
3 Oktober -
Seorang wanita menatap pantulan tubuhnya pada sebuah cermin besar. Wanita itu memperbaiki rambut dan juga posisi baju yang ia kenakan.
Senyum mulai terlukis di wajahnya, saat ia sendiri merasa puas dan nyaman dengan penampilannya.
Pintu ruang ganti itu tiba-tiba saja terbuka. Membuat sang wanita langsung menoleh dan tersenyum, saat melihat sosok pria tampan yang sedang melangkah mendekati dirinya.
"Masih lama?" tanya pria itu sambil memeluk tubuh lebar wanitanya. Ia mempererat pelukannnya, sambil memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh sang istri tercinta.
"Lepas, Sayang! Jika begini terus, kapan kita perginya?!"
"Sebentar saja." Dev menjatuhkan dagunya di atas bahu Safira, lalu tersenyum saat melihat pantulan tubuhnya dan juga tubuh Safira.
Dimana, tubuh Safira semakin melebar dengan perut besar yang terlihat lucu dan menggemaskan.
"Kau menertawaiku?!" Safira menekuk wajahnya. Karena kesal melihat Dev yang terus tersenyum tak jelas di belakangnya.
"Kau cantik, Sayang. Aku suka melihatmu seperti ini."
Dev membalik tubuh Safira menghadap dirinya, ia menundukkan kepalanya, sampai keningnya dan kening Safira menyatu.
"Aku tidak menertawaimu, aku hanya bahagia. Hanya itu, tidak pernah terlintas di hati atau pun di pikiranku untuk menertawai dirimu. Kau Safira-ku. Kau Ibu dari calon anakku!" ucap Dev.
"Hmmm. Kau memang pintar membual! Sudahlah! Aku bosan mendengar bualanmu!" Safira mencubit batang hidung Dev, lalu menari tangan Dev, mengajak Dev untuk segera keluar dari ruangan itu.
"Pelan-pelan, Sayang!" Dev pun menghentikan langkah di depan pintu kamar. Ia menarik napasnya, dan langsung mengangkat tubuh Safira, membawa Safira ke dalam gendongan. Dev menggendong tubuh Safira selama menuruni tangga.
"Apakah aku semakin berat?" tanya Safira dengan polosnya.
"Tentu saja, Sayang! Tapi aku tidak masalah dengan berat badanmu, lagi pula, kau begini karena ulahku, dan karena kau sedang mengandung anakku," ucap Dev sambil menurunkan tubuh Safira dari gendongannya.
Dev meraih tangan Safira, menggenggam tangan itu sampai mereka keluar dari rumah.
Jimmy tersenyum pada kedua orang yang berjalan mendekati dirinya. Ia langsung mundur beberapa langkah, memberikan jalan untuk Tuan dan Nyonyanya.
Dev melepaskan tangan Safira. Ia membuka pintu mobil untuk Safira, lalu mempersilakan Safira untuk masuk terlebih dahulu.
Dev kembali meraih tangan Safira, saat dirinya sudah duduk tepat di samping wanita itu.
Sementara Jimmy, ia langsung tersadar dari lamunannya. Jimmy melangkahkan kakinya mendekati mobil, lalu mendudukkan dirinya di kursi pengemudi.
Mobil itu kini melaju keluar dari halaman depan rumah Dev. Setelah itu, mobil pun melaju ke arah timur, menuju kediaman keluarga besar Pranata Yoga.
Kedatangan Dev dan Safira disambut oleh senyuman hangat dari Kamila, dan juga Jessica. Keduanya sudah menunggu mereka sejak tadi. Bahkan sempat kesal karena terlalu lama menunggu keduanya.
"Pelan-pelan, Sa," ucap Jessica khawatir. Jessica pun mendekat, lalu membantu memegang lengan kiri Safira. Sementara Dev berjalan di sebelah kanan Safira.
Jessica dan Dev membantu Safira untuk berjalan menuju ruang keluarga. Dan mulai mendudukkan diri mereka di sana.
"Kau tidak apa-apa aku tinggal, kan?" tanya Dev sambil menatap wajah Safira.
"Tidak apa, selesaikanlah semuanya, aku akan menunggu di sini," jawab Safira tersenyum.
