Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano Pranata Yoga - Episode Final I



Pukul 06.18 pagi.


Safira menutup wajahnya dengan bantal, menghalangi bibir Dev untuk menjahili dirinya. Dev yang tidak terima pun langsung merebut bantal itu, melemparnya sampai tergeletak di dekat pintu kamar. Dev meringsut mendekati Safira, membawa tubuh Safira masuk ke dalam pelukannya.


"Aku ingin menagih yang tadi malam," bisik Dev dengan nada jahilnya. Dev mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada bagian tubuh Safira, membuat si pemilik tubuh tidak bisa menolak keinginannya lagi.


Dev terus melanjutkan aksinya, ia benar-benar menjaga suasana hati Safira, agar tidak gagal lagi nantinya. Dev menatap wajah Safira. Kini Safira sudah berada dibawah kendalinya.


Tring....tring.....


Dering Hp Dev langsung membuat Safira menoleh ke atas meja rias. Safira menatap wajah Dev, lalu menghembuskan napasnya pelan. Karena melihat tatapan penuh harap pada mata suaminya itu.


Akhirnya, keduanya tetap melanjutkan olah raga pagi mereka. Dan membiarkan si Benda Pipih itu berdering sepuas maunya.


* * *


Jimmy menatap layar Hpnya kesal. Ia kembali menekan nomor Dev, berharap Dev segera mengangkat teleponnya.


Setengah jam berlalu. Jimmy pun mulai kesal sendiri. Ia meraih semua alat tempurnya, lalu melangkah ke luar dari apartemen, untuk menemui sang Tuan di rumahnya.


Tidak butuh waktu lama, kini Jimmy sudah berada di depan pintu utama. Dibukanya pintu itu dengan kunci yang ada ditangannya. Jimmy melangkah mendekati meja kerjanya, meletakkan semua dokumen-dokumen yang ia bawa disana.


"Huh, apa yang mereka lakukan, ya? Sampai jam segini belum turun juga untuk sarapan?!" gerutu Jimmy sambil menatap jam tangannya.


"Menikahlah, Jimm! Maka kau akan mengetahui jawabannya!" sahut Dev yang kini berjalan ke arah dapur. Dev melirik Jimmy sekilas, lalu tersenyum mengejek pria itu.


Jimmy tidak menjawab apapun. Ia memilih untuk menutup mulutnya, dan mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Tuannya.


Dev keluar dari dapur, dengan tangan yang memegang sebuah nampan yang berisikan dua gelas susu hangat, dan juga beberapa potong sandwich dan roti bakar. Dev tersenyum saat melewati Jimmy dan dibalas senyuman juga oleh Jimmy.


Dev menaiki tangga dengan hati-hati, kini ia merasa bahagia karena sudah mendapatkan jatahnya, yang selalu tertunda.


Dev membuka pintu kamar, ia berjalan mendekati kasur, menaruh nampan tadi di atas meja yang terletak di samping kanan kasur. Dev berjalan mendekati kamar mandi, mengetuk pintu kamar mandi dengan dua kali ketukan.


"Sayang...." teriak Dev memanggil Safira. Dev kembali mengetuk kamar mandi, karena tak kunjung mendapat jawaban dari Safira yang berada di dalam sana.


"Sayang....Buka pintunya!"


"Safira......" Dev kini menggedor pintu kamar mandi, membuat seseorang yang di dalam sana terbangun dari tidurnya.


Safira yang tertidur di dalam bak mandi pun langsung terbangun. Ia segera menurunkan dirinya, membilas badannya dan juga mengenakan baju mandinya.


"Safira....Sayang! Buka pintunya! Kau baik-baik saja, kan?" teriak Dev yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


Safira membuka pintu dengan jantung yang berdebar kencang, ia takut jika Dev salah faham dan juga marah pada dirinya.


Dev menatap Safira dari atas rambut sampai ujung kaki, lalu memeriksa suhu badan Safira. Dev menciumi setiap inci wajah Safira. Terlihat Dev sekarang sangat khawatir pada keadaan Safira.


"Apa yang terjadi? Kenapa tidak menjawab panggilanku?" tanya Dev sambil mengangkat tubuh Safira, menggendong Safira menuju meja riasnya.


"Aku ketiduran," jawab Safira dengan wajah malunya.


"Maafkan, aku....Aku pasti membuatmu kelelahan," sesal Dev. Dev menurunkan tubuh Safira, lalu mengeringkan rambut Safira dengan handuk kecil yang ada di tangannya.


"Kak Dev tidak salah, Kak Dev berhak untuk mendapatkannya dariku, aku istri Kak Dev."


"Terimakasih, Sayang. Aku sangat beruntung mendapatkan istri sepertimu," ucap Dev dengan menciumi pucuk kepala Safira. Dev mengeringkan rambut Safira dengan telaten, tidak lupa untuk menyisir dan merapikannya.


"Sarapan, Sayang." Dev kini meminta Safira untuk duduk di tepi kasur, sedangkan dirinya duduk dengan kursi rias Safira. Dev mulai menyuapi Safira, dengan senyum yang selalu menghiasi wajah tampannya.


"Cium, Kak!" ucap Safira sambil menunjuk bibirnya.


