Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Jangan Menangis, Nona!



Pukul 9 pagi. Safira kini tengah duduk di depan meja setrika. Sesekali, ia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Kejadian yang berhasil membuat dirinya berdebar sampai sekarang.


Safira seketika terkejut dengan dering Hpnya sendiri. Diraihnya benda pilih itu, lalu tersenyum kecut, saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar Hpnya.


"Hallo, Al. Ada apa?"


"Emm, aku hanya ingin memberitahumu, nanti malam, kafe akan disewa untuk acara ulang tahun, dan orang yang menyewa, memohon, agar kau datang ke acara ulang tahunnya."


"Memang siapa yang menyewa?" tanya Safira sambil menusuk-nusuk pipinya sendiri.


"Kak Bastian, ketua osis terpopuler di SMA kita, dulu."


"Hmmm, nanti ku usahakan untuk datang, bagaimana pun, aku juga harus menghargai permintaannya, agar dia tidak kecewa." Safira tersenyum sejenak.


"Baguslah. Tapi, apa pak Komang akan mengizinkanmu untuk keluar malam?"


"Nanti kucoba, semoga dia mengizinkan," jawab Safira. Wanita itu pun kembali tersenyum kecut. Takut jika Dev tidak memberi izin padanya.


"Baiklah, aku tutup teleponnya dulu. Sampai ketemu nanti. Bye, Jubaedah," ucap Alisha lalu memutuskan sambungan telepon.


Sedangkan Safira. Ia kembali melamun sambil memikirkan, bagaimana cara dan kapan waktu yang tepat untuk meminta izin pada Dev.


☆ ☆ ☆


Siang harinya. Dev dan Jimmy berjalan keluar dari lift. Keduanya hendak pulang untuk makan siang bersama Safira. Sebelumnya, Jimmy sudah menelepon Safira, memberitahukan tentang kepulangan mereka.


15 menit kemudian.


Sampailah Jimmy dan Dev di halaman depan. Jimmy keluar terlebih dahulu, membukakan pintu mobil untuk Tuannya.


"Ikutilah, Jimm," ajak Dev pada Jimmy yang masih mematung di dekat pintu utama.


"Tapi, Tu..."


"Aku tidak suka dibantah!" potong Dev. Pria itu pun berjalan mendekati dapur, diikuti oleh langkah Jimmy di belakangnya.


Dev tersenyum sekilas, lalu mendekati Safira yang masih sibuk menata menu makan siang di meja makan. Pria itu pun mendekat, lalu menyecup kening Safira. Hal itu kembali membuat wajah Safira memerah, ditambah lagi dengan adanya Jimmy yang berdiri di dekat meja makan.


"Kak Dev." Safira memalingkan wajahnya sambil memegang keningnya. Sementara Dev, pria itu hanya tersenyum tanpa dosa.


☆ ☆ ☆


Setelah makan siang. Safira berjalan mendekati Dev. Pria itu terlihat santai, sepertinya, semua urusannya di perusahaan sudah selesai.


"Emm, Kak Dev," panggil Safira dengan kepala yang tertunduk menatap lantai.


"Hmmm, ada apa?" Dev berusaha tersenyum. Walau hatinya menolak untuk itu.


"Aku, bukan, maksudku," ucap Safira tidak jelas.


"Duduklah, dan katakan dengan pelan-pelan!" Dev menepuk ruang kosong di dekatnya.


"Nanti malam, aku, aku akan berkunjung ke kafe." Safira diam sejenak. "Ada acara ulang tahun di sana. Dan....."


"Tidak ada wanita yang boleh keluar malam! Apalagi menghadapi pesta ulang tahun di luar rumah!" potong Dev. Padahal Safira belum sempat mengatakan point-nya.


"Jika kau ingin keluar! Maka keluarlah! Dan jangan kembali lagi ke rumah ini!"


"Kau tidak ingin mematuhi peraturan rumah ini? Maka pergilah ke mana pun kau mau! Asalkan jangan pernah pulang atau menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!!" lanjutnya lalu bangun dan meninggalkan Safira.


'Kak Dev, bukannya kau berjanji untuk tidak marah-marah lagi padaku? Tapi apa ini?!' Batin Safira. Wanita itu langsung menyeka air matanya, sambil tersenyum menguatkan dirinya.


"Nona, saya harap anda mengerti apa yang Tuan maksudkan. Tuan Dev tidak ingin anda keluar malam, ini semua demi kebaikan anda. Apa lagi sekarang, anda sudah berstatus menjadi istrinya. Tuan Dev pasti tidak ingin orang-orang di luar sana berkata yang bukan-bukan tentang Anda," ucap Jimmy panjang lebar.


Pria itu mengeluarkan sapu tangannya, dan memberikannya pada Safira.


"Jangan menangis, Nona."


"Salahnya dimana, Jimm?! Aku pemilik kafe itu, apakah salah jika aku ingin memenuhi permintaan sederhana pelangganku?!" lirih Safira tertunduk.


"Aku memang salah, salah karena terlalu banyak berharap pada Tuanmu itu. Aku memang wanita yang..."


"Jangan berkata seperti itu, Nona. Ibu Jessica dan Ayah Aldy ada dibelakang anda. Semua orang mendukung Anda," potong Jimmy lalu berjongkok di depan Safira.


"Maaf jika saya lancang mencampuri urusan pribadi anda dan Tuan Muda Dev," lanjutnya.


"Sudahlah, Jimm! Aku tidak apa-apa, aku sudah biasa." Safira bangkit lalu berlari menuju ruang setrika. Mengurung dirinya di dalam ruangan itu.