
Apa yang Kanaya sukai dari Festival kampus? Sebenarnya tidak ada, berhubung itu di kampusnya Tiara dan gadis tersebut juga katanya memiliki stand, jadilah Kanaya datang, kalau ditanya malas atau tidak? Jelas iya. Cuma kalau di pikir lagi, bukankah waktu itu sangat berharga ya, jadi rasanya sayang kalau setiap hari banyak di habiskan untuk rebahan oleh Kanaya, apalagi sampai berakibat ia linu linu.
"Rame ya"
Sekilas Sakha menatap gadis itu, lantas terkekeh karna ucapannya barusan.
Tidak usa bertanya di mana Habibah? Gadis itu pergi bersama Anjani, entah Anjani sengaja atau tidak saat meminta mereka berpencar tadi.
"Mau coba makanan tradisional nggak?" Tanya Sakha. Sekalipun dia tidak tau bagaimana rasanya, tapi sepertinya tidak buruk. Yang setelah itu Kanaya langsung mengangguk. Membiarkan Sakha menggandengnya untuk membela kerumunan dan mendapat ruang sekalipun masih sangat sempit, jalanan yang di iringi stand demi stand tersebut memang sepadat itu.
"Kayak pasar tradisional waktu itu nggak sih, cuma ini lebih parah" bisik Kanaya.
"Uda, pokoknya jangan lepas tangan gue"
Padahal yang mengenggam adalah Sakha, lucunya begitu erat sampai sampai Kanaya yakin jika tangan mereka sama sama berkeringat sekarang.
"Lo pernah coba nggak?" Kanaya masih tidak yakin, padahal ini yang ketiga kali Sakha mau menyuapkan makanan tradisional tadi ke arah Kanaya, tapi belum juga Kanaya makan
"Ini kenyal kenyal gitu apaan sih"
"Makan dulu dong, biar tau"
"Nggak mau,"
"Aaaaa"
"Lo aja deh" gadis itu ganti menghadapkan makanan tadi di depan mulut Sakha,
"Kan lo yang mau" Ujarnya. Sebab Kanaya benar benar tidak yakin dengan makanan berwarna warni yang di lumuri kelapa tersebut.
"Asli, ini asing banget buat gue"
"Gue coba dulu, tapi lo juga cobain ya"
"Kalau enak"
"Taruhan aja gimana?"
"Iiihhhh" gadis itu seketika bergidik, takut dosa juga takut jika kalah.
"Tapi Kha, mama gue pernah deh kayaknya makan klepon, terus katanya enak"
Bersamaan dengan itu Sakha juga melahap kleponnya, di tengah bising, dan keramaian di sekitar mereka, untuk sesaat Sakha memejamkan mata, mencoba lebih menikmati klepon tersebut.
"Beneran enak sih, lumer lumer lembut gimana gitu"
"Yang lumer apaan dah"
"Ada isinya, tuh liat" katanya, memperlihatkan isi dari klepon yang baru saja dia gigit. Sampai di situ Sakha langsung mengandeng tangan Kanaya, mengajaknya berkeliling kembali sembari ia yang asik menikmati setusuk klepon yang tersisa.
"Lo nggak mau coba apa apa gitu, rugi kalau cuma jalan jalan,"
"Gue mau beli apa ya ... " Kanaya mengedarkan pandangannya, tapi juga masih terus berjalan.
Kebanyakan stand memperkenalkan makanan tradisional, juga minuman tradisional, untuk beberapa lagi, ada yang berjualan balon, stand untuk meramal, hiburan dengan permainan jaman dulu dulu dan masih banyak lagi yang sepertinya seru seru saja untuk di lakukan, tapi Kanaya yang malas.
"By the way, Tama tadi ngomong apa?"
"Urusan laki laki, lo kan perempuan, jadi nggak boleh tau"
Kanaya jelas mendengus, kontras dengan Sakha yang malah tergelak
"Nggak penting Nay, biasa lah"
"Lo mau daster nggak?"
"Buat apaan" Sakha hampir saja mengumpat andai dia lupa siapa Kanaya.
