
Pukul 06.08 pagi.
Safira membuka matanya, menatap langit-langit kamar, lalu menatap wajah tampan yang masih tertidur di sampingnya.
Safira menyetuh pipi Dev, mencubit-cubit pipi itu dengan gemas. Cukup lama, Dev yang merasakan sentuhan itu pun terbangun lalu menghentikan tangan jahil Safira.
Dev mengenggam tangan Safira, lalu mencium punggung tangan wanita itu.
"Kak Dev?" panggil Safira dengan tangan yang mulai memainkan daun telinga Dev.
"Kenapa, Sayang?"
"Tidak ada, aku hanya ingin memanggil saja," jawab Safira.
"Apakah Kak Dev tidak marah padaku?" lanjutnya bertanya.
"Tidak, memang kenapa aku harus marah pada istriku ini?" jawab Dev sambil menatap lekat wajah Safira.
"Ya, karena aku tidak memanggil Kak Dev, dengan panggilan sayang," ucap Safira dengan raut wajah yang terlihat bersalah.
"Aku tidak marah, Sayang. Panggillah sesukamu, aku milikmu, dan kau berhak untuk melakukan apapun padaku," jelas Dev tersenyum.
"Benarkah? Aku boleh melakukan apapun pada Kak Dev?" tanya Safira dengan wajah yang berubah ceria.
"Hmmm, apapun." Dev mencoba tersenyum, walaupun ia sudah berfirasat, sesuatu yang aneh akan segera menimpa dirinya.
Safira bangun, lalu menatap Dev dengan tatapan yang entah apa maknanya.
"Kak Dev, aku ingin mandi," lirih Safira.
Dev menatap jam dinding. Jam masih menunjukkan pukul 06.23.
"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu," ucap Dev lalu turun dari kasur.
"Kak Dev?" panggil Safira lagi. Dev pun berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Morning kiss?" ucap Safira sambil menunjuk bibirnya, membuat Dev langsung tersenyum dan memberikan kecupan singkat pada bibir Safira.
"Terimakasih." Safira tersenyum lalu kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Sementara Dev, ia kembali melangkah menuju kamar mandi, dengan bibir yang tak kunjung berhenti tersenyum.
10 menit kemudian.
Dev keluar setelah menyiapkan semua kebutuhan mandi Safira, mulai dari air, handuk dan juga baju ganti untuk istrinya itu.
"Sayang, bangunlah! Semuanya sudah siap," ucap Dev pada Safira yang masih berbaring malas di atas kasur.
"Gendong...." rengek Safira. Dev hanya menanggapinya dengan senyuman, ia pun mengangkat tubuh Safira, menggendong Safira sampai ke dalam kamar mandi.
Dev keluar dari kamar mandi, setelah ia menurunkan Safira dan juga mengecek ulang suhu air yang hendak Safira gunakan. Dev melangkah mendekati meja kerjanya, karena akhir pekan, Dev berpikir untuk menghabiskan semua waktunya bersama Safira, dan meminta Jimmy untuk menyelesaikan beberapa urusannya.
* * *
Safira keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terbungkus oleh pakaian hangat, yang dipilihkan Dev untuknya. Wanita itu menatap sekeliling kamar yang sudah rapi dan juga bersih, lalu tersenyum saat melihat Dev yang duduk di depan meja kerjanya.
"Kak Dev?" panggil Safira pada Dev yang tengah sibuk dengan Hpnya.
Dev menoleh lalu tersenyum pada Safira. Ia mematikan Hpnya, meletakkannya di atas meja kerja, lalu melangkah mendekati Safira.
"Kenapa keramas?" tanya Dev sambil memegang rambut Safira yang masih basah.
"Rambutku bau," jawab Safira.
"Tapi sekarang tidak lagi. Harum..." lanjut Safira sambil menciumi aroma sampo yang melekat pada rambutnya.
"Sini, aku akan mengeringkan rambutmu," ucap Dev. Seolah-olah, pria itu sudah mengetahui apa yang Safira inginkan sekarang.
Dev menarik kursi di depan meja rias, lalu mempersilakan Safira untuk duduk.
"Duduklah, Sayang," ucap Dev tersenyum.
Safira mendudukkan dirinya. Ia mulai memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang Dev berikan pada rambutnya.
Dev mengeringkan rambut Safira dengan telaten, lalu menyisir rambut itu, sampai rambut Safira benar-benar terlihat rapi.
"Kak Dev tidak mandi?" tanya Safira setelah ia merasa puas memanfaatkan kebaikan Dev.
"Nanti saja, lagi pula, ketampananku tidak akan berkurang walau tidak mandi seharian," jawab Dev tersenyum miring.
"Ya, ya, aku akui ketampanan Kak Dev memang akan tetap terlihat walau tidak mandi seharian," gumam Safira.
Safira berpikir sejenak, dengan mata yang menatap pantulan wajah Dev di cermin. Safira menggerakkan tangannya, mengambil sebuah kotak kecil, yang ia gunakan untuk menyimpan ikat rambut dan juga jepit rambutnya.
