
Dev menatap Safira yang sedang menyiapkan baju kerja untuknya. Matanya bahkan tidak rela untuk menatap objek lain, selain istrinya Safira.
"Kenapa Kak Dev menatapku seperti itu?" tanya Safira sambil melangkah mendekati Dev.
"Ulangi ucapanmu!" Dev menatap wajah Safira. Safira kini tersenyum padanya.
"Kenapa Kak Dev menatapku seperti itu?" Safira mengulangi ucapannya.
"Kau melakukan kesalahan, Sayang!" ucap Dev penuh penekanan pada kata 'Sayang.'
"Maaf, Kak." Safira kini tertunduk. Ia juga tidak mengerti dengan lidahnya sendiri.
"Safira..." Dev melangkah mendekati wanita itu. Menatapnya dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dev tiba-tiba. Safira hanya mengangguk, masih dengan kepala yang tertunduk.
"Ya, sudah. Aku tidak akan memaksamu, panggillah se-nyaman mungkin," ucap Dev mengalah.
Safira mengangkat kepalanya lalu tersenyum pada Dev. "Terimakasih, Kak."
"Sama-sama, Sayang," jawab Dev tersenyum. Dengan batin yang mencoba memahami keinginan Safira.
"Ayo, sarapan!" ajak Safira sambil menarik lengan Dev. Wanita itu benar-benar tidak sadar, kalau Dev belum memakai apapun selain handuk yang melilit di pinggangnya sekarang.
"Sayang, kau ingin membuat Bibi Laras pingsan melihat semua ini?" tanya Dev. Safira pun menatap pria itu, lalu melepas lengannya.
"Maaf, Kak." Safira langsung tertunduk dengan wajah yang bersemu merah.
Dev menghembuskan nafasnya pelan. Ia pun meraih kemeja dan celananya, memakainya di depan Safira. Safira langsung menutup matanya, ia benar-benar malu jika harus melihat semua keindahan yang terpampang jelas di hadapannya itu.
Usai berpakaian rapi, Dev mengajak Safira untuk turun. Kini keduanya sedang duduk di meja makan. Menikmati sarapan yang dibuatkan oleh Laras.
20 menit kemudian.
Dev dan Safira sudah selesai dengan sarapan mereka. Safira menghantarkan Dev sampai halaman depan, ia terus menatap mobil yang Dev dan Jimmy tumpangi, sampai mobil itu benar-benar hilang dari penglihatannya.
Safira pun masuk ke dalam rumah, mengambil Hp dan tasnya. Ia berniat untuk mengunjungi kafe hari ini, karena begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Alisha, sahabatnya.
☆ ☆ ☆
Safira membuka pintu kafe, dan langsung melangkah menuju dapur kafe, untuk mencari keberadaan Alisha.
"Al!" panggil Safira sambil menyentuh pundak wanita itu.
Alisha yang kaget pun berteriak menyebut nama seseorang, yang entah siapa orang itu. "Markonah!" teriak Alisha.
"Huh, ada apa Bu Boss? Kenapa harus mengagetkanku seperti ini?!" protes Alisha saat mengetahui siapa yang telah menyentuh bahunya.
"Al, ini penting, aku ingin bicara denganmu, sekarang juga!" ucap Safira lalu menyeret Alisha keluar dari dalam dapur. Keduanya masuk ke dalam ruang pribadi milik Safira.
"Al, katakan, apakah kabar tentang Kak Bastian itu benar adanya?!" tanya Safira langsung pada intinya.
Alisha diam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
"Benar, Sa. Kak Leon sendiri yang memberi tahuku. Kak Bastian akan dimakamkan sore nanti," jawab Alisha dengan nada yang begitu rendah.
Safira langsung terdiam mendengarnya, ia masih tidak percaya dengan semua ini. Selama ini, Bastian begitu terlihat aktif dan tidak terlihat seperti orang sakit, atau pun memiliki gangguan jiwa, seperti apa yang dikatakan teman-temannya SMA-nya.
"Al, aku, aku ingin tau, apa penyebab kematian Kak Bastian," lirih Safira.
"Dia mengamuk, memukul, dan mencakar dirinya sendiri, Sa," jawab Alisha, sesuai informasi yang ia dapatkan dari Leon semalam.
