
Selamat tinggal ...
Kata yang diucap Kanaya saat dia dan Sakha sudah melewati gerbang sekolah lalu disusul oleh teman temannya yang lain, mereka saling melambaikan tangan,
Menatap senduh ke arah gerbang lagi sebelum melewati persimpangan. Biar bagaimanapun, gerbang itu punya banyak cerita untuk masing masing diantara mereka, untuk Kanaya sendiri, gerbang itu juga istimewa. Bahkan sebelum dia menapaki kaki ke lorong demi lorong yang pertama terlihat adalah gerbang hitam tersebut.
Lupakan soal benda mati bernama gerbang, Kanaya juga pasti akan rindu pada sosok yang menjaganya, namanya pak Imran, bagi Kanaya pak Imran lebih dari seorang penjaga gerbang, Pak Imran sudah masuk kedalam list teman dekatnya, Kanaya juga sering duduk bersama pak Imran disaat dia menunggu kedatangan Sakha maupun Tama, kadang mereka juga berbagi sarapan.
Ya, mereka sedekat itu, Kanaya seperti bertemu dengan kakeknya lagi dalam sosok lain dan sosok tersebut adalah pak Imran.
Bahkan saat banyak yang mengatakan Kanaya jahat, tidak punya hati, tidak punya perasaan, yang pak Imran katakan malah sebaliknya ,mbak Kanaya ini baik banget ya, membuat katanya terkikik geli, entah beliau tidak tau atau lupa jika setiap koin pasti punya dua sisi yang berlawanan dan Kanaya adalah koin tersebut, ia punya sisi lain yang mungkin belum pak Imran tau
"Gue bakalan kangen banget sih sama pak Imran"
Dari depan sana Sakha terlihat tertawa. Bukan sesuatu yang aneh mengapa Kanaya bisa merindukan sosok pak Imran, sebab sebelum berteman dekat dengan dia ataupun Tama, Kanaya sudah lebih dulu berteman dengan Pak Imran, mereka juga kerap menjaga gerbang berdua, sesekali pak Imran menawarkan Kanaya kopi dan gorengannya.
Lain dengan Kanaya yang sudah pasti merindukan pak Imran, mungkin yang Sakha rindukan dari gedung bertingkat empat tersebut hanyalah cireng bude kantin, meski Sakha tidak pernah koar koar berujar jika cireng itu enak tapi setidaknya bude kantin paham betapa Sakha menyukai cireng buatannya, dengan hampir setiap hari dia membeli cireng itu.
"Kha, Tama jadi kuliah dimana?" Gadis itu kembali membuka suaranya, untuk bertanya sekaligus memecah keheningan yang terjadi, dan langsung dijawab oleh Sakha dengan kedikkan bahu
"Kayaknya sih beda sama kita, cuma yaa ... masih disekitar sini sini aja"
Kanaya manggut manggut. Tidak ada yang dia tanyakan lagi setelahnya, ia lebih memilih menikmati perjalanan disepanjang jalan ini, menatap pemandangan yang biasanya dia tatap dan mungkin setelah ini tidak bisa sesering dulu dan membiarkan diam menguasai mereka.
Nyatanya, Kata lulus membuat ia senang dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Kanaya bahagia, tapi Kanaya juga ingin menangis. Meraung sekencang mungkin andai kata dia tidak punya rasa malu.
Gadis itu kemudian merogoh hpnya, memotret hiruk pikuk disekitar dengan posisi masih di belakang Sakha, lalu di simpan dan ditambahkan ke daftar favorit. Kalau perlu nanti akan Kanaya edit lantas di jadikan Wallpaper agar dia ingat bagaimana jalanan ini memberinya banyak cerita.
Tentang pejalan kaki yang dengan sabar menunggu jalanan renggang. Tentang mereka yang mengadakan tangan dan meminta belas kasih dari orang lain, tentang mereka yang sudah memenuhi jalan padahal hari baru menunjukkan pukul enam, tentang mereka yang datang dengan semangat juga bedak putih disekitar wajahnya, setia menunggu bus agar bisa sampai ke sekolah, dan ditemani ibu ibu mereka yang tak kalah cantik dengan mereka, juga tentang banyak orang lagi dengan kehidupannya masing masing.
