DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 57



Menjelang pukul sembilan, saat langit terlihat semakin pekat, Sakha masih berada di sana. Bersama Rizal, espresso yang mereka pesan, juga sebungkus rokok milik Abang iparnya itu.


Mulanya Sakha sempat keheranan dengan kenyataan 'sambil menatap Jakarta dari balkon kafe tersebut, Rizal tiba tiba mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celana, dan menyalahkannya langsung begitu dapat.


"Cowok pas lagi setres ngapain sih, kalau bukan ngerokok" Bahkan ia mengatakan seperti itu ketika sadar tatapan datar dari Sakha menyimpan kebingungan.


Tapi biarpun begitu, Sakha tetap bertanya


"Dari kapan?"


"Dari mau skripsi"


"Orang rumah nggak ada yang tau bang?"


Sesaat ia terkekeh, lantas mengerakkan bagian ujung dari rokoknya agar tembakau yang sudah terbakar tersebut jatuh, bersama dengan angin yang membawanya.


Dan serpihan itu malah nampak tak berdaya, sebab masing masing dari mereka menurut kepada arus, tidak ada yang melakukan perlawanan. Sama sekali mereka tidak melawan.


"Enggak ada sih, cuma kalau pun mereka tau, gue jamin respon mereka juga biasa aja. Paling tanggapan mama ataupun papa cuma sekedar, 'Jangan sering sering"


Kemudian mereka diam lagi, diam dengan pikiran mereka masing masing, diam dengan berbagai pertanyaan yang sebetulnya ingin sekali mereka tanyakan.


Tapi baik Rizal maupun Sakha, mereka terlalu canggung untuk langsung ke pertanyaan itu, terlebih setelah keadaan yang seperti ini.


"Gue baru putus" Kata Rizal. Selesai dengan dua rokoknya, kini dia tidak lagi memandangi Jakarta. Melainkan berdiri dengan bersandar di balkon kafe dan menatap getir kepada apa yang ada di depannya.


"Padahal lo tau nggak, gue tuh cinta sama dia. Saat gue bilang gue pengen bersama dia untuk waktu yang enggak sebentar, gue nggak becanda. Saat gue bilang gue nggak mau dia pergi, gue pun nggak becanda"


"Tapi pada akhirnya dia memilih pergi, pada akhirnya dia ninggalin gue"


Dan Sakha masih diam.


Kedua lelaki itu masih saling membelakangi.


Sampai Rizal tersenyum lagi dan mengatakan inti dari ceritanya.


"Perempuan sekalinya kecewa itu bahaya Kha. Nggak peduli dia tau atau enggak gimana cara pasangannya mencintai dia. Dan saat lo di tanya cinta lo ke dia sebesar apa, lo nggak akan bisa menjawab pertanyaan itu, sebab lo sendiri juga pasti kebingungan andai kata di tanya soal rasa"


"Tapi cinta juga harus di jabarkan, biar orang yang lo cintai paham lo mencintai dia dengan cara yang bagaimana"


Kemudian ia berjalan, kembali lagi ke kursi dan menyesap espressonya yang pait. Tapi anehnya rasa ini bisa diterima oleh lidah banyak orang, termasuk juga Rizal dan Sakha.


"Gue kira nggak ada yang salah dengan peduli. Sekalipun dia bukan siapa siapa gue, kalau gue mau peduli ya it's okay. Tapi setelah dia pergi, gue jadi tau Kha, peduli emang nggak bersyarat, tapi peduli itu ada batasannya"


"Nggak harus suka dulu baru peduli, tapi juga jangan terlalu peduli sampai ngebuat orang yang lo peduliin itu bingung"


"Dan orang yang lo cintai meragukan perasaan lo. Perihal perasaan itu masih ada, masih sama, atau justru berkurang"


°°°


Lalu di lantai bawah, tanpa adanya pernjanjian untuk datang di tempat itu, Kanaya juga di sana, bedanya ia menatap Jakarta dari jarak yang lebih dekat, bedanya dia di temani oleh mama Sakha, bedanya dia di temani dengan minuman menyegarkan, lemonade.


Yang di sajikan dengan cara yang sederhana, tapi mampu membuat siapa saja yang memesan minuman tersebut merasa puas.


"Sebenarnya, mama uda mau ke rumah kemarin Nay, tapi kata papa kamu, kamu-nya belum siap" Ucap mama Sakha, beliau tersenyum sambil terus mengusap tangan Kanaya.


Dan Kanaya tetap diam di depan wanita itu. Lebih tepatnya dia tidak tau harus bagaimana.


Dulu, Kanaya berani mengadu tentang bagaimana sikap Sakha. Entah itu di bagian galaknya, di bagian judesnya lelaki itu, atau di bagian bodo amatnya dia dengan kondisi seseorang, termasuk juga jika Sakha nampak begitu tidak peduli dengan dia, maka sepulang sekolah, Kanaya pasti akan ke rumah Sakha, dan mengadu tentang apapun itu kepada mama Sakha. Sebut saja dia dulunya sangat handal jika di suruh menjelek jelekkan Sakha di depan mamanya.


Tapi sekarang, dia tidak bisa.


Bahkan setelah lelaki itu terlampau membuatnya kecewa, Kanaya malah merasa, mama ataupun papa Sakha tidak harus tau dengan ini


"Kanaya cuma butuh waktu Ma, sebentar ajaa, sampai Kanaya siap buat ketemu Sakha dan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang baik"


Lalu dia ikut menumpahkan satu tangannya di atas tangan mama Sakha. Mengusapnya sebagaimana apa yang mama Sakha lakukan.


Usapan yang begitu lembut itu nyatanya berhasil membuat hati mama Sakha turut dialiri pilu.


Ia tatap mata Kanaya, berganti bibir yang tersenyum itu. Lantas beliau mengangguk.


Sebab beliau percaya, semua akan membaik.


Sekalipun tidak sekarang.


"Kanaya enggak akan kemana mana Ma,"


"Kanaya enggak akan pergi"