DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 30



Ada saat saat dimana hidup itu sesimpel kalau mau makan ya tinggal makan, kalau mau minum ya tinggal minum, kalau ngantuk ya tidur. Tapi ada juga saat saat dimana hidup sesulit lapar tapi tidak ada makanan untuk dimakan, haus tapi tidak ada minuman yang dapat diminum, meski sesederhana segelas air putih, ingin tidur tapi tidak bisa karna masih banyak kesibukkan yang harus di selesaikan. Tapi tidak selalu keadaan yang mempermudah atau mempersulit hidup ini, barang kali yang menjalankan hidup juga.


Seperti Kanaya misalnya, ia lapar, Anjani siap menaktirnya makan makanan di cafe, tapi bukannya langsung memesan makanan yang sekiranya bisa membuatnya kenyang, yang ia pesan malah semangkuk kecil es krim tiga warna dengan tambahan susu kental manis juga wafel. Yang jelas jelas, mau habis sepuluh mangkuk juga dia tidak akan kenyang, kemungkinan buruknya Kanaya bisa muntah muntah karena blenek, sekalipun ia pecinta es krim.


"Lo serius nggak mau pesen apa apa lagi, gue bayarin deh beneran"


Kanaya tersenyum, kembali memakan es krimnya dengan raut tidak habis pikir, dia sampai lupa ini yang keberapa kali Anjani bertanya begitu, saking seringnya.


"Nay, Sakha gimana?"


"Nggak bisa nganter gue pulang katanya"


"Sama Habibah?"


Kanaya mengedikkan bahunya, dalam chat terakhir yang Sakha kirimkan, Sakha hanya memberi tau Kanaya jika hari ini dia tidak bisa langsung pulang, atau mengantar Kanaya pulang terlebih dahulu karna ada urusan mendadak, Sakha juga tidak mencatumkan alasannya.


"Kayaknya nggak sih, biasanya kan dia bilang ke gue"


"Terus lo pulangnya gimana?"


"Gampang"


Kata gampang seharusnya membuat Anjani lega, sebab tidak ada yang perlu ia khawatirkan, ya seharusnya begitu. Tapi melihat bagaimana cara Kanaya menatap es krimnya, ia tau Kanaya saat ini sedang tidak baik baik saja, Anjani tidak bisa memperkirakan apapun yang membuat Kanaya seperti ini selain Sakha.


"Gue anter pulang gimana?"


"Lo bukannya naik bis?"


Dengan tidak tau malunya Anjani menyengir lebar, dia memang datang ke sini dengan bis tapi tidak susah juga untuknya menghubungi orang rumah dan minta dikirim mobil di alamat ini.


"Tapi Jan, lo nggak usa lah pake acara nganter nganter gue begitu. Rumah lo juga nggak searah sama gue, gue bisa pulang sendiri, santai"


"Yakin lo?"


Yang mana setelah itu hanya Kanaya jawab dengan gumaman.


"Padahal gue pengen main ke rumah lo"


"Kapan kapan aja"


Setelahnya Anjani tidak mengatakan apa apa, selesai dengan makanan masing masing mereka akhirnya pulang, dengan saling melambai setelah itu menuju arah yang berbeda, Kanaya ke persimpangan kanan dan Anjani ke persimpangan kiri


"Sampe rumah kabarin ya Nay" kata gadis itu setengah berteriak, yang jelas Kanaya masih mendengarnya


"Lo juga Jan"


"Daaaahh"


Kanaya hanya tersenyum, mungkin orang orang yang disekitar sana meliriknya dengan Anjani tidak habis pikir, tapi mau bagaimana lagi, mereka memang seheboh itu.


•••


"Lo yakin nggak usa dibawah ke rumah sakit, lutut lo mungkin uda berdarah Bah"


Habibah melihat lututnya dari luar rok, sepertinya begitu, tapi tidak mungkin juga jika dia membukanya disini, bagaimana pun Habibah ingat siapa Sakha.


"Kha beneran deh, aku bisa kok pulang sendiri"


"Dan gue nggak bisa biarin lo jalan sendiri"


"Tapi Kanaya gimana?"


Sakha menghela nafasnya, lantas menjawab pertanyaan Habibah.


"Kanaya itu uda besar Bah, dia bisa pulang sendiri tanpa gue,"


Habibah tidak mengatakan apa apa lagi, ia kembali berjalan dan disampingnya juga masih ada Sakha.


"Kayaknya mau hujan"


"Dalam tas kamu ada barang barang penting nggak"


"Hp"


Habibah melepaskan tas nya, lalu membuka resleting tas dibagian paling besar.


"Siniin hp-nya, kebetulan tas aku anti hujan"


"Sama buku gue nitip boleh nggak?"


Habibah tersenyum, lalu mengangguk setelahnya.


Dan seperti waktu itu sangat tepat, begitu barang barang Sakha sudah selesai dia titipkan pada Habibah, rintik rintik hujan tiba tiba turun, tidak deras hanya berubah gerimis yang menenangkan.


Dan di jalan lain, Kanaya tersenyum nanar. Ia menyesal telah menolak tawaran Anjani. Seharusnya dia mau mau saja pulang bersama Anjani, tidak peduli dengan bis atau mobil gadis itu, yang terpenting dia tidak bertemu Sakha dengan kondisi yang begini.


Semua seperti bergerak lambat, bahkan senyum dua manusia itu seperti ikut melambat dalam kepala Kanaya. Apa sebahagia itu jika Sakha bersama Habibah. Sampai sampai Sakha tidak tau, disisi kanan jalan, ada Kanaya dengan mata berkaca kacanya, juga ada Kanaya dengan hatinya yang berantakan.


Apa ini urusan dadakan yang Sakha maksut! Berduaan bersama gadis lain sampai sampai dia tidak mau tau bagaimana Kanaya pulang.


"Lo yang sebaik itu ternyata bisa sejahat ini ya, hebat!"





Jangan lupa like, komen dan votenya saudara saudara


saya tau kalian adalah pembaca yang baik.