
Pagi harinya, di kediaman Henry.
"Ira....." teriak Zia memanggil nama anak gadisnya itu. Yang dipanggil hanya melambaikan tanggannya, sambil menuruni tangga.
"Ibu, jangan berteriak sepagi ini!" ucap Almira. Almira meraih tangan Zia mencuimi punggung tangan, lalu beralih pada kedua pipi wanita itu.
"Maksudku, suara ibu menggema, memenuhi seluruh ruangan yang ada di rumah ini," lanjut Almira. Sementara Zia hanya menggeleng samar saja.
"Ibu dan Ayah akan pergi ke penguruan. Apakah kau mau ikut, atau diam sendirian di sini?" tanya Zia.
"Memang ada acara apa di sana?" Almira balik bertanya.
"Ada perkumpulan senior, Bibi Jessica juga akan datang."
"Aku ikut....." teriak Almira ketika mengetahui Jessica akan datang ke perguruan.
"Hmmm, sekarang bujuklah Kak Agus, agar dia mau mengantarmu!" ucap Zia dengan senyum miring di bibirnya.
"Ah, Ibu saja yang mengatakannya. Aku tidak berani membujuknya." Almira mulai menekuk wajah masamnya.
"Aku sudah dengar, jadi, kau tidak perlu membujukku lagi, aku akan mengantarmu!" sahut Henry, Henry melangkah mendekati Almira, mendudukkan dirinya di samping gadis itu.
"Tapi ada syaratnya," bisik Henry pada Almira.
"Apa?"
Henry pun kembali mendekati telinga Almira, lalu membisikkan sesuatu pada gadis itu.
"Baiklah, aku setuju!" ucap Almira, Almira dan Henry saling berjabat tangan, sambil bertukar senyuman misterius ala mereka.
* * *
"Ibu dan Ayah mau kemana?" tanya Davin pada Jessica dan juga Aldy.
"Ada acara, kau mau ikut?"
"Acara apa? Dan dimana?" Davin balik bertanya.
"Emm, acara apa, ya?" Jessica bingung sendiri. Karena, kedua anaknya tidak ada yang tau siapa dia yang sebenarnya.
"Acara perkumpulan senior utama di perguruan Garuda, Ibumu adalah salah satu senior utama dan senior terhebat yang pernah ada," sahut Aldy. Aldy menatap Jessica, meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.
"Perguruan Garuda? Ibu? Ibuku? Ibu senior utamanya?" Davin membeku sambil menatap wajah Ibunya.
"Ayah? Ayah tidak berbohong, kan?"
"Tidak, itu fakta!"
"Ah, bangganya.....Aku ternyata anak seorang wanita tangguh....." teriak Davin sambil memeluk tubuh Jessica dengan gemasnya.
"Kenapa Ibu menyembunyikan hal itu dariku?"
"Ini demi kebaikan kalian. Intinya, Ibu dan Ayah sayang pada Davin, dan juga pada Kak Dev."
"Dan apapun keputusan yang kami buat, pasti itu yang terbaik untuk kalian kedepannya," lanjut Aldy dan Jessica bersamaan.
"Terimakasih, Ibu, Ayah."
Jessica tersenyum saat mendapatkan pelukan hangat dari putrinya. Begitu pula Aldy, ia ikut tersenyum saat melihat senyum indah Jessica.
"Aku akan ikut bersama kalian," ucap Davin setelah ia melepaskan Jessica dari pelukannya.
"Ayo!"
* * *
Perguruan Bela Diri Garuda Muda.
"Wah, ini dia yang ditunggu-tunggu!" ucap Juan pada Jessica dan juga Ken. Keduanya berjalan bersamaan, diikuti oleh langkah Aldy dan Keisha dibelakang mereka.
"Selamat datang, Kak Jess."
"Selamat datang, Senior Ken."
Zia, Zen, dan Arfan berjalan mendekati Jessica. Mencium punggung tangan wanita tangguh itu.
"Ada yang kurang dari kalian?" Jessica menatap wajah mereka secara bergantian.
"Dimana Bagas? Apa dia tidak datang?" lanjut Jessica bertanya.
"Dia masih sibuk, Kak. Dan menitip salam maaf atas ketidak datangannya."
"Emmm, begitu, ya?"
"Zen? Zia? Dimana putri kalian? Aku ingin bertemu dengannya?" tanya Ken pada kedua pasangan kompak itu.
"Masih dijalan, Kak. Mungkin sebentar lagi sampai," jawab Zen tersenyum.
"Baiklah, aku menunggu kedatangannya."
Zia melirik Davin sekilas, ia pun tersenyum saat mengingat, betapa hancurnya hidup Henry tanpa melihat gadis itu.
"Ibu, Ayah, aku keluar dulu, ada yang terlupakan di parkiran," ucap Davin. Dan hanya dibalas angggukan oleh semua orang yang mendengar ucapannya.
Davin melangkah menuju parkiran, sesekali ia tersenyum saat melihat begitu banyak piala yang terpajang di setiap sudut ruangannya.
"Almira?"
"Davin?" gumam Henry dengan senyuman yang mulai menghiasi wajah tampannya.
'Kenapa pria menyebalkan itu ada di sini?' Batin Davin bertanya.
