
Tentunya berbeda dengan mama yang menyewakan vila romantis di daerah Bali sana untuk mereka, Sakha justru tidak menyiapkan apa-apa, dia hanya mengajak Kanaya ke ranca upas dan melihat taburan bintang bersama banyaknya pengunjung yang sudah ramai menempati rerumputan luas tersebut.
Dari tempatnya duduk, Kanaya bisa melihat banyak tenda yang berjejer, banyak obrolan hangat yang tengah berlangsung, juga bintang yang memang seperti di tabur di atas sana. Bentuk yang bisa dijangkau oleh mata gadis itu sangat sederhana, bentuk titik kecil dengan warna putih mengkilap. Kanaya jadi berpikir, dibanding bumi yang ramai, mungkin langit tidak pernah iri karena dirinya sepi, sebab bintang-bintang itu berhasil mengisi setiap sudut yang kosong hingga menjadikan langit nampak penuh, penuh yang damai, penuh yang tenang, dan penuh yang menjadi kebahagiaan banyak orang.
"Menurut aku, bintang itu cuma milik langit." Sakha yang memeluk gadis itu dari belakang dan memejamkan matanya seketika membuka mata perlahan demi perlahan, dan menoleh untuk melirik Kanaya.
"Kenapa gitu?"
"Karena kalaupun dia jatuh, nggak ada satupun orang yang bisa nangkap dia," jawab Kanaya yang saat itu juga melirik Sakha. Sebelum akhirnya dia tersenyum tipis dan melihat lagi bintang-bintang tersebut.
"Bintang tuh kayak enggak diciptain untuk yang lain." Seperti yang dia bilang diawal, bintang yang hanya untuk langit.
"Tapi lucunya langit nggak cuma diciptain untuk bintang." Di detik setelahnya gadis dengan kemeja berbahan linen tersebut tertawa miris. Membuat laki-laki yang memeluknya ikut tergelak. Sebab yang Kanaya katakan bisa jadi benar, hanya saja tidak sepenuhnya.
"Kalau setahu aku, seumpama bintang itu emang buat langit, ya pasti kebalikannya, langit juga buat bintang. Kayak dua orang yang berjodoh, misalnya kita, kalau kamu untuk aku, ya udah pasti aku juga untuk kamu."
"Meskipun di sana banyak benda lain, yang mungkin lebih besar, lebih cantik, ataupun lebih yang lain dari bintang, belum tentu ketika langit penting untuk bintang, bintang nggak penting untuk langit."
"Karena sesederhana ngasih ruang juga biarin bintang supaya tetap di sana dan bersinar semampu dia pun udah lebih dari cukup untuk memberi kita pemahaman, bahwa untuk langit, bintang juga sama pentingnya."
"Jadi jangan salah paham."
"Kamu tuh ngomongnya nyambung, cuma kok kayak plus nyindir gitu, sih, kedengerannya," Ketika Kanaya menoleh dengan ekspresi heran juga dengan bola mata menuding, Sakha justru menatapnya dalam, sangat dalam, bahkan Kanaya langsung diam dan ekspresinya dengan otomatis ikut berubah, gadis itu juga spontan mengundurkan tubuhnya ketika Sakha mendekat, jaga-jaga, sebab meskipun mereka jauh dari keramaian, tetap saja ini tempat umum.
Namun jarak yang berhasil Kanaya ciptakan itu hilang tanpa sisa ketika Sakha menarik pinggangnya dan menangkup pipinya dengan usapan yang hangat, bahkan ketika Kanaya diam, tidak membalas ciumannya, Sakha tetap tidak peduli, dia masih terus mencium Kanaya dengan gerakan hati-hati seperti biasanya, seakan menyalurkan perasaan yang ternyata hingga sekarang ini belum sepenuhnya sampai kepada Kanaya. Tentang pentingnya gadis itu untuk Sakha, tentang dia yang perlahan-lahan menjadi segalanya untuk Sakha, atau bahkan, tentang cara mencintai Sakha selama ini.
