Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Davina Pranata Yoga - Episode Final II



Davin menyandarkan kepalanya, memejamkan matanya untuk mengingat, betapa indahnya senyuman yang Henry berikan waktu itu padanya.


Waktu dimana ia terakhir kali diizinkan untuk bertemu dan berbicara dengan Henry. Sebelum Henry pergi untuk menjalankan semua syarat yang diajukan oleh Kakak, dan juga Ayahnya.


Dimana, Kakak dan Ayahnya meminta Henry untuk memperdalam ilmu bela diri dan juga meminta Henry untuk memulai usahanya. Hasil dari usaha itulah yang akan digunakan Henry untuk menikahi Davin dan mencukupi semua kebutuhan Davin nantinya.


Davin tidak mempermasalah syarat apapun yang diajukan pada dirinya dan juga pada Henry. Karena, bukan hanya Henry yang mendapatkan syarat, Davin juga mendapatkan beberapa syarat dari Ayah dan juga Ibunya.


Dimana, Davin juga diminta untuk mulai belajar memasak dan mengerjakan segala bentuk pekerjaan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci dan melipat baju, dan juga pekerjaan rumah yang lainnya.


Ini semua sudah menjadi keputusan dan ketetapan yang tidak bisa diubah oleh siapapun. Karena, Aldy dan Jessica ingin, agar putrinya dan Henry betul-betul siap untuk menghadapi segala bentuk ujian pernikahan nantinya.


Davin menarik napasnya, dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia meraih Hpnya, menatap layar Hp itu cukup lama.


"Telpon tidak, ya?" gumam Davin.


Davin kembali menatap layar Hpnya, saat benda pipih itu tiba-tiba saja berdering, dan menampilkan nama pemanggil yang sangat ia nantikan.


"Hallo? Bolehkah saya bica dengan Nona Davina? Saya sangat merindukanmu." ucap seorang pria di seberang sana.


"Maaf, Anda tidak diperbolehkan menggombal seperti itu padanya. Jika Anda mengulangi lagi, maka, Nona Davin semakin jatuh cinta pada Anda!" jawab Davin dengan wajah yang mulai memerah.


"Oh, baiklah, saya tidak akan mengulangi lagi. Tapi, bisakah Anda sampaikan padanya? Kalau saya benar-benar mencintainya, dan sangat merindukannya sekarang! Saya bahkan hampir gila karena tidak pernah bertemu dengannya."


"Baiklah, saya akan menyampaikan pada Nona Davin!" jawab Davin, yang masih larut dalam drama yang ia dan Henry mainkan.


Cukup lama. Keduanya hanya diam, tanpa membicarakan apapun, sampai terdengar, Henry sedang menghembuskan napasnya di seberang sana.


"Davin, bagaimana kabarmu?" tanya Henry dengan nada yang terdengar begitu rendah.


"Aku baik-baik saja, Kak. Bagaimana dengan Kak Henry?"


"Selama kau baik-baik saja, aku pun akan baik-baik saja." Henry tersenyum sejenak.


"Hahahaha, begitu, ya? Tapi sayangnya, aku tidak ingin mendengar jawaban seperti itu!"


"Aku baik-baik saja, Manis. Percayalah!"


"Bagaimana dengan kuliahmu? Apa semuanya lancar?" lanjut Henry bertanya.


"Hmmm, lancar semuanya.....Tapi...."


"Tapi apa?"


"Tapi akunya yang nggak semangat kuliah. Hehehe."


"Hemmm, kukira apa! Kenapa tidak semangat kuliah lagi? Apakah kau tidak ingin menyelesaikan kuliahmu?"


"Aku ingin menyelesaikannya. Bahkan sangat ingin cepat-cepat menyelesaikan semuanya! Tapi aku sendiri bingung, bingung dengan semangat yang tidak pernah muncul lagi pada diriku ini...." keluh Davin. Davin bangkit lalu berpindah ke atas kasur, membaringkan di sana.


"Hmmm, jadi? Apa yang bisa membuat semangatmu bangkit lagi?"


"Entahlah, aku juga tidak tau, Kak!"


"Davina, kau tidak boleh seperti ini terus! Ayo, bangkitlah! Aku juga di sini berjuang untukmu, semakin lama kau menyelesaikan kuliahmu, maka itu artinya, semakin lama juga aku bisa bertemu denganmu....Kau tidak rindu padaku?"


Davin diam sejenak, ia membalik tubuhnya, menatap pintu kamar yang hendak terbuka.


