Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Awal Perjuangan



Satu minggu kemudian. Pernikahan Devano dan Safira sudah selesai dilaksanakan. Dan kini waktunya untuk bersenang-senang bersama kedua pengantin baru itu.


Safira menatap Dev yang hanya tersenyum palsu, lalu ia beralih menatap orang-orang di sekitarnya yang mulai bergandengan tangan menuju tempat berdansa.


Safira kembali menatap wajah Dev. Ingin rasanya ia mengajak pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu untuk berdansa, seperti yang dilakukan pasangan-pasangan lainnya.


"Emm, Kak Dev? Bisakah temani aku berdansa?" ucap Safira tersenyum.


Dev diam tidak menjawab apapun, pria itu bahkan tetap sibuk dengan ponselnya. Dan sama sekali tidak berniat untuk berdansa dengan Safira.


"Hahaha, Devan. Ayo, aku ingin berdansa denganmu. Ayo, ayo!"


Ucapan Aurora beberapa tahun yang lalu kembali terngiang di telinga Devano. Dev mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Safira yang tertunduk dengan ekspresi yang begitu menyedihkan.


"Aku tidak bisa berdansa, jadi maaf, aku tidak bisa menemanimu," jawab Dev beralasan.


"Tidak apa, Kak." Safira tetap menunduk, ia tidak ingin menatap wajah Dev. Karena ia sudah tau pria itu tidak akan suka berbicara dengan mata yang saling menatap.


"Aku ke kamar mandi dulu," lanjut Safira. Safira meletakkan Hp dan juga tasnya di atas meja lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Sa," panggil Jessica. Wanita itu melangkah mendekati Safira yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Ibu." Safira menoleh ke arah Jessica lalu menguatkan dirinya agar tidak menangis di hadapan Ibu mertuanya itu.


"Apa putraku menyakitimu, Nak?"


"Tidak, Bu. Kak Dev tidak menyakitiku," jawab Safira tersenyum.


"Ibu, maaf, aku sudah tidak tahan lagi." Wanita itu melangkah dengan cepat menuju kamar mandi, lalu menutup pintu kamar mandi dengan rapat.


"Tidak, Sa! Kau tidak boleh menyerah secepat ini! Kau bahkan belum 24 jam menjadi istrinya! Kau harus kuat, demi tujuan awalmu menikah dengannya! Kau pasti bisa mengembalikan senyuman! Kau bisa, Sa!" ucap Safira menyemangati dirinya sendiri.


Beberapa menit kemudian. Safira keluar dengan wajah yang sudah kembali tersenyum ceria. Ia berjalan menelusuri lorong panjang menuju tempat dimana pesta masih dilangsungkan.


"Kak Safira." Davin berdiri tempat di depan Safira, menghalangi jalan wanita itu. Gadis itu menarik lengan Safira menuju taman samping rumah utama.


"Ada apa, Davin?" tanya Safira bingung.


"Dengar baik-baik, Kak. Jangan sekali-kali mencoba untuk memasuki ruang kerja Kak Dev nanti. Aku takut, takut jika terjadi sesuatu pada Kakak. Jadi aku beri tahu sekarang sebelum semuanya terjadi," jawab Davin sedikit berbisik.


"Ruang kerja? Baiklah, aku akan mengingatnya." Safira tersenyum getir. Ia yang memulai semua ini, maka ia juga yang harus mengakhirinya.


☆ ☆ ☆


Dev membuka pintu kamarnya dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita yang tertidur di atas sofa di pojok kamarnya. Dev melangkah mendekati Safira, ditatapnya wajah lelah wanita itu.


"Kenapa wanita ini tidur di sini?" gumam Dev. Ia terdiam beberapa menit, lalu sadar, bahwa dirinya lah yang menyebabkan wanita malang itu harus tidur di sofa seperti ini.


"Ibu, maafkan aku. Aku tidak pantas disebut pria sejati seperti ayah." Dev kembali menatap wajah Safira lalu menggendong wanita itu menuju tempat tidur.


Setelah menyelimuti dan memastikan Safira nyaman. Barulah Dev kembali melangkah menuju kamar mandi.


15 menit kemudian.


Dev keluar dari kamar mandi dengan wajah tampan yang sudah segar. Ia mendekat ke arah tempat tidur lalu mengambil bantal dan tidur di sofa. Walau sebenarnya ia risih, tapi jauh lebih risih lagi jika melihat seorang wanita yang tidur di tempat ini.