"Every creature has its own way of loving, so from now on." Dan kalimat itu ditutup dengan sebuah harapan "I hope you will understand that." Paham tanpa perumpamaan apa pun lagi.
"Naya,"
"Hmm?"
"I want more than this." Saking terus terangnya Sakha, Kanaya sampai mendorong dada laki-laki itu. Dia tidak habis pikir, jelas, sementara Sakha malah dengan santai tertawa.
"Tawaran yang kemarin udah nggak bisa dipakai ya berarti?" tanya laki-laki tersebut, masih dengan tawa santainya.
"Bukannya enggak bisa," Kanaya sedikit menekan nada bicaranya.
"Cuma tau dong kalau ini tempat rame, ya kalii."
"Do you want more than this?"
"Aku?"
"Iya."
"Apaan sih kok malah nanya ke aku."
"Kalau iya langsung pesen hotel nih!"
"Sakhaaaa apaan sihhh!"
°°°
"Mau teh apa kopi?"
"Mau yang semalem lagi aja, boleh nggak?"
"Dihh, maunya." Kanaya jelas mencibir, sedangkan Sakha hanya tertawa tanpa dosa, dia pun langsung duduk, memilih untuk melihat Kanaya yang sibuk entah memasak apa tanpa ada niatan sama sekali untuk mengganggu gadis itu.
"Teh aja lah yaa, nggak baik kalau kopi terus, kebanyakan kafein."
"Teh juga ada kafeinnya padahal," kata yang laki-laki.
"Ya emang, tapi kan nggak sebanyak kopi."
"Btw, Nay, dari Bandung kita langsung ke Bali atau gimana?"
"Terserah aja kalau aku mah." Gadis itu sudah selesai dengan dua teh hangat, juga sereal ringan yang Sakha tidak tahu kapan dia membawa itu.
"Kamu nggak capek kalau langsung ke Bali?"
"Nggak juga." Kanaya malah ingin secepatnya ke sana. Lagi pula kalau tidak langsung kasihan Sakha, bisa-bisa ketika kembali ke ibu kota pekerjaannya makin menumpuk.
"Nay,"
"Hmm?"
"Sebenarnya ada yang mau aku kasih tahu, cuma aku nggak yakin timmingnya pas."
Sakha hanya takut kalau hal yang akan dia bicarakan setelah ini hanya akan merusak suasana, tapi dia jauh lebih takut lagi ketika Kanaya tahu itu dan bukan dari Sakha.
"Its, okay, ngomong aja." kata gadis itu, dengan senyum tipis yang mempersilakan.
Jadi setelah menarik nafasnya dalam, Sakha akhirnya berterus terang kalau dia bertemu lagi dengan habibah. Di sebuah siang yang penat, di sebuah siang yang melelahkan.
"Aku gak tau kalau dia kerja di sana, begitu juga dia, dia nggak tau kalau kafe itu ternyata berseberangan langsung dengan perusahaan papa. Perusahaan yang di dalamnya ada aku."
"Dulu aku emang khawatir setiap kali kamu deket sama dia." Kanaya mulai merespon ketika Sakha selesai dengan apa yang dia utarakan. Lantas pada gelas teh yang dia pegang, dia tersenyum tipis, sekali lagi dia tekankan bahwa itu dulu, dulu sekali. Kalau sekarang, rasanya biasa saja, seperti ada sesuatu yang membuat dia yakin bahwa semua akan baik-baik saja sekalipun mereka— Sakha dan Habibah akan sering berinteraksi ke depannya, entah itu sebagai teman, atau sebagai pelayan dan pengunjung kafe.
"Kamu—nggak marah?"
"What for?" Kanaya mengedikkan bahunya.
"Terlalu mengekang pasangan tuh nggak baik, kita sama-sama setuju, kan, di awal," sambung gadis itu.
"Sebagai suami istri, kita punya banyak banget kewajiban, salah satunya, percaya dan menjaga kepercayaan pasangan kita."
"Tapi kita pernah berantakan karena nerapin konsep ini." potong Sakha.
Dan Kanaya, gadis itu lagi-lagi balas tersenyum.
"Itu diaa poinnya, kita belajar dari waktu itu."