DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 8



Orang bilang, kita akan menemukan banyak persimpangan yang membuat kita bingung saat usia menginjak 20 tahun. Usia di mana kita akan ragu untuk berjalan, ragu untuk memulai dan ragu dengan kemampuan yang kita miliki. Rasa cemas akan sering menemani kita dengan bayang bayang kegagalan.


Tapi, terkadang tidak harus menunggu sampai kita berusia 20 untuk berada di titik mengerikan tersebut.


Nyatanya setelah menghela nafas lega setelah di nyatakan lulus Ujian Nasional, senyum merekah milik Kanaya makin ke sini makin terlihat samar. Rasanya, dia sudah berada di titik yang seharusnya ia temui dalam 2 tahun nanti. Ia sudah menemukan Jalan penuh persimpangan itu, hingga membuatnya bingung untuk melangkah ke jalan yang mana.


Dalam diamnya, gadis itu hanya menatap kosong ke arah kumpulan awan putih dengan seutas garis berwarna biru.


Obrolan dengan mamanya beberapa hari lalu setelah Ujian Nasional berlangsung tiba tiba terlintas, mengisi kekosongan di pikirannya.


"Nay, kuliah itu menurut mama wajib. Masa iya kamu enggak kuliah sih, Sakha aja kuliah"


"Lagian nay, kalau kamu takut dengan tugas tugasnya, Mama jamin, Sakha bakalan bantu kamu"


Dan Kanaya juga menjamin, Kuliah yang hukumnya di wajibkan oleh mamanya itu akan berganti status setelah Kanaya memberitahu alasannya tidak mau kuliah.


"Mama tau kenapa Nay enggak mau kuliah, ini bukan perkara tugas ma, Ini menyangkut Sakha"


Alis mama saling bertaut, Menyangkut Sakha Naya bilang.


"Memang Sakha kenapa?" Tanya mama mulai penasaran


"Apa dia enggak ngizinin kamu buat kuliah?"


"Malah sebaliknya" Jawabnya di sertai helaan nafas panjang.


Sama seperti Mama, Sakha pun mendesaknya untuk melanjutkan pendidikan di universitas yang sama sepertinya. Alih alih menolak dengan alasan ingin Fokus sebagai ibu rumah tangga, Sakha justru terkekeh,


"Lo mau fokus jadi Ibu rumah tangga? Seriuss?"


Kala itu Kanaya mengangguk, Ragu ragu ia mendongak untuk menatap Sakha, Apa coba yang membuatnya tertawa!, Apa menjadi ibu rumah tangga itu sesuatu yang lucu untuknya.


Sakha menyudahi tawanya, mengaruk hidung lalu menatap Kanaya lekat.


"Lo serius nay, beneran enggak mau kuliah?"


"Gue serius lah"


"Enggak, Sebagai suami lo, gue enggak setuju" Tiba tiba saja dia ngegas.


"Lagian nay, kita tuh belum punya anak, lo mau jadi ibu rumah tangga, terus siapa yang lo urus hah?, Uda, pokonya lo harus kuliah, masalah biaya enggak usa di pikirin, sebab itu urusan gue sebagai kepala rumah tangga di sini"


"Dan itu alasan gue enggak mau kuliah"


Ucapan Naya yang lantang sukses membuat Sakha terdiam. Keduanya saling menatap tanpa bersuara. Hingga beberapa detik setelah itu, Kanaya kembali berucap.


"Gue bukan orang pinter Kha, Kalau lo nyuruh gue kuliah, itu sama aja dengan mempersulit hidup kita, Kalau lo kuliah, ya enggak papa, lo pun pasti kuliah dengan Jalur Beasiswa, tapi gue!" Kanaya menggeleng lirih


"Gue enggak bisa lewat jalur beasiswa, dan gue enggak mau ngrepotin lo lebih dari ini"


"Gue tau tanggung jawab lo besar sebagai kepala keluarga di sini. Tapi Kha, lo tau gunanya gue sebagai istri?"