"Kak, aku tutup dulu, ya? Lanjut lagi nanti...." ucap Davin lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Davin segera menyalakan datanya, dan berpura-pura memainkan akun instagramnya.


"Davin?" panggil Jessica yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Turunlah, Kak Dev datang dan menunggumu di ruang keluarga," lanjut Jessica. Davin pun tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya mendekati Jessica.


"Ayo, Bu!" Davin mengandeng tangan Jessica. Berharap Jessica ikut turun dengannya, dan tidak memeriksa kamarnya.


"Kau duluan saja, Ibu mau mengecek hasil lipatan bajumu," jawab Jessica tersenyum miring.


"Hehehe, aku duluan, Bu....."


Davin segera berlari menjauhi Jessica. Ia tidak sanggup melihat ekspresi Ibunya jika sampai melihat hasil lipatan tangannya.


"Kak Dev....." teriak Davin mendrama. Davin berlari memasuki ruang keluarga dan langsung mendudukkan dirinya di samping kanan Dev.


"Kak Dev apa kabar?"


"Kabar Kak baik," jawab Dev tersenyum tipis.


"Bagaimana dengan Kak Safira? Kenapa Kak Safira tidak ikut dengan Kak Dev?" Davin menatap Dev penuh curiga.


"Safira sedang di rumah Ibunya sekarang. Tapi kau tenang saja, Kak Dev akan membawanya ke sini nanti malam, bagaimana?"


"Kak Dev tidak menyakiti Kak Safira, kan? Tidak pernah memerahi Kak Safira lagi, kan?" selidik Davin.


"Jika aku menyakiti Safira, itu artinya, aku akan menyakiti diriku sendiri, dan aku juga akan menyakiti anakku yang masih berada di dalam kandungannya!"


"Jangan bahas itu lagi, ada hal lain yang inginku bicarakan denganmu!" lanjut Dev.


Dev menarik tangan Davina, mengajak Davina untuk duduk di taman belakang rumah utama.


* * *


Davina dan Dev duduk berhadapan di sebuah meja dan juga kursi bundar di halaman belakang. Dev menatap wajah Davin, ia bisa melihat begitu besar cinta yang Davin simpan untuk Henry di sana. Dan Dev juga bisa merasakan, betapa tersiksanya Davin jika terus dipisahkan dengan Henry seperti sekarang ini.


"Davin?"


"Apakah kau siap jika menikah dengan Henry nantinya?"


"Apakah kau siap menanggung semua risikonya?"


Davin mengangguk pelan. "Aku siap, tapi bukan tahun ini ataupun tahun depannya. Aku ingin menyelesaikan kuliahku, aku ingin menggapai cita-citaku dan juga membuat Ibu dan Ayah bangga padaku."


"Apakah kau tau, berapa usia Henry sekarang?" tanya Dev.


Davin kembali menganggukkan kepalanya. "Usianya dua puluh tujuh tahun, sekarang."


"Apakah kau yakin, kalau Henry akan sanggup menunggumu sampai kuliahmu selesai? Apakah kau yakin, Henry sanggup menunggu selama 3 atau 4 tahun kedepan?" tanya Dev mengetes.


"Aku yakin, Kak Henry sudah mengatakan itu padaku, dia akan menungguku, menunggu sampai aku siap dan juga menunggu sampai Ayah dan Kak Dev memberi restu untuk kami," jawab Davin dengan nada percaya dirinya.


Davin yakin, Henry pasti akan setia padanya, dan akan tetap menunggu dirinya.


"Baiklah, Kak Dev kalah, Kak Dev ada dibelakangmu, dan juga Henry." Dev tersenyum sejenak.


"Selesaikanlah kuliahmu, dan cepat raih cita-citamu, sebelum Henry berpaling darimu," goda Dev.


"Kak Henry tidak seperti itu, dia hanya mencintaiku!"


"Baiklah, Henry hanya mencintaimu, dan aku kini ada di belakang kalian, berjuangnlah! Aku bukanlah ancaman besar bagi hubungan kalian, tapi Ayah. Ayahlah yang berhak atas dirimu sekarang, maka, Ayahlah yang berhak untuk memberi restu padamu dan juga Henry."


"Berjuangnlah untuk mendapatkan restu darinya, aku yakin, kau dan Henry bisa mendapatkan!" lanjut Dev tersenyum.


"Terimakasih, Kak." Davin bangkit lalu memeluk tubuh tegap Dev. Ia merasa begitu bahagia dengan dukungan yang Dev berikan untuknya.


