DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 58



Ketika Sakha menuruni tangga untuk sampai di lantai bawah, tidak di sangka sangka jika di sana juga ada Kanaya. Sosok itu duduk dengan senyumnya yang gambang. Pada obrolannya, ia seolah tidak hanya sekedar berujar untuk menjadikan ruang obrolan itu di penuhi akan banyaknya dialog, tapi juga menyakinkan seseorang yang ada di depannya, jika apa yang ia katakan, akan dia usahakan.


Sakha tidak mendengar yang sebelumnya seperti apa.


Karna tepat setelah ia berdiri dilantai satu, pada tempat yang tidak jauh dari gadis itu, yang dia dengar hanyalah dua kalimat.


"Kanaya enggak akan kemana mana Ma,"


Yang seolah memberi tanda, dia tetap akan disini, tidak peduli akan keadaan yang nantinya seperti apa.


Tapi bukankah 'tidak akan kemana mana' juga bisa membuat bingung apabila tidak di jabarkan.


"Kanaya enggak akan pergi"


Dan Sakha ingin bertanya lagi,


Dari dia, atau justru dari kota ini?


"Samperin gih"


Sesaat Sakha tersenyum. Memandangi wajah Kanaya yang sepertinya sudah lama tidak ia lihat. Lantaran keduanya yang sama sama menjauh untuk sementara waktu ini.


Sebetulnya Sakha ingin ke sana, duduk didepan Kanaya dan meminta maaf. Untuk apapun itu.


Hanya saja Sakha takut jika Kanaya masih belum siap.


Untuk bertemu, duduk dan mengobrol dengannya, dan juga memaafkan Sakha.


"Bukannya lebih baik kalau di tuntaskan dengan cepat"


"Gue nggak mau buru buru Bang,"


"Gue bakalan nunggu sampai dia mengaku siap buat ketemu sama gue lagi"


"Dengan cara kayak gini, lo malah kayak orang yang nggak sadar sama kesalahannya Kha"


"Siap atau enggak itu tentang dia yang memaafkan, bukan lo yang meminta maaf"


"Karna ketika lo sadar lo punya salah sama seseorang, tugas lo cuma dua, mengakui kesalahan itu dan segera meminta maaf"


"Kapan dan dimana dia memaafkan, biarin itu jadi urusan dia, yang terpenting lo uda bertanggung jawab dengan kesalahan lo"


°°°


Jam dua pagi, ketika Sakha masuk ke kamar Kanaya, ia masih menemukan kamar itu dalam kondisi yang berantakan.


Dapat dia liat dengan jelas bagaimana acak acakannya seprei kotak kotak milik gadis itu, atau buku yang berserakan di meja belajarnya.


Jadi untuk malam ini, saat ia tidak bisa memejamkan mata sekalipun ia merasa begitu lelah, akhirnya Sakha memutuskan untuk masuk ke kamar itu. Merapikan seprei nya, menata buku buku yang ada di meja belajar, bahkan membersihkan beberapa sampah yang juga ada di sana.


Sampai semuanya selesai, ia memilih duduk didepan meja belajar.


Alih alih foto, yang Sakha pandangi hanyalah buku. Sebab di atas meja tersebut sepertinya tidak ada benda lain selain buku dan alat alat tulis.


Lalu ketika ia mengeluarkan hp nya, di sana, di layar yang baru menyala tersebut, ada foto mereka yang Sakha ambil ketika wisuda.


Saat itu keduanya sama sama tersenyum, dengan senyuman paling lebar yang mereka punya. Saling merangkul, seakan setelah ini, mereka akan terus menjadi pasangan teman yang selalu menguatkan. Sekalipun tidak selangkah, tapi mereka bisa memberi semangat, itu yang Sakha dapati ketika ia menggeser layar kunci, dan menemukan foto mereka yang saling melirik di layar utama.


"Ini gue cakep banget nggak sih, kayak bukan gue"


Kata Kanaya waktu itu. Tepatnya setelah acara selesai dan keduanya sama sama terkapar di bawa pohon mangga sekolah.


"Tuh, ini apalagi, cantik banget gue" Katanya. Lagi dan lagi ia di buat bingung dengan gadis itu.


Sekalipun saat Sakha menoleh, Kanaya memang terlihat lebih cantik dari biasanya.


Sifat nya yang tengil seketika pupus, tergantikan dengan pesonanya yang baru, yang justru terlihat begitu anggun.


"Lebai" Tapi yang Sakha katakan justru kalimat sesingkat 'lebai'


Dan perlu kalian ketahui, biarpun singkat, tapi jlebnya dalam juga.


Saat itu Kanaya sampai bungkam di buatnya.


"Tapi lo emang cantik Nay,"


Bahkan tidak harus di make up sampai sedemikian, Sakha masih mengakui itu.


"Lo cantik"


°°°


"Kita kemana sih" Desis Anjani. Setibanya dia didepan Kanaya, tanpa aba aba ataupun persiapan, Anjani justru di seret dengan kecepatan yang bukan main. Bahkan ketika ia mendumel di sepanjang Kanaya menyeret tangannya, Kanaya tidak merespon sama sekali. Dan yang bisa Anjani mengerti, Kanaya sedang terburu buru, tapi entah untuk mengejar apa.


"Tuh kan" Sampai dia berhenti di depan lorong sebelum fakultas ekonomi, barulah tangan Anjani di lepaskan.


"Serius ya, cara lo nyeret gue kayak orang kesetanan tau nggak" Yang satu masih mendumel.


"Kalau lo di posisi gue, lo bakalan ngapain Jan?" Tanya Kanaya, begitu lirih. Hanya untuk membuat Anjani menoleh ke arah dia, dengan tatapan bingung dan juga tidak mengerti.


Tapi ketika Anjani menoleh ke arah depan, di sana dia malah menemukan Sakha dan Habibah.


Di jam yang baru menjelang pukul 08.00 keduanya sudah menciptakan ruang obrolan yang hangat.


Hebat!!


"Uda gue labrak sih"


"Tapi itu kan gue," Ujarnya. Yang setelah itu mengusap bahu Kanaya.


"Setiap orang punya cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalahnya Nay. Ketika lo nanya ke gue, dan tau jawaban gue apa, lo nggak harus menggunakan cara yang itu. Karna barang kali, lo punya cara yang lebih baik"


"Gue salah nggak Jan?"


"Salah kenapa?"


"Kemarin gue marah marah sama Habibah. Karna di malam saat rumah dia ke bakar, alih alih jemput gue pulang karena takut gue kehujanan, Sakha malah samperin Habibah, nenangin dia padahal di tempat lain, gue juga nangis. Gue juga ketakutan"


"Nggak. Lo nggak salah" Jawab Anjani.


Dan ia merasa, di sini tidak ada yang salah. Baik itu Habibah yang menelpon Sakha, Sakha yang peduli ataupun Kanaya yang cemburu. Mereka sama sama tidak tau tempat, dan juga waktu. Mereka tidak tau kapan tepatnya.


Habibah yang tanpa pikir panjang langsung menelpon Sakha.


Sakha yang tanpa bertanya dulu langsung mengambil keputusan.


Dan Kanaya yang terlanjur kecewa karna pilihan Sakha yang dia rasa tidak masuk akal itu.


"Semoga cepat membaik" Bisik Habibah. Tepat setelah ia merangkul Kanaya.