
"Nay, yakin nggak mau di anter?"
"Nggak usa" Jawab gadis itu. Entah ini yang keberapa ia menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama pula.
"Intinya nanti jemput ya, soalnya gue kasian sama Laras. Nggak tega juga kan ngebiarin dia pulang sendiri setelah nganterin gue, mana rumah dia jauh"
"Yaudah" Sakha berujar dengan pelan. Mengusap rambut Kanaya sebelum gadis itu benar benar pergi.
"Btw nanti kemana aja?"
"Kemana ya," kata gadis itu, ia sempat berpikir beberapa saat untuk menginggat tempat tempat yang katanya mau Laras kunjungi bersama dia.
"Ke taman yang biasanya itu loh, katanya Laras pengen foto foto sama bunga bunga yang disana. Terus makan, terus ke tempat Abang wedang ronde, abis itu ke Gramedia"
"Pokoknya jangan malem malem"
"Siap"
"Salim dulu sini"
Gadis yang baru mau melangkah itu akhirnya hanya menggantung langkahnya. Iya, satu kakinya betulan belum menyentuh tanah, bahkan badannya tidak jelas menghadap kemana saat ini.
"Emang harus ya?" Sampai ia menghadap Sakha lagi dan bertanya begitu.
"Ya harus dong, kan gue suami lo"
Katanya. Jangan lupa juga dengan dua alis milik lelaki itu yang kini saling menukik. Tatapannya seolah meremehkan tapi juga menunggu.
"Buru Nay, tangan gue pegel" Hingga saat Kanaya masih mendelik, Sakha langsung menegur bocah tersebut. Barang kali ia lupa jika Sakha ini juga manusia yang bisa kemeng.
"Iya iya"
"Assalamualaikum"
"Gitu kan pinter" Sekali lagi ia mengusap rambut Kanaya.
"Wa'alaikum salam" dan menjawab salam dari gadis itu.
Tapi jika kalian pikir hanya sampai di sana, di antara pintu yang memisahkan lantai luar dan dalam, maka kalian salah. Sebab begitu Kanaya melewati pintu tersebut, Sakha juga ikut ke sana.
Masih dengan kaus oblong berwarna putih, ia menyenderkan badannya dengan posisi miring di salah satu tiang kontrakan. Begitu Kanaya sudah sampai di pagar dan melambaikan tangan kepada dia, anehnya dia ikut melambaikan tangan juga.
Dan ketika Kanaya tersenyum, maka Sakha juga tidak ada bedanya dengan gadis itu. Bahkan kepada tanah yang masih menyimpan hujan sisa tadi malam, ia sempat tertunduk lalu terkekeh.
Ia mencintai gadis itu, sangat.
Ia ingin melihat tawa yang seperti itu setiap hari, ia ingin terus bersama Kanaya.
Sampai kapan?
Barang kali sampai masanya untuk hidup habis. Sakha hanya ingin mencintai gadis itu, Sakha hanya ingin mencintai Kanaya, hanya Kanaya.
"Sakhaaa" panggil gadis itu. Bagaimana ia berjalan masih sama. Berjalan mundur agar ia bisa melihat Sakha
"I love you" Ia berteriak lagi.
"Nggak papa kalau lo nggak bisa bilang kayak gitu setiap hari, biar gue yang bilang. Nggak papa kalau dengan lo gue nggak bisa menemukan kata kata itu setiap gue memulai hari gue, tapi lo bisa menemukan kok, di sini, bersama gue" lalu untuk yang terakhir, ia tersenyum begitu lebar. Tangannya ia angkat lebih tinggi untuk lambaian yang lebih lambat.
Pagi itu Sakha benar benar merasa begitu di cintai. Oleh orang yang juga ia cintai. Dan gadis itu ada di sana. Bagian hebatnya dari takdir, ia memberi Sakha waktu untuk memiliki Kanaya, lalu mencari kebahagiaan bersama gadis itu.
•••
Rasanya aneh ketika Laras merindukan seseorang, tapi saat ia bertemu dengan seseorang itu, rasanya malah ingin mengantarnya pulang. Alasannya banyak, tapi yang paling membuat Laras pusing, Karna gadis itu sangat berisik.
Sedari mereka berjalan menyusuri jalanan taman, Kanaya tak henti hentinya mengoceh. Tentang hakim yang katanya tidak pernah adil lah, tentang masyarakat yang tidak punya kesadaran lah, bahkan tentang Tama yang katanya seperti menjauh akhir akhir ini, terakhir, ia juga mengoceh karna banyak daun daun gugur di taman itu.
"Mending kita foto foto deh Nay, pusing gue" Ucap Laras. Anak itu menyerah, mengaku tidak kuat jika ocehan Kanaya terus berlanjut seperti itu.