Dev tersenyum, dan langsung mendaratkan kecupan pada bibir yang sudah menjadi candu bagi dirinya.


"Sekarang giliran Kak Dev!" ucap Safira, lalu mengambil sepotong sandwich dari atas nampan, dan langsung meletakkan sandwich itu di depan mulut Dev.


"Buka mulutmu! Atau aku akan menggigitnya sampai terbuka!" Ancam Safira dengan tatapan tajamnya.


"Hahahaha, kau pintar meniru rupanya!"


Dev membuka mulutnya, mengunyah sandwich yang disuapi Safira. Dev tersenyum sekilas, lalu menatap Safira yang masih fokus pada sandwich di tangannya.


"Ikut-ikut saja!" jawab Safira. Safira meraih gelas susunya, memberikan gelas susu itu pada suaminya.


"Ini susu khusus untuk Ibu hamil, Sayang! Aku ti...."


"Aku tau, Kak!" potong Safira. Safira menggerakkan tangan Dev, sampai tangan yang memegang segelas susu itu berada di depan wajahnya. Safira mulai meminum susu itu sambil tersenyum pada Dev.


"Manjanya....." ucap Dev sambil mencubit pipi Safira dengan gemas. Sementara Safira hanya bisa tersenyum dengan wajah merahnya.


* * *


Setengah jam kemudian.


Kini Safira dan Dev berada di dalam mobil yang sama. Dev dan Jimmy hendak berangkat menuju perusahaan, sebelum itu, mereka akan mengantarkan Safira menuju kafe-nya.


Safira menyandarkan kepalanya pada bahu Dev, dengan tangan yang sibuk memainkan dasi yang Dev kenakan.


"Kak Dev?"


"Kenapa, Sayang?" tanya Dev dengan nada lemah lembutnya.


"Aku ingin makan malam bersama Ibu dan Ayahku, bisakah Kak Dev mewujudkannya?"


"Kapan? Kau ingin malam ini?"


Safira mengangguk dengan cepat.


"Kita pasti akan malam dengan Ibu dan Ayah, kau tenang saja," ucap Dev. Dev memeringkan kepalanya, sampai ia bisa mencium aroma rambut Safira.


"Terimakasih, Kak. Kak Dev yang terbaik!" Safira mengangkat kepalanya, lalu memeluk tubuh Dev dengan gemas.


'Ya, Tuhan.....Kuatkan aku, lindungilah aku dari semua kebucinan ini......dan juga kuatkanlah jiwa jombloku, agar aku tidak iri dan dengki pada dua makhluk dibelakangku ini.' Batin Jimmy. Jimmy berusaha menjadi orang tuli, sayangnya ia tidak berhasil, dan terpaksa Jimmy harus mendengar beberapa obrolan Unfaedah Tuan dan Nyonyanya.


"Jaga dirimu, Sayang. Aku akan menjemput nanti," ucap Dev saat mobil sudah terparkir di depan kafe Safira.


Dev menciumi kening Safira sekilas, membuat wajah Safira memerah seketika.


"Sampai jumpa nanti sore." Dev melangkah mendekati mobil, memasukkan dirinya ke dalam mobil itu, dengan pikiran yang terus melayang pada istri yang baru saja ia tinggalkan.


Dev menoleh ke arah luar jendela mobil. Ia tersenyum saat melihat Safira yang melambaikan tangan ke arahnya.


"Khemm....Ada yang lagi kasmaran, nih," ucap Alisha yang kini berdiri di belakang Safira. Alisha memegang pundak Safira, membuat Safira tersandar dari lamunannya.


"Alisha! Kau membuatku kaget saja!"


"Hemmm, aku sudah berbicara tadi, tapi kamu tidak mendengarnya!" sanggah Alisha. Alisha kini menarik lengan Safira. Mengajak Safira untuk masuk ke dalam kafe-nya.


"Bagaimana?"


"Bagaimana apanya?" tanya Safira sambil menaikkan satu alisnya, bingung.


"Itu, bagaimana kisah cintamu dengan si Dingin Devano?"


"Ya, seperti yang kau lihat sekarang. Aku sekarang bahagia dengannya, aku sudah mendapatkan balasan cinta darinya, dan aku...." Safira menggantung ucapannya.


"Kamu kenapa, Sa?" tanya Alisha khawatir.


"Aku sekarang sedang mengandung anaknya," jawab Safira dengan wajah yang kembali bersemu merah.


"Aaah, syukurlah....Aku ikut bahagia mendengarnya." Alisha kini memeluk tubuh Safira lalu menatap perut rata sahabatnya itu.


"Hai Devano junior? Kamu apa kabar di dalam sana? Perkenalkan, aku Bibi Alisha, Bibi tercantik sepanjang masa."


Safira hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah konyol Alisha. Bagi Safira, Alisha adalah sosok sahabat yang selalu setia padanya, selalu meluangkan waktu untuk dirinya, dan juga selalu menemani langkahnya, baik di saat senang ataupun sedihnya.


* * *


Author : Maaf karena ketelatan Update-nya🙏 Mohon pengertian dan dukungannya🙏 Salam maaf dari Author ingusan♥


Ig : Ichaannisaamanda