
Jakarta selalu punya cerita setiap harinya. Tentang langit yang kadang mendung hingga berwarna hitam pekat, tentang hujan yang bisa saja turun tanpa menunggu bulan April, juga kadang tentang bagaimana langit terlihat indah dengan warnanya yang keseluruhan biru.
Sangat indah sampai sampai Kanaya tidak berniat melakukan apapun selain memandangi hamparan luas tersebut. Meski tidak ada awan kumulus dengan bentuk bentuk abstrak seperti siang biasanya, Kanaya tidak peduli, Justru keindahannya semakin nampak dengan tampilan sederhana seperti di siang ini.
Alih alih membiarkan, Kanaya malah tidak rela jika membiarkan keindahan ini pergi, akhirnya ia memotret langit diatas dengan beberapa potretan, membandingkan mana yang paling bagus sampai dia tertawa dengan ulahnya sendiri, nyatanya, yang paling bagus adalah yang saat ini benar benar bisa ia tatap, lebih luas dan lebih biru warnanya ketimbang yang dia foto. Tapi tidak papa, setidaknya Kanaya nanti ingat, saat dia iseng membuka isi galeri, langit dibulan Januari pernah membuatnya tersenyum, nyaman hingga betah berlama lama diteras rumah meski ia sendirian.
Tidak sampai disana, Kanaya mengirimkan beberapa foto langit tadi pada Sakha, meminta bantuan untuk memilih mana yang lebih bagus, dan baru saja terkirim, tulisan online dibawah nama Sakha seketika berubah menjadi mengetik
Sakha.
bagus disini, mau gue fotoin?"
Kanaya yang baru menerima pesan tersebut bercedak pelan, lalu balas mengetik lagi
Anda
Lo uda selesai tes nya?"
Kebetulan hari ini Sakha mengikuti tes beasiswa, makanya Kanaya sendirian dirumah, dan karna tidak tau mau melakukan apa, alih alih rebahan seperti biasanya saat dia tidak punya pekerjaan yang gadis itu lakukan malah duduk diteras rumah dan memandangi langit.
Bukannya menjawab Sakha malah mengirimi Kanaya foto, saat berhasil diunduh, foto itu menampilkan awan awan kumulus dengan bentuk bunga kol dibagian paling atas dan disebelah kiri yang ikut terpotret menampilkan beberapa bentuk yang seolah dijadikan satu, tapi meskipun begitu, bentuknya tetap cantik dan enak enak saja untuk dilihat, bahkan lebih lama dari ini Kanaya betah, kalau saja Kanaya lupa jika disebrang sana Sakha sudah mendesis, pesannya sudah ada tiga menitan Kanaya buka, tapi tidak juga dia balas.
Sakha
nay, kalau suami nge-chat kata mama gue jangan cuma diread, dosa!"
Lagi lagi Kanaya tertawa setelah menerima notifikasi dan membaca pesan tersebut, dengan gerakan cepat jarinya menari diatas keyboard dan langsung dia kirim pada Sakha
Anda
emang gitu ya, tanya dong siapa yang buat hukum kayak begitu, hukum baru mas? setau saya sih dalam Al-Qur'an ataupun hadist, enggak ada tuh hukum enggak bales chat suami jadinya dosa"
Sakha yang sudah duduk menyamping diatas motornya terkekeh, ia kembali membalas pesan Kanaya.
Sakha
Tapi kalau suaminya marah karna si istri cuma ngeread pesan yang dia kirim, jatuhnya dosa kan?"
Puas terpingkal ditempatnya, Kanaya kemudian mengangkat hp tinggi tinggi, memotret langit yang saat ini sudah berubah, warnanya masih biru, namun tidak sepenuhnya sebab seutas awan bak kapas nampak terlihat diberbagai sudut dengan warna putih.
Ia mengirimkan lagi pada Sakha
Anda
katanya kita hidup dengan menatap langit yang sama, tapi kok langit disini sama di tempat lo tes beda ya"
Sakha menanggapinya dengan tersenyum tipis, lantas mendongak menatap awan awan yang tadi sempat dia potret kini bergerak mengikuti arus, bentuknya berubah lagi, bahkan ada bagian yang terpisah dan menjauh dari yang lain, Meski awalnya mereka bersatu, namun seolah tidak ada yang keberatan antara awan awan tersebut sekalipun mereka harus meninggalkan satu sama lain, pada intinya mereka harus bergerak, tidak peduli mereka bersama atau sendiri, mereka tetap akan mengikuti arus.
Sakha
Itu istilah istriku ...
ibaratnya tuh begini, meskipun kita menatap objek yang sama, cara pandang kita enggak bakalan bisa sama. Cara pandang kita berbeda. Kadang juga sisi yang kita pandang lain dengan yang lain, paham enggak gue ngomong apa?"
