
Davin menjauh dari kerumunan pesta. Gadis itu duduk di pinggir kolam belakang sambil memeluk lututnya. Davin sedang merenungi semua ucapan Ayah dan Ibunya tadi sore.
Aldy melarang keras ia untuk berhubungan dengan Henry, jika sampai melanggar. Maka Ayahnya itu tidak akan memaafkannya.
Davin mengangkat wajahnya, saat ia merasakan sentuhan lembut pada bahunya. Davin pun bergeser, memberi tempat duduk untuk Ibunya, Jessica.
"Davina, jangan bersedih dulu, Nak," ucap Jessica. Jessica mengerti apa yang putrinya itu rasakan sekarang.
"Ayah saat menyayangimu, ia tidak ingin kau tersakiti nantinya," lanjut Jessica. Davin masih terdiam seribu bahasa.
Jessica menatap putri kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa itu, dielusnya kepala Davin lembut, sampai gadis itu bersandar pada pundaknya.
"Ibu, apakah salah jika Davin mencintai Om Henry?" tanya Davin dengan polosnya.
"Tidak salah, Sayang. Tapi untuk saat ini, itu salah, Davin harus fokus kuliah dulu, mengejar semua impian Davin. Setelah itu, Davin bebas untuk mencintai siapapun," jelas Jessica.
"Davin masih terlalu labil, Davin belum siap menghadapi rumitnya dunia percintaan," lanjut Jessica. Davina masih terdiam, mencerna apa yang baru saja Jessica ucapkan.
"Tapi, kenapa Ayah menatapku seperti itu, Bu? Apakah Ayah marah padaku?" tanya Davin. Kini ia berubah menjadi gadis manja, seperti Bibi Kamilanya.
"Tidak, Sayang. Ayah dan Ibu tidak pernah marah padamu." Jessica menarik nafasnya dengan pelan. Kini ia bisa merasakan ada Aldy yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Jessica pun menoleh, dan benar saja, Aldy berdiri sambil menatap ke arahnya dan juga Davina. Pria itu mendekat, lalu mendudukkan dirinya di samping kanan Davin.
"Davina?" panggil Aldy dengan nada yang begitu rendah. Davina tidak menjawab apapun. Ia bahkan tidak menoleh, karena takut Aldy marah padanya.
"Anak Ayah tidak boleh seperti ini, mana Davin yang tangguh itu? Ayah tidak suka melihat Davin lemah seperti ini," ucap Aldy. Davin pun menoleh ke arahnya.
"Ayah tidak marahkan, padaku?"
Aldy menggeleng lalu tersenyum pada putrinya itu.
"Maaf, Ayah....Davin berjanji untuk mematuhi semua larangan Ayah. Maafkan, Davin," lirih Davin. Gadis itu langsung masuk ke dalam pelukan hangat sang Ayah.
"Maafkan, Ayah. Ayah juga tidak bermaksud membuatmu sedih, tapi, Ayah harus tegas padamu, agar kau bisa menghargai ucapan Ayah," jawab Aldy sambil melepas Davina dari dekapannya.
"Tersenyumlah, jangan bersedih lagi," lanjut Aldy.
☆ ☆ ☆
Jauh diujung kota sana. Seorang pria menatap sang adik yang tiba-tiba terkapar tak berdaya di hadapannya. Wajah adiknya dipenuhi oleh luka memar dan juga beberapa luka cakaran.
Henry berjongkok lalu mengangkat tubuh Bastian, membawa Bastian untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah kubilang! Jangan pikirkan Safira lagi! Dan jangan pernah menyusun rencana jahat lagi untuk merebutnya dari Devano!" ucap Henry memperingati Bastian.
Bastian sudah menyiapkan semua rencana jahat untuk merebut Safira. Namun, semuanya hancur karena ulah Kakaknya sendiri.
"Kenapa, Kak? Kenapa kau selalu menghilang jalanku menuju Safira?!" ucap Bastian, dengan kesadaran yang masih melayang-layang.
"Karena kau salah! Jika kau melakukan kesalahan, maka sudah menjadi kewajibanku untuk menegur dan memperingatimu. Aku tidak ingin kau menjadi pria yang tidak bermoral hanya karena masalah cinta," jelas Henry. Bastian terdiam mendengarnya.
"Jika Safira belum menjadi istri orang lain, apakah kau akan membantuku untuk mendapatkannya?" tanya Bastian.
"Tentu saja, aku pasti akan membantumu, tapi ini salah, dia sudah menjadi istri orang lain. Dan orang itu bukanlah orang biasa, yang bisa kau kelabui dengan rencana jahatmu itu!" jawab Henry.
Terdengar Bastian menghembuskan nafasnya pelan.
"Bagaimana dengan gadismu itu?" tanya Bastian. Henry diam sejenak.
"Aku akan tetap mengejar cintanya," jawab Henry tanpa ragu.
"Apakah kau tau dia siapa?"
Henry menggeleng. Dia benar-benar tidak tau apapun tentang Davina. Yang ia tau hanya satu, Davina adalah gadis dingin dengan senyuman tipis yang mengobrak-abrik hatinya.
"Dia adalah adik Devano Pranata Yoga. Namanya Davina Pranata Yoga," ucap Bastian sambil menepuk pelan bahu Henry.
"Selamat berjuang, Kak. Maaf, aku tidak bisa menemani langkahmu," lanjut Bastian lalu memejamkan matanya yang terasa begitu berat.
"Bastian? Bangun!" ucap Henry sambil menggoyang- goyangkan tubuh Bastian.
"Bastian....." teriak Henry menggema diseluruh ruangan. Henry memeluk tubuh Bastian yang sudah tidak bernyawa lagi. Ia tidak menyangka, adiknya itu akan pergi meninggalkan dirinya, untuk selamanya.