Safira bangkit dari duduknya, memutar tubuhnya menghadap Dev, kemudian meminta Dev untuk sedikit menundukkan kepalanya.
"Sayang, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Dev. Safira hanya diam, kini ia sibuk mengikat rambut Dev dengan ikat rambut kecil, berwarna pink cerah.
"Kak Dev duduk dulu, aku tidak tahan berjinjit terus," keluh Safira.
Safira kini menarik kursi rias, lalu meminta Dev untuk duduk di sana.
Dev hanya bisa patuh saja, ia berusaha untuk bersabar dan menikmati setiap apa yang Safira lakukan pada dirinya.
"Tampannya," ucap Safira sambil menatap pantulan wajah Dev. Kini rambut Dev sudah diikat oleh Safira. Namun, hal itu benar-benar tidak mengurangi kadar ketampanan seorang Devano Pranata Yoga.
"Sudah puas, Sayang?" tanya Dev dengan nada yang tetap pelan dan lembut.
"Terimakasih," ucap Safira seraya memeluk tubuh Dev dengan gemas. Safira meminta Dev untuk bangkit, lalu memposisikan dirinya dan Dev, sampai keduanya berhadapan dan saling menatap satu sama lain.
Safira berjinjit, ia menciumi setiap inci wajah Dev. Dev hanya menahan tawanya, ia benar-benar tidak mengerti dengan suasana hati Safira, istrinya itu kadang-kadang menyebalkan, tapi mampu membuat dirinya terbang melayang.
"Sudah, sudah, ini geli, Sayang," ucap Dev sambil menahan Safira yang masih menghujani wajahnya dengan kecupan hangat.
"Tidak mau!" tolak Safira.
Safira menepis tangan Dev, dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Beberapa menit kemudian. Safira menghentikan aksinya, ia kini menatap Dev lalu kembali tersenyum manis pada pria itu.
"Aku lapar," ucap Safira sambil memegangi perutnya.
"Ayo! Sekarang kita sarapan dulu!" ajak Dev. Dev kembali mengangkat tubuh Safira, membawa Safira keluar dari kamar, dan menuruni tangga.
"Kak Dev, aku malu..." gumam Safira, Safira menyembunyikan wajahnya saat mereka berpapasan dengan Laras.
Sementara Laras, wanita itu hanya tersenyum, tanpa berkomentar apapun, ia mengerti apa yang sedang Tuan dan Nyonya-nya rasakan sekarang.
☆ ☆ ☆
Usai sarapan, Dev mengajak Safira untuk keluar, ia berniat untuk mengunjungi rumah utama, dan menyampaikan kabar gembira tentang kehamilan Safira pada Ayah dan Ibunya.
Sebenarnya, Dev tidak perlu melakukan hal itu, karena Aldy dan Jessica sudah mengetahui semuanya dari Jimmy. Jimmy selalu melapor pada Aldy dan Jessica, setiap kali ada hal baik ataupun yang kurang baik, yang terjadi pada Dev dan Safira.
Itu semua sesuai dengan perintah dan amanah yang dibebankan pada seorang Jimmy. Pria yang selama ini selalu menemani langkah seorang Devano Pranata Yoga.
* * *
30 menit perjalanan.
Sampailah mereka di halaman utama, seperti pada umumnya, Dev lah yang keluar terlebih dahulu, dan membukakan pintu untuk sang istri tercinta.
Dev meraih tangan Safira, mengenggamnya dengan erat, membuat wajah si pemilik tangan kembali memerah.
"Selamat datang, Tuan Muda," ucap kepala pelayan pada Dev. Dev hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Ibu dan Ayahku mana?" tanya Dev.
"Emmm, Tuan Aldy dan Nyonya Jessica sedang mencari keberadaan Nona muda Davin," jawab kepala pelayan dengan kepala yang tertunduk.
"Apa maksudnya? Memang Davin kemana?" tanya Dev. Sementara Safira hanya menjadi pendengar setia saja.
"Nona, Nona Davin tidak pernah pulang sejak kemarin sore, dan para pengawal juga tidak mengetahui dimana Nona Davin sekarang, mereka semua kehilangan jejak," jelas kepala pelayan.
"Sayang, kamu diam disini, ya? Aku akan menghubungi beberapa orang terlebih dahulu," ucap Dev pada Safira.
"Kak Dev, jangan pergi," jawab Safira sambil menahan tangan Dev.
"Aku tidak akan kemana-mana, aku hanya di depan saja," jelas Dev tersenyum.
"Mbak, temani Safira!"
Kepala pelayan hanya menganggguk lalu tersenyum pada Safira.
"Duduklah, Nyonya," ucapnya pada Safira. Safira pun mendudukkan dirinya dengan pikiran yang tertuju pada Davina sekarang.
'Sebenarnya, apa yang terjadi, sampai Davin menghilang seperti ini?' Batin Safira bertanya.