Kalau Kanaya benar benar membaca dan memahami isi pesan panjang barusan, kemungkinan dia akan paham, tapi masalahnya, dia tidak bisa fokus dan mendadak lemot setelah membaca kalimat pertama Sakha
Gadis itu memekik tidak habis pikir
"Baru kemarin dia minta maaf, sekarang bikin energi gue habis lagi"
Sakha
Gue uda selesai tes nya, dan ini mau pulang. Lo mau gue beliin sesuatu?
Jika tadi Kanaya memekik sebab kesal, kini ia memekik senang, ketara sekali sebab pesan Sakha langsung dia balas
Anda
Sakha
Pilek juga, es krim mulu perasaan
Anda
Gue bakalan sembuh kalau makan es krim, lo tau orang amnesia kan, kemungkinan dia bakalan sembuh kalau kejedod atau kebentur, padahal dia juga amnesia mulanya dari situ. Sama halnya dengan gue, meskipun gue flu gara gara es krim tapi gue juga bakalan sembuh gara gara es krim
Sakha
Istighfar gak! itu dari Allah nay, malah es krim
Kanaya hanya bisa terkikik, ia mengirimkan stiker sebagai balasan sebelum akhirnya melenguh panjang, senang dengan hal hal kecil yang Sakha lakukan untuknya.
Bagi Kanaya apa yang selama ini Sakha lakukan lebih dari tanggung jawab suami pada istrinya, Dimata Kanaya Sakha memang sebaik itu.
Dia bisa menjadi sosok ayah yang bijak, sahabat yang baik, bahkan suami yang pengertian, ia bisa memerankan beberapa peran dengan baik dengan kesederhanaan yang dia miliki.
Dan percayalah, Kanaya yang tidak ingin jatuh terlalu dalam, semakin kesini semakin dia tidak tau harus berbuat apa,
Kanaya ingin menolak, tapi dia juga tidak bisa mencegah saat arus semakin membawanya jatuh pada titik yang lebih dalam dari ini, alih alih ingin berhenti mencintai Sakha, Kanaya selalu melewati batas yang sudah dia buat.
Gadis itu menghela nafas sebelum menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi diteras. Mungkin tidak sekarang, tapi apa yang dilakukan, semuanya jelas mempunyai resiko, termasuk mencintai Sakha ...
... •••...
Sakha yang baru saja sampai dipekarangan rumah kecilnya dikagetkan dengan kehadiran Kanaya yang muncul tiba tiba. Hampir saja helm yang dipegang itu menggelinding, namun urung saat Sakha berhasil menahannya
Ia menatap Kanaya dengan binar yang kesal
"Kalau dateng tuh salam kek, apa kek, jangan langsung nepuk pundak orang. Lo pikir gue enggak kaget hah"
"Iya maaaf, gitu aja marah" Jawabnya yang kian membuat Sakha mendengus, tapi bukannya takut Kanaya malah menyodorkan tangannya, bermaksud meminta es krim yang tadi dia pesan.
Sakha mengambil telapak tangan itu dengan tangannya, lalu menuntun Kanaya agar menempelkan tautan telapak mereka tepat di hidung gadis tersebut
"Tumben lo salim" Ujar Sakha tepat saat tautan mereka baru terlepas, sengaja dia yang melepas lebih dulu.
Sementara ditempatnya berdiri Kanaya mendesis pelan, telapaknya kembali dia buka lebar lebar
"Gue mau ambil pesenan gue, bukan salim ishh"
"Salah ya?"
"Enggak juga sih" Pikir gadis itu, malah seharusnya memang begini
"Btw lo jadi beliin gue es krim gak sihh,"
"Enggak"
"Serius"
Sakha mengangguk, meraup wajah Kanaya sebab matanya melotot hingga membulat sempurna, dan sebelum Kanaya marah marah, dia memilih untuk menyerahkan kantung kresek berwarna putih dengan tulisan Indomaret didepannya, lantas ia menggenggam kan kresek itu digenggaman Kanaya
"Tapi gue beliin lo susu kotak rasa stroberi, maaf deh. Gue bukannya pelit sebagai suami, tapi gue enggak mau pilek lo makin parah, kalau emang uda enggak pilek nanti gue beliin es krim lagi"
"Itu juga ada obat flu"
Ia langsung masuk sebelum teriakan Kanaya lagi lagi menggema membuatnya harus menutup kuping. Bukan karna susu stroberi, Kanaya jelas tidak mempersalahkan susu itu sebab dia suka, tapi ini karna obat yang Sakha beli. Kanaya memang begitu, paling anti dengan obat, bahkan dia bisa menangis hanya dengan melihatnya.