
Pukul 2 malam. Dev terbangun dari tidurnya lalu menoleh ke arah meja di samping kasur. Kosong, tidak ada segelas air pun di meja itu. Dev pun melangkah dengan malas menuju pintu kamarnya, lalu menuruni tangga menuju dapur.
Dev sekilas melirik ke arah pintu kamar Safira, lalu tersenyum tipis ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Dimana, Dev berhasil menjahili Safira untuk yang kedua kalinya.
Setelah mengambil sebotol air mineral di kulkas. Dev kembali melangkah hendak menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, entah hal apa yang membawa langkah kaki Dev malah mendekati kamar Safira. Dibukanya pintu kamar yang tidak terkunci itu, lalu masuk secara mengendap-endap seperti maling.
Dev menatap Safira yang tertidur pulas sambil memeluk sebuah boneka beruang berukuran sedang. Tangan Dev spontan mengelus pipi wanita itu. Karena sejujurnya, Dev merasakan hal yang berbeda pada dirinya, setelah kehadiran teman masa kecilnya itu.
Dulu, dia dan Safira selalu bermain bersama, dan bahkan selalu memakan makanan yang sama, atau sampai berbagi satu makanan berdua. Namun, semua itu mulai hilang sejak Safira dan keluarganya pindah beberapa tahun ke desa karena kondisi nenek Safira yang semakin memburuk. Sejak itulah, Dev dan Safira mulai hilang kontak dan jarang bertemu lagi. Sampai pada masa dimana Dev dan Aurora dipertemukan di tempat magang yang sama.
"Kak Dev?" gumam Safira, lalu semakin memeluk erat bonekanya.
Dev tersentak kaget lalu mengangkat tangannya yang masih menempel di pipi wanita itu.
"Kak Dev, aku mencintaimu," ucap Safira yang sedang mengigau, dan mungkin sedang bermimpi indah tentang Dev.
Dev kembali menghembuskan nafasnya pelan, lalu berjalan menjauh dari kasur wanita itu. Saat hendak keluar, tiba-tiba saja Dev teringat sesuatu dan kembali melangkah mendekati Safira. Ia menatap sekitar kasur, mencari di mana Safira biasa meletakkan Hpnya.
"Di mana, ya?" gumam Dev lalu memeriksa di dekat bantal Safira, tanpa sadar, tangan kekar Dev menyentuh sesuatu, yang langsung membuat Safira terbangun dari tidurnya.
"Maling!" teriak Safira sekeras-kerasnya.
Sementara Dev, pria itu langsung memutar otak encernya untuk mencari alasan yang masuk akal. Agar harga dirinya tidak jatuh begitu saja di hadapan Safira.
Bugh....Bugh....
Safira memukul tubuh Dev dengan bantal guling dan juga boneka beruangnya.
"Tolong....Kak Dev....Tolong...." teriak Safira meminta tolong pada Dev. Sedangkan, dia tidak tau siapa yang ada di harapannya, dan juga yang ia sebut maling sekarang.
Safira berlari menuju pintu, dan langsung menyalakan lampu kamarnya.
"Kak Dev? Apa yang Kak Dev lakukan di sini?" tanya Safira bingung. Wanita itu pun berjalan mendekati Dev yang sedang merapikan rambut dan bajunya yang acak-acakan.
"Aku sedang mencari sesuatu," jawab Dev beralasan.
"Laptopku, siapa tau kau mencurinya," tuduh Dev yang masih beralasan.
"Eh, aku, aku tidak pernah mencurinya. Lagi pula, buat apa aku mencuri laptop Kak Dev," jelas Safira tertunduk sambil melilit ujung baju tidurnya.
'Ah, persetanan, lebih baik aku cepat keluar dari sini.' Batin Dev berencana.
Dev melangkah mendekati pintu kamar, lalu melirik Safira sekilas.
"Tidurlah, ini masih larut malam," ucapnya lalu keluar dari kamar wanita itu, sambil tersenyum mengejek dirinya sendiri.
"Aneh sekali," gumam Safira dan langsung melangkah menuju kasurnya.
☆ ☆ ☆
Paginya, Dev bangun agak siang. Karena semalam, ia kesulitan tidur setelah keluar dari kamar Safira.
"Selamat siang, Tuan," sapa Jimmy seolah-olah mengingatkan Dev, kalau hari sudah sangat siang, dan seharusnya mereka berdua sudah berangkat menuju perusahaan sekarang.
"Kak Dev?" panggil Safira saat Dev dan Jimmy hendak keluar dari rumah.
"Sarapannya?" lanjut Safira.
Dev menghembuskan nafasnya pelan, lalu melirik jam tangannya. Masih ada 15 menit lagi sebelum rapat pagi dimulai.
"Jimmy, kau urus saja sarapan itu, aku akan menunggumu di mobil," perintahnya lalu berjalan keluar terlebih dahulu.
"Aku?" Jimmy mencoba mengerti keinginan Dev. "Nona, sebaiknya rotinya dimasukkan saja ke dalam tempat nasi," saran Jimmy.
"I-iya, tunggu dulu." Safira berlari menuju dapur dan mencari di mana ia pernah melihat kotak nasi sebelumnya.
"Ini, Jimm," ucap Safira menyerahkan kotak nasi berwarna pink pada Jimmy. "Hehehe, hanya ada warna itu," lanjutnya lalu berdoa dalam hatinya, agar Dev tidak mengamuk padanya.