'Lihatlah, betapa kompaknya hati kalian! Ibu harap, bersaudaraan kalian akan tetap seperti ini, sampai kalian berdua menua dan bahagia dengan kehidupan kalian nantinya.' Batin Jessica.


Jessica memutar tubuhnya, ia melangkah menjauhi taman belakang. Dan berpura-pura tidak mengetahui semua pembicaraan kedua anaknya itu.


* * *


Safira menatap jam dinding di kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Tapi, Dev belum juga datang untuk menjemput dirinya. Padahal ia sedang menunggu kedatangan pria itu. Dan sangat merindukan tingkah jahil suaminya itu.


Safira terus menatap jam dinding. Matanya mengikuti kemana arah jarum jam itu berputar, membuat fokusnya hanya tertuju pada jarum jam itu.


"Sayang!" Sebuah bibir jahil langsung mendaratkan satu kecupan di atas pipi Safira. Membuat Safira langsung tersadar dan menatap ke arah sang pemilik bibir jahil itu.


"Kenapa lama sekali, Kak....." rengek Safira. Safira mengubah posisi duduknya, lalu mengerakkan tangannya untuk menarik ujung baju yang Dev kenakan.


"Baru 3 jam, Sayang."


"Tetap saja! 3 jam itu lama....." protes Safira.


"Baiklah, aku minta maaf. Karena sudah meninggalkanmu begitu lama." Dev mendudukkan dirinya di samping Safira. Dan mulai menatap perut rata Safira.


"Maaf, kau juga marah, ya, pada Ayah?" Dev mengangkat wajahnya saat mendengar tawa keluar dari mulut Safira.


"Kenapa tertawa, Sayang?"


"Hehehe, tidak, Kak Dev. Aku hanya menertawakan tingkahmu." Safira menangkup kedua pipi Dev, lalu mengecup sekilas hidung mancung pria itu.


"Dia tidak marah pada Kak Dev. Dia sangat menyayangi Kak Dev," ucap Safira sambil mengelus perut ratanya.


"Benarkah, dia sangat sayang padaku?"


"Heeem, aku bisa merasakannya. Mungkin dia akan lebih dekat dengan Kak Dev nanti."


"Tidak boleh begitu, dia akan dekat dengan kita, bukan aku saja, atau bukan kau saja. Tapi kita! Kau harus ingat itu!"


Dev menaikkan kakinya, lalu meletakkan kepala di atas paha Safira. Dev memiringkan tubuhnya, sampai wajahnya berada tepat di depan perut Safira.


"Ayah dan Ibu sayang padamu!" Dev mengangkat baju yang Safira kenakan, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat pada permukaan perut Safira.


"Kak Dev." Safira mengelus kepala Dev, ia mulai menundukkan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan di atas rambut harum Dev.


"Kita akan selalu bersama...Seperti ini, aku ada untukmu, dan kau juga akan selalu ada di hati dan pikiranku! Selamanya!" ucap Dev sambil membenamkan wajahnya di depan perut Safira, tangannya juga tidak bisa berhenti bergerak, mengelus-elus punggung Safira.


"Aku mencintaimu, Sayang!"


"Aku lebih!" jawab Safira.


"Aku tau itu!"


"Hmmm, aku beruntung, ya? Bisa mendapatkan balasan cinta dari orang seperti Kak Dev."


"Jangan mulai lagi, Sayang! Ssst, jangan bicara lagi, aku sedang berkomunikasi dengannya!"


"Hahahaha, baiklah! Aku tidak akan mengganggu lagi, lanjutkanlah!"


Safira membiarkan Dev melakukan apapun yang ingin ia lakukan, termasuk untuk berbicara dengan cabang bayi yang masih berada di dalam perutnya.


'Terimakasih, Tuhan. Terimakasih atas semua takdir yang tertulis untukku. Aku yakin, Engkau pasti akan memberikan yang terbaik untukku, untuk Kak Dev, dan juga untuk calon bayi yang ada di dalam perutku ini. Kami percaya pada takdir baik dan juga burukmu.' Batin Safira


* * *


Catatan author:


Novel ini sebenarnya udah tamat. Tapi, ya begitu, author harus menulis beberapa episode lagi, supaya tamatnya nggak gantung dan juga pembaca nggak kecewa, gitu loh😊


Hehehe. Dan author minta maaf, ya? Karena Upnya yang nggak menentu ini😷 Tau, kan? Author ni masih sekolah, masih ingusan😷 Jadi, masih punya beban dari sekolah dan juga beban hidup lainnya😂 Hehehe, mohon pengertiannya, ya?😘


Hiks, author sayang kalian👑