Dev pun menatap Ibu dan Bibinya. Lalu Dev pamit pada keduanya. Karena, ia harus menyelesaikan beberapa urusan dengan Ayahnya di lantai atas.
Safira tersenyum. "Hasilnya perempuan, Bi. Tapi kita lihat saja nanti, apakah benar perempuan yang keluar?!" jawabnya.
"Perempuan ataupun laki-laki sama saja, Nak. Hal itu tidak terlalu penting, yang terpenting, ia lahir dalam keadaan sehat dan selamat," timbal Jessica tersenyum. Dan dibalas senyuman juga oleh Safina dan Kamila.
"Wah, wah, kita kedatangan tamu spesial rupanya...." ucap Davin yang kini berdiri di depan pintu ruang keluarga.
Davin melangkah mendekati Ibunya dan juga Safira. Davin mendudukkan dirinya di sebelah kanan Safira, lalu berkata.
"Hai, apakah kau bisa mendengar ucapanku?" tanya Davin tepat di depan perut Safira.
"Lihatlah! Dia mendengarmu, dan mungkin suka padamu!" ucap Safira saat merasakan tendangan kecil dari buah hatinya.
"Benarkah? Ah, gemasnya....." Davin menatap perut Safira, dengan kedua tangannya yang sudah tidak tahan ingin segera mencubit gemas bayi yang ada di dalamnya.
Sementara itu, Kamila dan Jessica hanya bisa tersenyum sambil menyaksikan tingkah lucu Davina. Keduanya saling bertukar pandang, dengan hembusan napas yang terdengar tenang.
'Semoga selalu seperti ini kedapannya. Dev dan Safira bahagia dengan keluarga kecil mereka. Dan Davina bahagia dengan pria pilihannya.' Batin Kamila berdo'a.
* * *
Sore harinya. Dev dan Safira sudah kembali ke rumah mereka. Kini mereka sedang duduk di ruang tengah, dengan posisi Safira duduk di atas sofa, sedangkan Dev duduk di bawah lantai.
Dev sengaja duduk di bawah. Hal itu Dev lakukan, agar ia lebih mudah ketika memotong kuku kaki Safira.
Dev menaruh kaki kanan Safira di atas pahanya, lalu mendongak sejenak untuk menatap Safira.
"Maaf, maaf karena aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Sampai aku lupa untuk memperhatikan kebersihan kuku kakimu ini," ucap Dev sambil mulai memotong kuku kaki Safira.
"Tidak apa, Sayang. Aku mengerti, dan seharusnya, Aku lah yang meminta maaf karena selalu merepotkan dirimu."
"Ssstt, kau tidak pernah merepotkanku, ini sudah kewajibanku, untuk menjaga dan merawat tubuhmu, di saat dirimu tidak mampu untuk melakukannya sendiri!" tegas Dev.
Dev menurunkan kaki kanan Safira, lalu menaikkan kaki sebelah kiri Safira ke atas pahanya.
"Terimakasih," lirih Safira dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Safira kini tidak kuat lagi menahan air matanya. Membuat air mata itu mengalir dan membasahi pipinya.
"Sayang? Kenapa menangis? Apakah aku salah memotong kuku-mu?" Panik Dev. Dev bangkit lalu mendudukkan dirinya di samping Safira. Ia menarik tubuh Safira, sampai Safira masuk ke dalam pelukannya.
"Kenapa menangis, Sayang?" tanya Dev sambil menyeka air mata Safira dengan Ibu jarinya.
"Apa perutmu sakit? Atau ada bagian tubuh lainnya yang sakit?"
Safira hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab semua pertanyaan yang Dev ajukan pada dirinya.
"Menangislah! Selama hal itu bisa membuat dirimu lebih tenang." Dev kembali menarik tubuh Safira. Membiarkan Safira menangis dalam pelukannnya.
Cukup lama. Akhirnya Safira menghentikan tangisannya, dan ia langsung tertidur beberapa menit setelah Dev membaringkan tubuhnya.
Dev menatap wajah Safira, lalu mendaratkan kecupan hangat pada kening Safira.
"Aku mencintaimu, Sayang," bisik Dev.
Dev menarik selimut untuk menutupi tubuh Safira. Dev kembali memandang wajah Safira, dan juga mengecup kening Safira, sebelum ia melangkah menjauhi Safira. Dan mulai sibuk di depan meja kerjanya.
* * *