
Sakha itu laki laki, tapi kadang riweuhnya melebihi Kanaya yang perempuan.
"Kha bentar deh!"
"Apaan sih, kan uda dibilang aku enggak mau."
"Alasannya apa coba, dia kan smart."
Laki laki itu menatap kesal pada Kanaya, kemudian duduk di kursi dengan kasar. Kanaya sendiri tau kalau Sakha sedang sewotan.
"Pokoknya yang tadi- nggak masuk ke tipe asisten aku."
Ya gusti!
Tau alasannya kenapa? Karna kata Sakha perempuan itu nggak beres. Pertama kali interview saja dia sudah meliriki Sakha terus terusan. Tapi kan bukan berarti dia naksir sama Sakha.
"Kamu tuh kebanyakan nonton sinetron kayaknya." Hal itu kontras dengan apa yang Sakha pikir. Kanaya tidak pernah nonton sinetron yang temanya, bos cinlok sama asisten. Makanya Sakha ngeri kalau asistennya perempuan. Dia setia kok, tapi kalau Asistennya yang macam macam gimana?
"Nay, suami kamu ini gantengnya kebangetan loh." Ini lagi, perasaan dulu Sakha tidak narsis, tapi sekarang,
"Ck," Kanaya jadi merasa bersalah. Takut takut kalau Sakha seperti ini karena dia tulari.
"Udah ahhh, jangan nyusahin papa kamu tuh!"
Saat Kanaya mengatakan hal itu, Sakha hanya bisa menarik nafas panjang. Yang Kanaya bilang benar, jika dia terus terusan seperti ini, yang ada dia cuma akan jadi beban untuk papa. Tapi Sakha adalah Sakha. Yang katanya konsisten padahal aslinya dia itu keras kepala.
"Bakalan aku handle sendiri sampai aku dapat asisten."
"Jangan gila deh!" Giliran Kanaya yang sewot.
Biarpun baru di sana, tanggung jawab Sakha sangat besar, yang harus dia kerjakan banyak, belum lagi dia juga masih kuliah.
"Kamu bantuin aja deh mending, dari pada ngomel ngomel terus." Kata Sakha.
"Yaa?" Sekali lagi dia melirik Kanaya.
"Kok jadi aku?"
"Ya nggak papa, lagian cuma bantu list jadwal sama waktunya aja kok."
"Oke fix sementara ini kamu yang bantuin aku."
"Ehh kok gitu sih?" Kanaya jelas protes. Sebab dia belum setuju tapi Sakha malah seenaknya.
"Jangan aku, pokoknya jangan aku."
"Biar bisa berdua terus." Sakha, laki laki itu berdiri dan melepaskan kemejanya, kemudian menganti dengan pakaian yang lebih santai. Sedang Kanaya, jangan ditanya. Dia langsung keluar.
"Udah bagus dapat asisten yang pinter, bisa bisanya enggak diterima." Gadis itu juga mendumel. Membuat Sakha yang mendengarnya terkekeh pelan.
"Maunya apaan sih? Mau nyari yang kayak gimana lagi?"
"Jalan jalan yuk! dari pada ngomel terus." Tau tau Sakha ada dibelakangnya, dan seperti biasa, laki laki itu memeluk Kanaya.
"Udah lama juga nggak jalan jalan."
"Nggak mau."
"Jangan ngambek gitu dong, ngambek mulu." Baru sekali perasaan. Batin Kanaya.
"Masalah asisten besok aku pikir pikir lagi."
"Kan uda dibilang jangan lama lama."
"Iya Nay, iya." Sekali lagi Sakha terkekeh.
Kemudian laki laki itu kekeuh ingin mengajak Kanaya jalan jalan. Mumpung senggang.
"Itung itung kencan," Kata laki laki itu. Tersenyum lebar dan membukakan Kanaya pintu mobil. Itu mobil dari papa, katanya fasilitas dari perusahaan.
"Kemana kita?"
"Lha kan kamu yang ngajak!"
°°°
Sedari tadi Sakha hanya mengajak Kanata muter muter, nyaris seperti tidak punya tujuan, atau barang kali memang Sakha sendiri tidak punya tujuan akan mengajak Kanaya kemana.
"Sabaar, ini aku kayak gini tuh lagi nyari tempat yang paling bagus." Kanaya yang melirik laki laki itu kemudian menghela nafasnya. Dari awal firasatanya memang tidak enak.