"Foto dimana?" Sampai Kanaya yang baru saja mengocehi, muda mudi yang pacaran di sekitar taman langsung bertanya. Setelah itu menatap taman dengan pandangan yang lebih luas. Membantu Laras mencari objek yang paling tepat untuk background foto mereka kali ini.
"Di sana kayaknya bagus deh Ras, kesana yuk"
"Yang itu"
"Iya ... Eh tapi nggak jadi lah, itu ada Bocil lagi suap suapan, nanti keganggu"
Laras yang baru menatap dua anak kecil itu seketika bergidik.
"Ngeri euy, jaman gue, umur segitu masih main masak masakan"
Dan langsung di sambut gelak tawa oleh Kanaya.
"Nah sekarang, anak SD aja uda pacaran, mana manggilnya mama papa lagi"
Saat langit sudah sepenuhnya gelap, Kanaya dan Laras baru keluar dari Gramedia. Rencananya ia akan menikmati wedang ronde terlebih dahulu, tapi berhubung ini sudah larut, jadi wedang ronde mungkin baru bisa mereka nikmati di pertemuan berikutnya. Yang entah kapan itu.
"Kayak sebentar banget nggak sih, gue aja belum puas"
"Belum puas gue porotin" Sambar Kanaya. Tawanya mengudara bersamaan Laras yang masih memasang wajah nelangsanya. Kalau masalah di poroti, it's okay, itu bukan masalah yang besar.
Tapi bagaimana semua ini berjalan, membuat Laras ingin menahan waktu sebentar saja. Ia masih ingin jalan jalan bersama Kanaya, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama gadis itu.
"Pulang gih, uda malem"
"Lo gimana?"
"Santai, gue mah uda ada yang jemput" Katanya. Senyumnya tak kalah lebar dari senyum saat dia masih bersama Sakha tadi pagi.
Sementara itu, Laras langsung memakai helm BOGO nya.
"Mending gue anter yuk, masak lo mau nungguin Sakha sendirian di sini"
"Nggak papa, uda sana. Ini uda malem, nanti lo takut lagi kalau pulang sendiri. Sebentar lagi juga Sakha ke sini"
"Bener nih?" Tanya Laras. Sebab ia juga tidak tega membiarkan Kanaya sendirian di situ.
Tapi gadis itu lagi lagi tersenyum, sembari berkata,
"Nggak papa Ras, beneran kok. Lo pulang gih, nanti kalau uda nyampe kabarin"
"Lo juga kalau ada apa apa telpon gue ya, langsung pokoknya"
"Iyaa"
"Btw thanks loh buat traktirannya"
"He'em, gue juga thanks buat waktunya" hingga helm BOGO milik Laras benar benar terpasang, ia langsung menstater motornya, dengan satu tangan melambai pada Kanaya.
"Daah Nay," katanya sejalan dengan motor yang berjalan pelan
"Bye Ras" Balas Kanaya. Lambaiannya tak kalah hangat dari Laras. Ia terus begitu sampai motor Laras benar benar tidak terlihat lagi.
Lantas atensinya berganti pada layar Hp yang menyala, saat ia menunduk.
Satu pesan dari Sakha
Sakha
Nay, masih di sana?
Dan baru Kanaya mau menjawab 'iya' pesan dari Sakha muncul lagi.
Sakha
Kayanya gue nggak bisa jemput Nay, maaf
Kanaya jelas langsung mengeser layarnya. Juga langsung masuk ke room chat nya bersama Sakha.
Anda
Kha, ini uda malem. Lo masih dagang? kalau iya nggak papa, gue tunggu kok
Sakha
Enggak Nay. Ini masalah lain, rumah Habibah kebakar, ibunya telpon gue buat dateng ke sana
Sesaat Kanaya tersenyum miring.
Habibah lagi Habibah lagi, tapi pada akhirnya ia menatap sumir pada tulisan yang sudah mengabur itu.
Anda
Dan sekarang lo ada di sana?
Sakha
Iya nay, gue di sini, nenangin Habibah
"Terus gue apa kabar Kha?" Gadis itu entah bertanya kepada siapa. Saat ia mendongak guna mencegah air matanya, mirisnya air mata itu lebih dulu untuk jatuh.
Kanaya kembali di buat bingung dengan semua ini. Saat satu dari bagian hatinya me-wajarkan sikap Sakha, maka bagian yang lain seolah kompak berteriak jika yang seperti itu tidak lagi wajar.
Kanaya tau menenangkan Habibah juga bukan perkara yang tidak penting, tapi setidaknya Sakha tidak lupa jika Kanaya berada disini, sendirian, dengan rasa yang juga sama takutnya.