Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Maaf #2



"Safira mana?" tanya Dev yang memang tidak pernah melihat Safira, sejak wanita itu mengatakan akan menyiapkan makan malam terlebih dahulu.


"Lah, bukannya tadi Kak Safira naik ke atas untuk mandi dan ganti baju?" jawab Davin lalu menyipitkan matanya menatap ke arah Dev.


Dev seketika terdiam. Sebenarnya, Safira tidak pernah naik ke atas, oleh sebab itu, Dev sampai menanyakan keberadaannya pada Davina.


"Tidak ada! Dia tidak pernah naik!" ucap Dev lalu menuruni tangga dan langsung berjalan menuju kamar kosong, yang pernah ditempati oleh Laras waktu beberapa hari yang lalu.


Dev membuka pintu kamar itu, lalu terdiam saat mendapati Safira yang tertidur di atas kasur kecil, sepertinya ia benar-benar kelelahan, setelah memasak dan membersihkan dapurnya yang berantakan karena ulah Davina.


"Kenapa tidak naik, dan tidur di atas saja, Bodoh?! Di sini banyak debu, dan pasti sangat tidak nyaman!" gumam Dev lalu mengangkat tubuh Safira dan membawa wanita itu naik menuju kamarnya.


"Nah, gitukan enak!" gumam Davin yang sendari tadi melihat Kakaknya yang menggendong Safira menaiki tangga.


Sementara Dev, ia membuka pintu kamar lalu menidurkan Safira dengan hati-hati. Dev menghembuskan nafasnya pelan lalu kembali turun untuk menemani Davina makan malam.


"Makanlah, jangan pikirkan Safira. Dia hanya kelelahan," ucap Dev pada Davin. Davin pun mengangguk lalu memulai makan malamnya tanpa banyak bicara.


Usai makan malam yang hening itu, Dev menyempatkan dirinya untuk membersihkan meja makan dan juga piring-piring kotor. Entah mengapa, ia kasihan jika mengingat bagaimana lelahnya Safira melakukan semua pekerjaan rumah, yang tidak ada habisnya.


"Aku akan mencucinya, Kak. Sebaiknya, Kak Dev bangunkan Kak Safira. Atau bawakan makan malam untuknya, dia pasti sangat lapar sekarang," ucap Davin lalu menyiapkan nasi dan juga lauk untuk Safira.


"Apa kau yakin akan mencuci semua ini?" tanya Dev ragu.


"Kenapa tidak, apa Kak Dev meragukan kemampuanku?!"


"Tidak, Kakak tidak yakin saja. Gadis sepertimu bisa melakukan pekerjaan seperti ini." Dev tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya menuju dapur, dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


"Bangunlah untuk makan malam," ucap Dev. Pria itu pun bangkit dan langsung duduk di depan meja kerjanya.


"Kak Dev sudah makan malam?"


"Sudah."


"Maaf," ucap Safira lirih.


"Maaf untuk apa?" tanya Dev, namun matanya masih terfokus pada layar laptopnya.


"Aku sudah merepotkan Kak Dev, maafkan aku, lain kali, aku tidak akan tertidur lagi disembarang tempat." Safira tertunduk.


"Lupakan saja, sekarang turunlah untuk makan malam. Masih ada Davin di sana."


Safira pun mengangguk dan langsung turun dari kasur. Matanya kembali menatap ke arah lukisan itu, 'Tidak apa, Sa. Bukankah kau baik-baik saja, walau dia tidak mencintaimu!' Batin Safira.


Wanita itu terus menunduk sampai ia keluar dari kamar Dev, dan juga menuruni tangga.


"Davin? Apa yang kau lakukan? Biarkan saja, nanti Kakak yang mengerjakannya. Kau masuklah ke dalam kamurmu!" ucap Safira lalu mendekati Davin yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Tidak apa, Kak. Kakak sekarang duduk dan makan malamlah! Biar aku yang mengerjakan semua ini!'


"Tapi..." ucapan Safira terhenti saat mendapatkan tatapan dingin dari adik iparnya itu.


"Baiklah, lakukan saja," ucap Safira lalu mendudukkan dirinya di atas meja makan dan langsung menyantap makan malamnya.