"Yakin di sini?"
"Iya."
"Jangan ah, nggak romantis tempatnya. Kan mau kencan."
"Nggak papa." Kanaya tertawa. Jika tadi Sakha yang kekeuh mengajaknya untuk jalan jalan, sekarang ini dia yang kekeuh mengajak Sakha turun, "Ayoo!"
"Beneran ke sana?"
"Kenapa sih?" Tanya Kanaya. Muka Sakha itu seperti tidak menyakinkan, padahal di sana sepertinya sejuk.
"Yuk!" Sekali lagi gadis itu mengajak Sakha untuk segera turun.
"Yaudah deh kalau kamu mau ke sana."
"Gitu dong."
"Dari tadi aku nggak jelas ya Nay?"
"Iya, nggak jelas banget." Kanaya menjawabnya tidak tanggung tanggung.
"Abis bingung mau ngajak kamu kemana."
"Takut kamu nya nggak cocok sama tempat yang pengen aku datangin."
Tau hal apa yang sangat Kanaya takutkan sekarang ini? Takut kalau dia akan kehilangan Sakha yang seperti ini. Sakha yang selalu memikirkan dia. Sakha yang selalu mau Kanaya senang. Ataupun Sakha yang selalu bertanya Kanaya mau apa, bahkan sesederhana ketika dia mengajak Kanaya jalan jalan, dia selalu memikirkan banyak hal tentang gadis itu. Apakah Kanaya akan suka? Apakah Kanaya cocok dengan tempat itu?
"Makasih! Dan maaf buat tadi."
"Aku ngerti kok."
"Aku juga paham kok sama apa yang kamu pikirin."
"Maaf ya kalau aku kekanak kanakan." Giliran Sakha yang minta maaf, tapi menurut Kanaya, yang Sakha lakukan tidak salah. Sama sekali dia tidak salah.
"Kamu kayak gitu karna ada banyak hal yang kamu pertimbangin."
"Aku nggak akan minta bantuan kamu, aku beneran bakalan handle kerjaan aku sendiri buat sementara waktu ini."
"Terus kamu pikir aku bakal biarin gitu?" Kanaya kemudian mengandeng tangan Sakha.
"Aku bakalan bantuin kamu."
"Tadi katanya nggak mau."
"Kenapa deh? Biar bisa berduaan terus gitu?"
"Apaan sih?" Saat Sakha tertawa, Kanaya justru mengeplak lengan Sakha. Tidak cukup keras, tapi cukup untuk membuat Sakha meringis.
"Yakaan aku nanya. Emosian banget perasaan."
"Lagian dari tadi nyari gara gara mulu."
°°°
And the last, mereka menghabiskan waktu malamnya di sebuah caffe sederhana yang cukup elegan. Mungkin tidak seperti cafe cafe romantis yang akan di kunjungi beberapa orang ketika mereka kencan, tapi jujur Kanaya lebih suka yang seperti ini. Apalagi ketika Sakha memilih meja yang berada di rooftop.
"Pinter kan aku?"
"Iyain biar cepet." Kata Kanaya.
"Ngomong ngomong juga tumben milih tempat yang kayak gini?"
"Kalau di bawah rame." Sakha bukan tipikal orang yang suka basa basi. Jadi dia memperjelas kalau dia memilih tempat ini karena pure ingin berdua saja dengan Kanaya. Apalagi di sana hanya satu meja.
"Modus banget jadi orang."
"Emang kayak gini modus ya?" Laki laki itu kemudian duduk, dan hanya memperhatikan Kanaya dengan seulas senyum tipis. Sejak jadi istrinya, mungkin ini akan menjadi pertama kali untuk Sakha mengajak jalan jalan Kanaya ke tempat semacam ini. Kanaya itu perempuan yang terlahir dari keluarga kaya, tapi dia justru menjadi sosok yang sangat sederhana. Dan harus Sakha akui, bahwa Sakha mencintai kesederhanaan itu.
"Next time bakalan lebih bagus dari pada ini." Saat itu Sakha beranjak, menghampiri Kanaya dan ikut berdiri untuk melihat sisi jakarta dari sana.
"Kemana?" Tanya Kanaya begitu dia menoleh.
"Ya kemana kek."
"Kebiasaan." Yang perempuan tertawa.