Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano Untuk Safira (3)



Safira menatap Dev yang baru saja masuk ke dalam rumah utama. Safira bangkit dan langsung menanyakan tentang Davina pada Dev.


"Bagaimana, Kak? Apakah Davin sudah ditemukan?" tanya Safira dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Kita akan menemukan Davin, secepatnya. Kau tenang saja, Davina gadis yang tangguh, dan aku yakin, dia pasti memiliki alasan yang kuat untuk semua ini," jawab Dev. Dev mengelus kepala Safira lalu mengecup kening Safira cukup lama.


"Kau mau pulang?" tanya Dev. Safira menggeleng dengan cepat.


"Kita tunggu sama Ayah dan Ibu kembali saja, aku ingin bertemu dengan mereka," jawab Safira.


Dev pun tersenyum lalu memutuskan untuk mengajak Safira duduk di pinggir kolam belakang. Menikmati suasana hangat, yang masih terasa di rumah megah dan mewah milik keluarga besar Pranata Yoga ini.


* * *


Aldy dan Jessica tersenyum ketika mendapati mobil Dev yang terparkir di halaman utama. Kini keduanya melangkah memasuki rumah utama, mencari keberadaan Dev dan juga Safira.


"Dimana Safira dan Dev?" tanya Aldy pada kepala pelayan.


"Ada di kolam belakang, Tuan. Apa perlu saya panggilkan?"


"Jangan! Biar kami yang menghampiri mereka," tolak Jessica. Jessica menarik lengan Aldy, menyeret Aldy menuju halaman belakang.


"Ups!" Jessica dan Aldy langsung memutar badan mereka. Keduanya tersenyum malu saat melihat kelakuan nakal putra sulung mereka.


"Khemm!" ucap Aldy berdehem, membuat Dev dan Safira langsung menoleh ke arahnya.


'Aaaaa, malunya aku.....Ayah Aldy dan Ibu Jessica pasti melihat kami tadi! Ini semua karena Kak Dev! Awas saja! Aku tidak mau lagi dicium-cium olehnya!' Gerutu batin Safira.


Aldy dan Jessica melangkah mendekati Dev dan juga Safira. Jessica duduk di sebelah kanan Safira, sedangkan Aldy duduk di sebelah kiri putranya, Dev.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Jessica. Dev dan Safira menggelengkan kepala mereka secara cepat.


"Tidak apa, Bu. Ibu tidak perlu meminta maaf untuk itu," jawab Dev. Dev menarik nafasnya lalu melirik Ayah dan Ibunya secara bergantian.


"Ayah, Ibu? Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Tapi kurasa, aku tidak sanggup mengatakannya sekarang," ucap Dev dengan ekspresi wajah yang entah apa maknanya.


"Katakanlah, Dev. Ibu dan Ayah akan mendengarkan ucapanmu," jawab Jessica tersenyum.


Dev kini melirik ke arah Safira, lalu meraih tangan wanita itu.


"Aku juga akan menjadi seorang Ayah," ucap Dev tersenyum.


"Benarkah?" tanya Aldy dan Jessica bersamaan. Keduanya pura-pura tidak tau saja, agar Dev tidak kecewa nantinya.


"Selamat, ya, Nak...." ucap Jessica tersenyum pada Safira.


"Dan kau! Jangan membuat ibumu lelah atau terlalu sering muntah! Jika itu terjadi! Maka kau akan langsung berhadapan denganku! Dan akan mendapatkan hukuman dariku!" lanjut Jessica sambil menatap perut rata Safira.


"Hahahaha, Ibu ada-ada saja," ucap Safira tertawa.


"Ibu serius, Sa," jawab Jessica dengan wajah yang sedikit dibuat datar dan dingin.


"Hehehe, bagaimana jika Ayahnya saja yang dihukum terlebih dahulu?" Safira melirik Dev. Sementara yang dilirik hanya bisa pasrah dan menyerahkan diri saja.


"Apakah Dev menyakitimu, Nak?" tanya Aldy dengan tangan yang mulai menarik daun telinga Dev.


"Ayah....Ayah....Sakit, Yah...." teriak Dev, membuat Safira dan Jessica langsung tertawa sambil menatap ke arahnya.


"Jika Dev menyakitimu, maka langsung laporkan pada Ayah dan Ibu! Kami akan menghukumnya, sampai dia kapok dan tidak lagi menyakiti dirimu," jawab Aldy sambil tersenyum mengejek Dev.