"Entah mengapa, semua yang Safira ucapakan pasti selalu mengingatkan aku pada Rara. Safira dan Rara seperti wanita yang sama, walaupun begitu, rasanya sungguh berat jika harus melupakan Rara dan menggantinya dengan Safira," gumam Dev sebelum ia lelap dalam tidurnya.


Safira membuka matanya dengan perlahan. Lalu berguling ke kanan dan ke kiri.


"Ah, kenapa aku tidak jatuh, ya," gumam Safira yang masih mengira dirinya tertidur di sofa seperti semalam.


"Kasur? Lalu di mana Kak Dev tidur?"


Safira mengedarkan pandangannya mencari sosok Dev. Matanya semakin terbuka lebar saat mendapati Dev yang masih tertidur pulas di atas sofa.


'Kak Dev, aku yakin, sebenarnya kau masih seperti Kak Dev yang aku kenal dulu. Hanya saja kau masih butuh waktu untuk kembali tersenyum seperti dulu lagi.' batin Safira.


Safira mengalihkan pandangan saat Dev membuka matanya dan langsung menatap ke arah Safira.


"Aku, aku akan menyiapkan air untuk Kak Dev," ucap Safira lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri!" jawab Dev sebelum wanita itu masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air untuk dirinya.


Dev melangkah mendekati Safira. "Kau tidak perlu repot-repot untuk melayaniku, aku tidak bu...." Dev menghentikan ucapannya saat menyadari apa yang ia katakan pasti akan sangat melukai hati Safira.


"Sudahlah! Aku yang mandi terlebih dahulu!" lanjutnya lalu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Safira yang masih mematung dengan ekspresi wajah yang sedikit kecewa.


'Tidak apa, Sa. Cobalah cara lain, masih banyak waktu untuk mencoba meluluhkannya.' Batin Safira menyemangati dirinya sendiri.


☆ ☆ ☆


Setengah jam kemudian. Dev dan Safira sudah selesai mandi secara bergantian. Kini keduanya keluar, dan menuruni tangga secara bersamaan.


'Awal yang bagus, Kak Sa. Aku yakin Kakak bisa mengembalikan senyum ceria Kak Dev.' batin Davina berharap.


"Selamat pagi Kak Dev. Selamat pagi Kakak Ipar."


Davin tersenyum tipis pada Dev dan juga Safira, lalu mengajak kedua orang itu untuk langsung bergabung di meja makan bersama Aldy dan Jessica.


"Ayah, Ibu...Aku akan mengajak Safira untuk pindah ke rumah baru. Bagaimana menurut Ayah dan Ibu?" tanya Dev pada Aldy dan Jessica.


"Emm, sebenarnya Ibu ingin kalian tinggal di sini. Tapi tidak apa, Ibu mengerti, kalian butuh waktu untuk saling menyesuaikan satu sama lain. Jadi, Ibu dan Ayah pasti akan mendukung semua keputusan yang akan membuat kalian berdua nyaman," jawab Jessica tersenyum.


"Terimakasih, Bu."


Jessica tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari anaknya itu. Sungguh Jessica sangat merindukan Dev-nya yang dulu. Dev yang selalu tersenyum di hadapannya dan di hadapan semua orang.


☆ ☆ ☆


Usai sarapan bersama, Dev langsung meminta para pelayan untuk mengemasi barang-barangnya. Sedangkan Safira mengemas sendiri semua barang-barang yang akan ia bawa ke rumah baru mereka.


Safira menatap ke arah sebuah lukisan yang di taruh di bawah lemari Dev. Ia menyentuh lukisan itu lalu menariknya agar bisa melihatnya dengan jelas.


"Kak Aurora?" Safira kembali meletakkan lukisan itu pada tempat semula, sebelum Dev masuk dan melihat dirinya yang sudah lancang memegang lukisan itu.


"Nona Safira, Tuan Dev sudah menunggu Nona di halaman utama," ucap seorang pelayan yang mengemasi barang-barang Dev tadi.


"Baiklah, aku sudah selesai." Safira menyeret kopernya lalu menatap lekat-lekat kamar Dev.


"Huh, semoga semua akan jauh lebih baik di sana," gumamnya lalu menutup pintu kamar, dan membiarkan para pelayan yang membawa kopernya.