaju ke arah barat, menuju kediaman Dev dan Safira. Tidak butuh waktu lama, mobil pun kembali berhenti di halaman depan. Bambang keluar lalu membukakan pintu mobil untuk Tuannya. Dev keluar dari mobil, dengan Safira yang berada dalam gendongannya.
Bambang kembali berlari, kini ia membukakan pintu utama untuk Dev. Dev berterimakasih dan juga tersenyum pada Bambang.
Dev menaiki tangga dengan hati-hati, pria itu membuka pintu, dan berjalan mendekati kasur. Dev membaringkan tubuh Safira, lalu mendudukkan dirinya di samping Safira.
"Kak Bastian," gumam Safira, membuat Dev langsung mengerutkan dahinya tak percaya. Hatinya sedikit terluka mendengar hal itu.
Namun, dengan cepat Dev membuang semua pikiran kotornya. Ia berusaha mengerti Safira, mungkin Safira masih terbawa suasana, pikir Dev. Pria itu pun berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dan juga mengganti bajunya.
30 menit berlalu.
Dev keluar dari kamar mandi, setelah ia merendam dirinya dan menenangkan pikirannya. Dev tidak ingin ada kesalahan fahaman antara dia dan Safira. Oleh sebab itu, Dev selalu mengalah dan tidak ingin terlalu memaksa Safira untuk melakukan semua keinginannya.
"Sayang," bisik Dev pada Safira yang masih tertidur. Pria itu benar-benar hobi mengganggu dan menjahili Safira yang sedang tertidur.
Safira tidak merespon apapun, ia tetap larut dalam tidur dan mimpinya. Hal itu membuat Dev semakin gemas padanya, Dev pun naik ke atas kasur, ia ikut berbaring di samping Safira. Melingkarkan tangannya memeluk tubuh Safira dari belakang.
☆ ☆ ☆
Pukul 9 malam.
Safira terbangun dari tidurnya, digenggamnya tangan Dev yang masih melingkar memeluknya. Safira memindahkan tangan itu dengan perlahan, agar Dev tidak bangun dari tidurnya.
Dev yang masih tertidur pulas pun tidak menyadari hal itu, pria itu kini memeluk boneka beruang Safira. Sedangkan si pemilik boneka sudah keluar dari kamar, menuruni tangga menuju dapur.
"Nona? Apakah Nona butuh sesuatu?" tanya Laras sambil menatap Safira yang hendak memasuki dapur.
"Safira lapar, Bi," keluh Safira.
Laras pun mendekati Safira, dan langsung menyiapkan makan malam untuk wanita itu. Safira duduk di meja makan, tiba-tiba saja ia teringat Dev, membuat dirinya tidak ingin makan tanpa ditemani oleh pria itu.
Safira pun bangkit dari duduknya, ia keluar dari dapur, menaiki tangga menuju kamarnya. Safira membuka pintu dan langsung berlari mendekati kasur. Wanita itu langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Dev. Membuat Dev langsung terbangun dari tidurnya.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Dev dengan raut wajah khawatirnya.
"Kak Dev....." rengek Safira sambil menarik-narik kaos yang Dev kenakan. "Temani aku makan," lanjutnya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan.
"Baiklah, sekarang turunlah!" jawab Dev lalu turun dari kasur. Sementara Safira masih di atas kasur, entah apalagi yang ia inginkan sekarang.
"Gendong..." rengek Safira. Dev hanya menatapnya tak percaya.
"Gendong, Kak!"
Dev pun kembali mendekati kasur, dan langsung mengangkat tubuh Safira, menggendong wanita itu sampai ke dalam dapur.
Safira belum juga memulai makan malamnya. Ia kini sedang asik menatap wajah tampan yang sedang menatapnya, dengan tatapan aneh dan juga bingung.
"Suapin!" Entah makhluk apa yang merasuki Safira sekarang. Sampai-sampai ia berubah manja seperti ini.
"Aku nggak mau makan, kalau bukan Kak Dev yang menyuapiku!" ucap Safira sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Baiklah, Sayang. Aku akan menyuapimu, buka mulutmu....."
Dev dengan sabar menyuapi Safira, memberikan minum dan juga membersihkan bibir wanita itu dengan tangannya.
'Aku harus mengajak Safira ke rumah sakit besok! Jangan sampai dia mengalami hal yang tidak-tidak nantinya!' Batin Dev berencana.
* * *
Safira bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kulkas. Wanita itu menusuk-nusuk pipinya, ia sedang memilih es krim rasa apa yang ia ingin makan sekarang.
"Kak Dev...." panggilnya pada Dev yang masih duduk di meja makan. Dev belum selesai dengan urusan makan malamnya.
"Ada apa, Sayang?" jawab Dev dengan penuh kesabaran. Dev membersihkan mulutnya dengan tisu, lalu berjalan mendekati Safira.
"Aku ingin es krim ini," ucap Safira sambil menunjuk es krim yang ia inginkan. Dev pun tersenyum mendengar hal itu, ia pikir Safira akan menyuruhnya melakukan hal-hal aneh.
"Ambillah, ini semua untukmu." Dev mengambil es krim itu lalu memberikannya pada Safira.
"Bukan begitu, Kak!" Safira tiba-tiba cemberut, membuat Dev langsung memutar otaknya, Dev terus berusaha untuk memahami Safira.
"Duduklah!" Kini Safira yang memerintah. Wanita itu mendudukkan dirinya di meja makan, lalu diikuti oleh Dev yang duduk di sampingnya.
"Kak Dev pegang ini." Safira memberikan es krim itu pada Dev.
"Taruh di sini," lanjutnya sambil meletakkan es krim itu di depan bibir Dev. Safira pun mendekat dan mencicipi es krim yang masih menempel di depan bibir Dev.
'Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Sayang? Kenapa jadi semanja ini?' Batin Dev. Dev kini memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang diberikan oleh bibir Safira pada bibirnya.
Safira merebut es krim itu dari tangan Dev. Dev pun membuka matanya dan menatap ke arah Safira yang sedang sibuk dengan es krimnya.
"Dasar modus!" ucap Safira menuduh Dev. Padahal Dev tidak pernah melakukan apapun padanya. Malahan dirinya yang modus ada Dev sekarang.
"Awas, awas....Aku masuk ke kamar!" ucap Safira. Kini wanita itu meninggalkan Dev yang masih mematung seperti orang bodoh.
"Aku harus membawanya ke rumah sakit besok! Aku ingin tau, sebenarnya apa yang terjadi pada istriku itu!" ucap Dev. Dev pun melangkah keluar dari dapur. Dan mulai menaiki tangga menuju kamarnya.
Dev kembali dibuat bingung oleh Safira. Safira sudah membentang selimut tebal di lantai kamar, dan juga menaruh satu bantal biasa dan juga bantal guling di sana.
"Kak Dev tidur di atas, atau di bawah?" tanya Safira dengan wajah polosnya.
"Aku dibawah saja, Sayang. Kau tidurlah diatas," jawab Dev mengalah. Dev pikir, ini semua hukuman dari Tuhan untuknya, karena ia pernah tidak menganggap Safira dulu.
Dev pun membaringkan dirinya. Tidak butuh waktu lama, Dev langsung tertidur dan larut dalam mimpinya.
Sementara itu, wanita yang tidur di atas kasur mulai gelisah. Ia berguling ke kanan dan ke kiri. Namun tidak ada posisi yang membuat dirinya nyaman. Akhirnya, Safira pun ikut turun dan membaringkan dirinya di samping Dev. Safira memeluk tubuh Dev, dan langsung tertidur dalam hitungan detik saja.