
"Lo pernah berpikir buat ninggalin gue dan nyari yang lebih baik?"
"Kenapa?"
"Jawab, iya atau enggak?"
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Sakha menggeleng. Juga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Kanaya kembali bertanya,
"Kenapa?"
"Karna gue uda merasa cukup," Kata Sakha.
Menemukan Kanaya yang diam, laki laki tersebut tersenyum. Kemudian mengandeng Kanaya.
"Lo pernah denger istilah ini"
"Jangan sampai karna lo sibuk menghitung bintang, mencari di berbagai sudut untuk menemukan mana bintang yang paling sempurna, lo justru akan kehilangan bulan"
"Yang tanpa lo sadari, sinarnya bulan juga udah cukup untuk memberi lo penerangan, bahkan ketika lo di tempat yang begitu gelap, nggak perlu banyak banyak bintang, satu bulan aja itu uda sangat membantu lo, nggak peduli saat itu bulan sedang bersama dirinya yang utuh atau enggak, nggak peduli dia keliatan sempurna atau justru sebaliknya,"
Setelah mendengar dengan begitu antusias, Kanaya justru tergelak.
"Lo ngomong apaan sih?" Tanya gadis itu, sama sekali dia tidak paham.
"Kenapa jadi bawa bawa bulan"
"Emang susah ngomong sama lo"
"Lagian panjang bener"
Gadis itu lagi lagi tergelak ketika Sakha menghela nafasnya. Dan menampakkan wajahnya yang frustasi.
"Gue masih mau di rumah mama, seengaknya sampai besok" Kata Kanaya. Lama mereka hanya berjalan dengan keheningan, ia akhirnya berujar seperti itu.
"Siang, kalau enggak malam nya gue baru ke kosan"
"Kalau gitu gue juga nginep di rumah mama" pungkas Sakha.
Sembari terus berjalan, laki laki tersebut kian merapatkan genggamannya.
Dengan hal sekecil itu pun Sakha sudah mendapatkan kebahagiaan yang menurutnya sangat besar.
Untuk dia yang biasanya sering melewati jalanan ini, mengapa malam ini rasanya berbeda. Apalagi ketika dia melewati itu bersama Kanaya.
"Gue pernah bilang kan sama lo, jangan pernah pergi sekalipun nantinya lo akan bertemu dengan diri gue yang kelewat brengsek"
"Tapi lo juga pernah bilang, bahkan mempersilahkan gue untuk itu ketika lo uda nggak mencintai gue lagi"
Sakha tersenyum.
"Ternyata gue seegois itu" Katanya. Hanya untuk membuat Kanaya kembali terdiam. Dan ketika ia cerna lagi, agaknya dia setuju jika Sakha itu memang egois.
Maka ketika giliran Sakha yang bungkam, Kanaya justru tersenyum.
"Gue juga mau egois, gue mau lo terus mencintai gue"
"Tapi Nay, terus mencintai ataupun terus menetap, kedua hal tersebut sama sama sesuatu yang nggak bisa di paksakan"
"Gue nggak mau egois"
"Jadi?"
"Gue akan mencintai lo dengan cara gue, dan lo, lo akan terus mempunyai dua pilihan itu ketika lo bersama gue. Ketika lo bosen dengan hubungan ini, tentunya dua pilihan tersebut berlaku"
"Pergi atau bertahan?"
Sakha mengangguk.
"Sekalipun gue nggak mau lo pergi, tapi ketika lo menginginkan itu, gue pasti berusaha untuk membiarkan lo pergi, sebagaimana pilihan yang sudah lo pilih"
°°°
Pagi harinya, ketika hendak turun untuk segelas air putih, langkah Rizal justru terhenti bahkan sebelum ia sampai di sana.
Sepagi ini mereka sudah berpelukan, bermesraan di rumahnya, dan parahnya lagi, mereka sampai tidak menyadari jika Rizal ada di sana, dan itu sudah lebih dari 3 menit.
"Mereka uda baikkan?"
"Bang,"
"Eh, ma"
"Kenapa?"
"Tuh" Kata Rizal. Memperlihatkan kepada mama tentang kelakuan anak dan menantunya.
Tapi mama tidak mengatakan apa apa, beliau hanya tersenyum.
"Abang kapan?"
"Kapan apa?"
"Nikah"
Beruntung Rizal sudah menandas habis minumnya. Jadi acara seperti keselek jelas tidak ada.
Tapi bagian yang membuatnya prihatin kepada dirinya sendiri, dia baru saja putus, dan tau tau mama malah bertanya perihal kapan dia menikah.
"Kalau uda waktunya ma" dan dia hanya bisa memberi jawaban seperti itu.
"Biar gue aja"
Kanaya melirik Sakha dengan sebal ketika sendok kecil yang semula dia pegang, di rebut oleh laki laki itu. Dan dia juga mengambil alih pekerjaan Kanaya, dengan mengaduk coklat hangat tersebut, tapi dengan posisi yang masih di belakang Kanaya.
"Dapur gue kurang luas atau gimana sih?"
Sakha tergelak. Lantas beralih ke samping gadis itu.
"Btw Kha, mama uda dari tadi di situ?" Bisik Kanaya.
Dan Sakha dengan tenangnya mengangguk.
"DAN LO MASIH MELUK MELUK GUE?" Kanaya jelas melotot, belum lagi setelah dia sadar bahwa di sana juga ada Bang Rizal.
"LO SENGAJA YA?"
"Bahkan sebelum mereka ke sini, gue uda meluk lo"
"Udah, orang cuma peluk pelukan" Kata mama. Kedatangan mama tentu membuat Kanaya semakin malu. Tapi Sakha bisa bisanya masih tersenyum dengan lebar.
"Anggep gue nggak ada" Tambah Rizal. Biar
dia sendiri bisa menganggap bahwa disana juga tidak ada Kanaya ataupun Sakha. Tidak ada yang berpelukan ataupun saling menatap dengan tatapan penuh cinta sekalipun kejadian itu baru saja dia lihat,
"Lo mau makan apa?"
"Apa aja"
"Sampe lo tambahin asal Kanaya yang ngambilin, yakin gue ekslusif muntah di sini" tau tau Rizal yang sewot.
"Mau gue suapin nggak?" Dan Kanaya adalah salah satu orang yang senang sekali ketika Rizal kesal seperti itu.
"Makanya bang, kalau Uda punya pacar, bawa ke sini, kenalin ke mama sama papa. Terus kalau Abang uda siap, ya langsung aja di halalin"
"Lha dia bukannya baru putus ma?"
"Lo-"
"Sebelumnya Abang uda punya pacar?" Tanya mama.
"Abang nggak bilang?" Giliran Kanaya yang kebingungan.
"MENURUT LO?"