Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Tidak Terduga



Safira menatap jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun Dev tak kunjung turun juga, dan Jimmy pun tidak datang sampai sekarang.


Akhirnya, Safira pun memberanikan dirinya untuk naik ke lantai atas, dan berniat membangunkan Dev, jika pria itu belum bangun dari tidurnya.


Baru beberapa langkah Safira menaiki tangga, Dev kini sudah turun dan berada di hadapannya.


"Ada apa?" tanya pria yang mengenakan kaos putih dan celana hitam selutut itu.


"Aku, aku hanya ingin memberi tahu Kak Dev. Sarapan sudah siap."


Dev hanya mengangguk lalu meminta Safira untuk kembali turun bersamanya.


"Kak Dev tidak ke perusahaan?" tanya Safira.


"Tidak," jawab Dev lalu duduk di meja makan. Pria itu pun menatap Safira yang terlihat bingung menatap ke arahnya.


"Tidak ada orang yang bekerja di hari Minggu," lanjut Dev tersenyum samar.


"Hari Minggu?" Safira berpikir sejenak. "Astaga, aku lupa," gumamnya sambil menepuk jidatnya pelan.


Dev kembali tersenyum samar, lalu mengambil sepotong roti dan juga susu hangatnya. Usai sarapan bersama, Safira langsung merapikan meja makan dan juga menyapu dapur.


Beberapa menit kemudian, ia pun masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap, karena Alisha dan yang lainnya akan menjemputnya untuk ke panti.


"Mau kemana?" tanya Dev yang kini berdiri di depan pintu kamar Safira.


"Aku, itu, aku kan sudah meminta izin untuk pergi ke panti semalam. Dan sekarang, aku akan berangkat," jawab Safira tiba-tiba gugup.


"Dengan siapa?" Dev masih berdiri di depan pintu, tidak memberikan jalan lewat untuk Safira.


"Al-Alisha," jawab Safira semakin gugup.


"Hanya dengan dia?"


"Tidak, ada beberapa orang lainnya." Safira memberanikan dirinya untuk menatap wajah Dev. Sialnya, pria itu ternyata menatap wajahnya juga.


"Tidak, Kak Dev. Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Aku sudah telat, mereka pasti sudah lama menungguku di depan."


"Kau tidak boleh pergi," ucap Dev lalu melangkah menjauhi kamar Safira, dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Apa?" Safira hampir berteriak saking terkejutnya. 'Semalam bilang boleh, sekarang sudah berubah jadi tidak boleh.' gerutu batin Safira, kesal.


Safira pun sibuk membuka Hpnya dan bermaksud mengirim pesan pada Alisha. Belum sempat pesan terkirim, tiba-tiba saja Dev sudah menarik ujung bajunya dan langsung mengajaknya berjalan mendekati pintu utama.


"Kita mau kemana, Kak?"


"Ke panti," jawab Dev lalu menutup dan mengunci pintu utama.


"Aku......"


"Jangan banyak bicara! Atau aku akan menciummu sekarang juga!" potong Dev. Pria itu pun berjalan mendekati mobilnya, lalu kembali menatap Safira yang masih mematung di depan pintu.


"Hei! Kau ikut tidak!" teriaknya, membuat Safira tersentak kaget dan langsung memegangi dadanya.


'Sebenarnya apa yang Kak Dev maksud sekarang? Apa dia hanya membohongiku? Atau dia akan membawaku pergi jauh, lalu meninggalkan aku sendirian di sana?' Batin Safira curiga.


"Safira!" teriak Dev untuk yang kedua kalinya. Safira pun langsung berlari dan masuk ke dalam mobil, wanita itu duduk di kursi belakang. Karena tidak berani duduk di samping Dev.


Dev menyalakan mobil, lalu melajukannya ke arah timur, menuju panti asuhan yang terletak di pinggir kota. Sementara Safira, wanita itu sibuk mengirim pesan pada sahabatnya Alisha, dan ternyata, Alisha dan yang lainnya sudah sampai di panti asuhan. Mereka kini menunggu kedatangan Safira.


☆ ☆ ☆


Setengah jam kemudian, Dev dan juga Safira sudah sampai di sebuah gedung bercat hijau muda. Keduanya turun dari mobil secara bersamaan, lalu berjalan menuju pintu masuk panti itu.


"Sa." Alisha berlari kecil menghampiri Safira. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat siapa yang berdiri di samping sahabatnya itu.


"Sa, apa aku sedang bermimpi?" bisik Alisha sambil melirik ke arah Dev sekilas.