Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano



Dev kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Sementara Safira, wanita itu langsung berlari kecil menuju dapur. Ia terus tersenyum bahagia, sambil sesekali bersenandung ria.


Beberapa menit kemudian. Pintu utama kembali terbuka, Davin memasuki rumah sambil melempar-lempar kunci motornya ke udara.


"Kak Safira... Kakak di mana?" teriaknya mencari Safira.


"Di dapur," jawab Safira sedikit berteriak.


"Aku punya sesuatu untuk Kakak." Davin tersenyum lalu memberikan sebuah bingkisan pada Safira.


"Apa ini?"


"Bukanya nanti saja, itu hadiah dariku, anggap saja hadiah pernikahan untuk yang kedua kalinya," jawab Davin. Wanita itu pun keluar dari dapur, dan melangkah memasuki kamarnya.


"Apa yang terjadi pada mereka? Kenapa tiba-tiba memberiku hadiah?" gumam Safira sambil meletakkan bingkisan tadi di atas meja makan. Lalu kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.


"Dari siapa?" tanya Dev yang kini sudah masuk ke dalam dapur, dan berdiri di dekat meja makan.


"Dari Davin," jawab Safira jujur.


"Tumben." Dev pun mendudukkan dirinya di kursi lalu meraih bingkisan itu. Karena jujur, ia curiga pada adiknya yang tiba-tiba memberi hadiah pada Safira.


'Apa ini? Dari mana Davin mendapatkannya?' Batin Dev bertanya, setelah ia membuka bingkisan itu dan melihat apa isinya.


"Kau sudah melihat isinya, tidak?" tanya Dev pada Safira. Wanita itu pun menggeleng.


"Belum kulihat, memang apa isinya, Kak?"


"Lihat saja nanti," jawab Dev lalu melangkah mendekati Safira.


"Ada yang bisa kubantu?" lanjutnya menawarkan diri untuk membantu Safira memasak menu makan malam.


"Tidak ada, Kak." Safira sekilas tersenyum.


"Baiklah, jika kau tidak butuh bantuanku." Dev kembali melangkah menuju meja makan. Dan duduk di sana.


...☆ ☆ ☆...


Setelah makan malam. Safira dan Davin duduk di ruang tengah, menonton Tv sambil menikmati es krim mereka.


"Belum, tapi Kak Dev sudah membuka dan melihat isinya terlebih dahulu," jawab Safira santai.


"Ya, Tuhan... Yang benar saja, Kak Sa?!" teriak Davin dengan wajah yang mulai pucat.


"Kenapa? Memang apa isinya?" tanya Safira curiga.


'Matilah, aku! Kak Dev pasti akan menanyakan hal itu padaku!' Batin Davin.


"Ada apa? Kenapa sampai berteriak-teriak?" tanya Dev tiba-tiba, pria itu pun ikut duduk di dekat Safira.


"Aku, aku pamit ke kamar dulu, ada tugas yang belum kuselesaikan." Davin langsung berdiri dan berlari keluar dari ruangan itu.


Sementara Safira, ia masih terbengong dan bingung harus melakukan dan mengatakan apa sekarang.


"Bibirmu," ucap Dev lalu mengusap bibir Safira yang belepotan oleh es krim, dengan ibu jarinya. Ia tersenyum saat melihat wajah Safira yang tiba-tiba merona merah.


Dev bergeser menjauh, lalu mematikan Tv yang sendari tadi menyala. "Apakah kau sudah selesai?" tanya Dev tidak jelas.


"Selesai apa, Kak?"


"Selesai dengan semua hal," jawabnya semakin tidak jelas.


"Kak Dev bicara apa? Apa yang sebenarnya Kak Dev ingin bicarakan," tanya Safira bingung.


Entah setan apa yang merasuki Dev, sampai-sampai pria itu mulai mendekat dan langsung mencium bibir Safira. Ia menyesap manis es krim pada permukaan bibir dan sedikit melumhat bibir bawah Safira, yang terasa begitu manis dan juga nikmat, hingga Dev menarik pelan tengkuk Safira. Menikmati bibir manis yang menimbulkan candu pada dirinya. Bibir Dev ingin terus dan lebih lama lagi di sana.


Ciuman ringan itu berhasil membuat jantung Safira loncat dari tempatnya.


"Kak Dev." Safira mendorong dada Dev pelan, setelah ia merasa kehabisan oksigen untuk bernapas. Pria itu pun langsung tersadar dan memalingkan wajahnya, malu untuk menjelaskan semuanya pada Safira.


Safira masih menatap ke arah Dev, sambil menyentuh bibirnya. Ia kembali menunduk saat Dev menatap ke arahnya.


Beberapa menit, suasana hening, bahkan sangat hening. Sampai Dev sendiri yang kembali mengangkat suaranya.


"Safira?"


Safira mengangkat kepalanya, sampai keduanya saling menatap sampai beberapa detik.