Dari jalanan ini Kanaya jadi berpikir, hidup bukan hanyalah perihal menghirup dan membuang nafas, hidup bukan hanya soal mencari uang, hidup juga bukan hanya soal mengejar kebahagiaan, tapi hidup lebih dari semua itu.
•••
Aroma apel merasuk dengan lembut, dan dalam sekejap menguasai indra penciuman Kanaya. Ia tersenyum sebelum akhirnya masuk kedalam Indomaret tersebut dan mengikuti langkah Sakha.
Kalau di ibaratkan dengan aroma, Bagi Kanaya Sakha ini aroma apel. Mungkin wanginya tidak sekuat aroma yang lain, tapi siapapun akan di buat nyaman dengan aroma lembut miliknya, dan siapapun pasti akan betah berlama lama mencium dan menikmati aromanya, tenang juga tidak menusuk.
"Lo mau beli apa," Tanya lelaki itu selepas dia menutup lemari es, memperlihatkan Kanaya kalau dia sudah membeli apa yang ingin dia beli tadi.
Membuat Sakha tertawa terpingkal
"Kenapa lo"
"Enggak" Jawabnya, disertai dengan gelengan kecil. Lantas kembali berjalan mendahului Kanaya "Lo tuh kebiasaan deh, kalau di ajak ke Indomaret, yang lo beli pasti selalu es krim"
Kanaya turut tertawa.
Bang Rizal juga berkata demikian, malah kedua Kakak beradik itu sering tarik tarikkan di dalam Indomaret karna Kanaya yang ngeyel ingin membeli es krim, dan bang Rizal yang tidak mengizinkan lantaran adiknya itu rentan terhadap flu. Tapi pada akhirnya dia tetap mengalah, tidak tega sebab Kanaya menunjukkan mata sudah berkaca kaca, siap menangis juga siap membuatnya malu.
"Gue rasa gue enggak butuh apapun dari sini kecuali es krim"
Imbuh Kanaya, yang mana lagi lagi membuat Sakha tergelak
"Awas aja kalau lo nanti datang bulan terus nyuruh gue beli pembalut di sini,"
"Emang yang kemarin itu lo beli disini?"
"He'em" Jawab Sakha disertai anggukannya
"Ck, Pantesan mahal" Celetuk gadis itu. Yang mana Sakha hanya menanggapinya dengan mimik tidak habis pikir. Lantas sesampainya mereka di kasir Sakha langsung membayar minumannya juga es krim milik Kanaya.
Kedua anak muda tersebut tidak langsung pulang, mereka berteduh dulu di teras indomaret, dengan Sakha yang menikmati teh lemonnya dan Kanaya yang menikmati es krimnya.
Lalu sama seperti tadi, keduanya sibuk dengan pikiran masing masing.
Kanaya tidak tau apa yang saat ini tengah Sakha pikirkan, begitupun Sakha, dia sama sekali tidak tau apa yang Kanaya pikirkan saat ini, sampai sampai bibir itu bergerak sedikit demi sedikit, membentuk senyum yang sebelumnya pernah dia lihat, tepatnya senyum tersebut sama seperti senyumnya tadi malam.
Kira kira apa yang membuatnya kembali menampilkan senyum itu, Alih alih mendengar suara klakson yang saling bersaut sautan Kanaya masih setia diam dengan lamunan panjangnya.
Bayangan lampion yang kian menjauh, pelukan yang hangat juga suasana yang dingin, membuat gadis itu jadi berpikir, Apa itu semua termasuk bagian epik momen dalam hidupnya.
Dalam ingatan Kanaya, semua itu bergerak lambat, seolah tidak mau diakhiri. Dan jujur Kanaya ingin mengulang kejadian semalam, meski dia tau sekalipun dia betulan mengulang, yang terjadi tidak mungkin sama.
Bisa jadi lampion itu tidak bisa melayang seindah tadi malam, atau bisa jadi Sakha tidak memeluknya karna suasana juga belum tentu dingin seperti malam itu.