Davin melangkah mendekati motornya, mengambil sebuah keresek kecil yang tertinggal di sana. Ia membalik tubuhnya dan hendak melangkah menjauhi parkiran.
"Davin!" Henry menahan tangan Davin, agar Davin berhenti dan menatap ke arahnya.
"Maaf," ucap Henry.
"Lupakan! Dan lepaskan tanganku sekarang!"
"Aku akan melepaskanmu, asalkan kau memberitahuku, dimana letak kesalahanku, sampai kau mencoba menjauh dariku, memblokir semua hal yang berhubungan denganku!"
"Salahmu?" Davin menatap Henry dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak Davin? Kak Agus?" Lirih Almira. Almira mencoba menenangkan keduanya, meminta mereka membicarakan semuanya dengan tenang, tanpa ada yang tersakiti nantinya.
"Duduklah, dan tenang diri Kakak!"
Henry melepas tangan Davin, lalu melangkah mendekati kursi panjang di dekat parkiran.
"Siapa gadis malam itu?!" Davin membuka suaranya. Memecahkan keheningan di antara mereka.
"Gadis yang mana?" Henry bingung sendiri. Seingatnya, ia tidak pernah dekat gadis manapun, kecuali dengan Davin dan juga Almira.
"Itu aku, Kak!" Sahut Almira. Almira kini mulai faham, dimana titik masalahnya.
"Itu aku, aku yang keluar dengan Kak Agus malam itu. Kami ke minimarket untuk membeli beberapa keperluan. Percayalah, itu aku, bukan gadis lain," lanjut Almira. Henry pun mengangguk, membenarkan ucapan Almira.
'Hiks, yang benar saja?! Aku jadi malu sendiri kan sekarang!' Batin Davin.
"Kenapa? Apa kau cemburu pada Almira?" Goda Henry. Davin hanya menggeleng dan menyembunyikan wajah malunya.
"Davina!" Teriak Jessica pada Davina. Davina terperanjat, dan langsung berlari menuju Jessica. Meninggalkan Henry dan Almira begitu saja.
"Aku tidak melanggar, Bu....." Lirih Davin, membuat Ken dan yang lainnya saling bertukar tatap. Bingung dengan apa yang mereka lihat sekarang.
"Kau! Kemarilah!" ucap Jessica pada Henry yang masih mematung di dekat kursi panjang itu.
Henry menarik napasnya, berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia harus tenang, tidak boleh gugup di hadapan Jessica!
"Ikut aku!"
Henry kembali menarik napasnya, lalu mengikuti langkah Jessica untuk memasuki perguruan.
"Ayah? Kak Henry tidak salah, dia tidak salah, Ayah. Davin lah yang salah...." Lirih Davin sambil menatap sang Ayah.
"Kau tenang, semua akan baik-baik saja, Ibumu tidak akan melakukan apapun padanya." Aldy mengelus kepala Davin, lalu tersenyum meyakinkan gadis labil itu.
"Hai, maukah kau dijodohkan dengan anakku?!" Goda Ken pada Almira.
Almira diam sejenak. Ia menatap Ayah dan juga Ibunya yang hanya bisa tersenyum padanya.
"Tidak mau, Paman! Anak Paman pasti galak! Sama kayak Paman!" ucap Almira, Almira langsung berlari menjauh saat mendapatkan tatapan tajam dari kedua orangtuanya.
"Hahaha, gadis kecil!"
* * *
Jessica menghentikan langkahnya, membuat Henry ikut menghentikan langkah kakinya. Wajah Henry sudah dipenuhi dengan butiran bening yang mengalir begitu saja. Henry gugup saat menatap wajah datar Jessica.
"Apakah kau benar-benar mencintai putriku?"
Henry mendongak. "Saya benar-benar mencintainya, sebelum saya tau dia adalah anak Bibi Jessica," jawab Henry dengan suara yang terdengar begitu berat.
"Buktinya?"
"Saya akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia." Henry tersenyum saat mengatakannya.
"Termasuk melupakannya dan juga menjauh dari kehidupannya?" tanya Jessica dengan senyum tipisnya.
"Saya akan melakukan itu, jika memang itu yang terbaik untuknya!"
"Hmmm, seharusnya begitu." Jessica diam sejenak.
"Tapi, bagaimana jika putriku tidak bahagia dengan kepergianmu? Dan tidak rela jika harus jauh dari dirimu?" lanjut Jessica.
"Maka saya akan tetap ada untuknya, walau hanya sekedar bertukar sapa dan dapat memandang wajahnya dari kejauhan."
Jessica tersenyum mendengar jawaban yang Henry berikan.
"Berjuanglah! Kau harus merebut hati Ayah dan Kakaknya, aku ada dibelakangmu!" ucap Jessica sambil menepuk pundak Henry pelan.
"Te-terimakasih, Bi."
"Aku ibunya Davin. Jadi, jangan panggil aku Bibi, panggil saja Ibu!"
"Terimakasih, Bu."
"Sama-sama," jawab Jessica tersenyum. Jessica mulai melangkah menjauhi Henry, ia kembali memasang wajah datarnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
'Oke, Restu Ibu Jessica sudah ditanganku, itu artinya, tinggal mengambil hati Devano dan Tuan Aldy saja!' Batin Henry. Henry tersenyum girang saat bayangan Davin berkeliaran di otaknya.
* * *