"Harusnya gue yang nawarin begitu" Dengus Sakha. Tidak tau lagi bagaimana menghadapi keajaiban gadis itu.
"Lo mau topi nggak?"
"Topi gimana?"
"Yang buat pelukis itu loh, cakep kayaknya"
"Gue mah dari dulu uda cakep" Kanaya dengan Sok nya mengibaskan rambut secara pelan, yang langsung Sakha balas dengan tatapan remeh bin datar, lagi pula maksud Sakha adalah topi tersebut, bukan Kanaya, asli.
"Mau nggak? Kalau mau gue beliin" ia menawarkan sekali lagi.
"Yang berguna berguna aja kenapa sih, topi begitu mah buat apaan"
"Bakalan berguna, tapi mungkin nggak sekarang" Kata Sakha, dan dengan begitu saja ia langsung menyeret Kanaya ke penjual topi tersebut.
Sakha itu orangnya identik dengan tiba tiba, jika tadi dia tiba tiba mengandeng Kanaya, kini ia juga tiba tiba memasangkan topi tadi ke kepala Kanaya, lantas mendorong pundak gadis tersebut agar menatap kaca dan tau bagaimana dirinya saat ini.
"Cantik kan?" Tanya Sakha, masih dengan kedua tangan memegang pundak Kanaya.
"Kali ini bukan cuma topinya, Karna lo juga cantlik"
"Anaknya siapa dulu dong"
"Istri gue"
"Tapi Nay, kayaknya ada yang lebih bagus ketimbang ini"
"Oh ya!" Sebenarnya Kanaya tidak seterpukau itu, hanya saja sedikit dibuat buat. Bukan apa apa, Kanaya mengaku candu dengan sesuatu yang menyangkut Sakha, tawa ringan lelaki itu misalnya.
"Gue mau beliin lo juga deh"
"Kalau daster mending enggak usa, makasih" Ujar Sakha, melepas tangan yang tadi di pundak Kanaya dan mulai berjalan meninggalkan penjual tadi, tentunya setelah ia membayar.
"Lagi pula jaket denim gue lebih oke ketimbang daster bunga bunga tadi"
"Lo pengen banget ya gue beliin daster" Barang kali memang begitu. Apalagi Sakha juga sempat melirik beberapa penjual daster tadi, yang aneh, mengapa ada penjual daster di Festival kampus seperti ini. Ada ada saja, pikir gadis tersebut.
"Lo mau warna apa?"
"Syal?"
Kanaya mengangguk, dengan semangat dia memperlihatkan dua syal dengan warna yang berbeda pada Sakha. Satu berwarna putih yang menenangkan, dan yang kedua warna moca yang juga tak kalah tenang.
"Nggak usa mikir ini bakalan berguna atau enggak, pasti berguna kok. Cuma enggak sekarang" lantas gadis itu terkekeh, setelah ia berhasil mengcopas ucapan Sakha.
"Yang menurut lo bagus yang mana?"
"Gue bakalan milih itu"
"Yang ini sih" Ucap Kanaya, menjunjung syal dengan warna putih tersebut menjadi agak tinggi dari yang warna Moca,
"Karna jaket lo kebanyakan warna coklat, kayaknya pas kalau di pasangin sama ini"
Lalu kebetulan juga Sakha mengenakan jaket panjang berwarna coklat hari ini, dengan panjang yang hampir menyentuh lutut, agaknya sangat pantas jika syal tadi juga Sakha kenakan.
Lelaki itu menunduk, dengan badan agak dia condong kan ke Kanaya
"Sekarang?"
"Kapan lagi?"
"Tapi ini panas loh," Kata Kanaya, yang saat ini sudah memasangkan syal tadi ke leher Sakha, dengan pergerakan perlahan dan sesekali menatap manik Sakha. Kanaya tau dia tidak akan bisa menyelami manik itu, tapi setiap kali Kanaya menatapnya, akan ada sinar teduh yang mampu membuatnya merasa hangat. Dan yang membuat Kanaya bingung, apa semua orang, Sakha tatap dengan tatapan yang sama?