"Jika kau melapor pada Ayah dan Ibu, maka aku juga akan menghukummu, Sayang! Kupastikan kau tidak akan pernah melupakan hukuman dariku!" bisik Dev pada Safira. Dev hanya bercanda, ia tidak mungkin menghukum istri tercintanya itu.


Namun, candaan Dev ditanggapi serius oleh Safira. Safira mulai bergeser menjauhi Dev, ia kini menempel pada Ibu mertuanya.


"Kak Dev mengancamku, Bu," lapor Safira pada Jessica.


"Apa yang dia katakan?!" tanya Jessica dengan tatapan tajam yang tertuju pada Dev.


"Kak Dev juga akan menghukumku, jika aku melaporkan kejahatannya pada Ayah dan ibu," jawab Safira dengan polosnya.


"Devano!"


"Aku hanya bercanda, Bu. Mana mungkin aku menghukum Safira, dia adalah nyawaku, semangat hidupku, dan juga kelemahanku," jawab Dev mendrama.


"Dasar Bucin!" sahut Aldy tersenyum mengejek.


"Ayah juga seperti itu!" jawab Dev tak mau kalah.


"Sudah-sudah! Kalian berdua sama saja!" Jessica membantu Safira untuk berdiri, lalu meninggalkan Dev dan Aldy tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Edelweiss-ku!" gumam Aldy.


"Oh, Safira-ku, nyawaku, cintaku, tunggu aku......" ucap Dev sambil tersenyum mengejek Ayahnya. Dev berlari saat melihat Aldy yang menatap ke arahnya dengan tatapan yang begitu tajam.


'Cepatlah kembali, Davin. Ayah tidak sanggup tersenyum lebih lama lagi, sementara Ayah tidak tau bagaimana keadaanmu diluar sana.' Batin Aldy.


* * *


Pukul 12 siang. Masih di rumah keluarga besar Pranata Yoga.


Safira melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar Dev. Sementara Dev masih diruang kerja Ayahnya, karena ada beberapa hal yang tidak bisa ia tinggal, dan harus dibahas sekarang juga bersama sang Ayah.


Safira menarik nafasnya dalam, lalu menggerakkan tangannya untuk membuka pintu kamar Dev. Safira masih menundukkan kepalanya, menatap lantai kamar itu. Rasanya, Safira belum sanggup untuk menatap sekeliling kamar Dev, yang menyisakan beberapa kenangan pahit dalam ingatan Safira.


Beberapa menit kemudian. Safira mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan. Mulutnya langsung terbuka lebar saat melihat kondisi kamar yang sangat berbeda dari sebelumnya.


"Kak Dev," lirih Safira sambil berjalan mendekati sebuah lukisan yang menggambarkan dirinya sendiri, yang sedang tersenyum sambil memandangi bunga-bunga yang bermekaran.


"Ini Villa Kamboja." Safira menyentuh lukisan indah itu. Ia mengira Dev tidak akan merubah dekorasi kamarnya, ternyata Safira salah. Dev bahkan melepas semua hal yang berkaitan dengan Aurora dari kamar itu, tidak seperti awal pernikahan mereka dulu.


Dimana kamar Dev dipenuhi oleh lukisan dan foto dirinya dan Aurora. Sampai tidak ada sejengkal dinding kamar pun yang kosong karena begitu banyak foto yang Dev pajang, saat itu.


"Sayang?" panggil Dev dari ambang pintu kamar. Safira menoleh ke arahnya, dan langsung berlari untuk memeluk tubuh pria itu.


"Jangan menangis, Sayang," ucap Dev sambil membalas pelukan Safira. Dev mengelus punggung Safira dengan penuh cinta dan juga kehangatan.


"Terimakasih, Kak." Safira melepaskan tubuh Dev, lalu menatap pria itu dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya.


"Seharusnya aku yang berterimakasih padamu, Sayang. Terimakasih karena sudah bersabar menghadapi semua sifat burukku diawal dulu, dan terimakasih karena kau sudah bersedia untuk mengandung anakku." Dev tersenyum lalu mengelus perut rata Safira.


"Terimakasih, Sayang....Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang terbaik untukmu dan juga untuk anak kita nanti," lanjut Dev, membuat Safira kembali meneteskan air mata dan langsung memeluk dirinya.


"Aku mencintaimu, Sayang....." gumam Safira yang kini membenamkan wajahnya pada dada bidang Devano.