"Ya, Tuhan...." Safira langsung tertunduk. Jujur, ia sangat sedih mendengar semua ini. Bukan karena apa, tapi karena Safira cukup mengetahui informasi pribadi Bastian. Terutama bagaimana perjuangan Ibunya untuk membesarkan dan membiayai sekolah Bastian dan juga Kakaknya selama ini.
☆ ☆ ☆
"Kak Dev, aku, aku ingin meminta izin padamu."
"Katakan saja, Sayang. Aku tidak akan marah padamu," jawab Dev dengan sabar.
"Aku dan Alisha ingin menghadiri pemakaman Kak Bastian. Kumohon....Izinkan aku...."
"Baiklah, tapi aku akan ikut bersamamu!" tegas Dev. Safira pun menyetujui itu, asalkan ia tetap diizinkan untuk pergi.
☆ ☆ ☆
Pukul 3 siang.
Dev dan Jimmy memutuskan untuk pulang lebih awal, ini semua mereka lakukan untuk Safira. Karena bagaimana pun, Dev tidak mungkin membiarkan Safira pergi begitu saja. Tanpa ada dirinya di sisi Safira.
Mobil terparkir di halaman depan. Di sana juga sudah ada mobil Safira, mobil yang biasa digunakan Bambang untuk menghantar Safira keluar rumah.
Dev membuka pintu utama, berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar itu dengan pelan, agar Safira tidak terkejut nantinya.
"Kak Dev?" Safira berlari mendekati Dev. Memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Aku ada di sini, Sayang. Jangan menangis lagi," ucap Dev, pria itu membalas pelukan Safira.
"Aku akan berganti baju dulu, duduk dan tunggulah sebentar." Dev melepaskan dirinya dari pelukan Safira, lalu melangkah mendekati lemari baju, mencari baju yang akan ia gunakan untuk menghadiri pemakaman Bastian.
☆ ☆ ☆
Setengah jam kemudian.
Sampailah Dev, Safira dan juga Alisha di depan pemakaman tempat Bastian akan dimakamkan.
Dev keluar terlebih dahulu, pria itu membukakan pintu mobil untuk Safira. Sementara Bambang membukakan pintu mobil untuk Alisha, wanita itu satu mobil dengan Dev dan juga Safira.
"Al." Safira meraih tangan Alisha, menggenggam tangan itu, selama perjalanan memasuki makam. Sedangkan Dev dan Bambang hanya membuntuti saja.
Terlihat begitu banyak orang yang menghadiri pemakaman Bastian. Mulai dari teman SD, SMP, SMA dan juga teman-teman kuliahnya.
Safira dan Alisha berdiri tidak jauh dari lubang makam. Keduanya bahkan menyaksikan pemakaman itu sampai selesai, dan ikut berdoa bersama untuk ketenangan Bastian di dalam sana.
'Kau yang tenanglah, Kak. Aku tau, kau adalah pria yang baik, memiliki hati baik juga. Tapi aku tidak menyangka, ternyata selama ini kau memendam rasa cinta yang begitu besar untukku. Maafkan aku, Kak Bastian. Aku tidak bisa membalas cintamu, sekali lagi, maafkan aku.' Batin Safira. Tidak terasa, Safira dan Alisha pun ikut meneteskan air mata mereka. Bayangan Bastian masih tergambar begitu jelas dipikiran keduanya.
* * *
Henry bangkit lalu menatap ke arah Safira dan Alisha. Ia merasa tidak asing dengan kedua orang itu, karena pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.
"Safira?" sapa Henry dengan kedua mata yang sudah membengkak, pria itu benar-benar merasakan kehilangan yang mendalam sekarang.
"Kami turut berduka atas kepergian Kak Bastian," jawab Safira dan Alisha bersamaan.
"Terimakasih karena sudah menyempatkan diri kalian untuk datang." Henry mencoba tersenyum, walau hati dan pikiran masih tertuju pada Bastian, adiknya.
"Sama-sama, Kak."
"Sayang? Ayo kita pulang?" ucap Dev yang sendari tadi memperhatikan Safira, Alisha dan juga Henry.
"Ah, iya. Kami pamit, Kak. Kakak yang sabar, ya?" ucap Safira. Henry hanya menganggapinya dengan senyuman.
Dev pun menggenggam tangan Safira, menjaga wanita itu agar tidak ada mata lain yang berani menatap istrinya. Dev benar-benar menjaga, dan mencintai Safira dengan sepenuh hatinya sekarang.