Melihat Sakha terdiam, Kanaya justru tersenyum. tatapan lembutnya itu berhasil menghipnotis Sakha untuk tetap diam, menunggu Kanaya meneruskan kalimatnya.


"Gue ada di sini untuk mengurangi beban lo, bukan untuk menambah"


"Jadi-"


"Gue enggak merasa terbebani nay," Sakha memotongnya cepat. Langkah demi langkah menuntutnya untuk semakin dekat dengan Kanaya, hingga akhirnya dia sampai di depan gadis itu.


"Cukup jadi istri penurut, itu uda ngurangin beban gue nay" Kata Sakha, kedua tangannya mendarat di pundak Kanaya. iris matanya yang teduh seakan mendukung perkataan Sakha jika dia serius dengan apa yang di ucapnya. Kesiapan untuk membuka hati memang belum ada, tapi Sakha tetap akan kekeuh dengan prinsip-nya, ia ingin mempertahankan pernikahan ini, tanpa peduli adanya perasaan yang saling terhubung di hati satu sama lain.


"Uda, enggak usa nelangsa gitu muka lo"


Lelaki itu menarik Kanaya, meski tidak erat tapi mampu membuat Kanaya merasakan bagaimana tulusnya seorang Sakha.


"Lagian, gue sama Tama sebentar lagi kaya, martabak kita kan laku tuh, jadi lo enggak usa mikir soal biaya kuliah, yang ada lo stres, terus siapa yang rugi, gue kan?"


"Lo tau gak sih gue serius, bisa bisanya lo Giniiin GUEEE!!"


Sakha malah terkekeh,


"Nangis aja kalau mau nangis" Ujarnya enggan melepaskan tubuh Kanaya, iya Sakha masih mendekap gadis itu, kali ini bahkan lebih erat dari tadi


"Lo enggak perlu tau banyak hal nay, tapi yang satu ini menurut gue lo harus tau"


"Apa"


"Setiap suami pasti menginginkan yang terbaik untuk istrinya, begitu pun dengan gue"


Kanaya menarik ingusnya. Melingkarkan tangannya ke pinggang sang Mama sambil sesenggukan setelah menceritakan bagaimana baiknya Sakha.


"Kan Naya jadi bingung ma" adu anak itu.


Sementara mamanya, beliau hanya bisa mengusap bahu Kanaya.


Bukannya tidak mau merespon, tapi dia sendiri bingung harus mengatakan apa?.


Dan menurutnya, Alasan Kanaya kali ini benar.


Keduanya mungkin masih terlalu mudah jika ditakar dengan usia, Namun cukup di katakan dewasa dengan pemikirannya dalam menyikapi keadaan.


"Ma, gimana? menurut mama Naya kuliah atau enggak?" Gadis itu kembali membuka suaranya.


"Mama bingung nay. Tapi ... Mending kamu kuliah, kamu ingat kan apa kata Sakha, cukup jadi istri yang penurut, jika kamu mau mengurangi bebannya"


"Nanti Naya diskusi lagi"


"Wes, pokonya apapun keputusan kalian, kami para orang tua akan selalu dukung, Dan jangan lupa kata papamu waktu itu"


Naya mendongak dengan tatapan cengo, ucapan yang mana? Seakan tatapannya barusan menyiratkan pertanyaan itu.


"Pasti lupa?"


"Ya mama tau sendiri kan, Setiap kali sama Naya, papa tuh ngomong terus, wejangannya aja beribu ribu di Kanaya, jadi Naya lupa yang mana?"


"Kalau butuh bantuan, jangan sungkan sungkan minta ke kami" Mamanya itu ganti mengusap pucuk Kepala Kanaya, kali ini di sertai dengan senyuman "Bilang ke Sakha, dia boleh aja memegang tanggung jawabnya, tapi jangan sampai dia lupa, kalau ada kami yang senantiasa membuka tangan lebar lebar saat Kalian butuh bantuan"





Terimakasih untuk para pembaca yang sudah meluangkan waktu membaca cerita "Dear Sakha"


Jangan lupa like dan komennya juga ya teman teman, bantu saya meramaikan cerita ini.