
Tau apa yang lebih lucu dari sekedar merelakan? Ikut berharap dia senantiasa bahagia dengan orang lain sekalipun di saat yang bersamaan kamu juga berantakan.
Malam ini setelah Tama pulang dari pasar malam, kebetulan salah satu temannya di kampus menelpon dan mengatakan jika dia sedang berada di bar, awalnya Tama ingin pulang saja, tapi menginggat kembali di sana pasti ada sesuatu yang bisa membuat dia tenang, akhirnya ia menuju ke bar yang sudah di beri tau lokasinya itu oleh temannya.
Sampai sana pun Tama tidak benar benar meneguk alkohol, ia hanya memandangi gelas yang sudah diisi oleh minuman berwarna merah memabukkan itu, sekitar 7 menitan sebelum akhirnya Tama menaruh kembali gelas itu ke meja.
"Bisa bisanya lo," Temannya jelas heran, tapi tetap saja Tama tidak mengatakan apa apa, yang ia lakukan malah menghisap rokok nya, dan menyembulkan asapnya sejauh yang dia bisa.
"Sekali kali nggak papa lah Tam,"
"Sekali ataupun berkali kali, status minuman itu nggak akan berubah, bahkan setetes pun hukumnya masih haram"
Yang di beritahu seketika menghela nafasnya, bahkan ia tidak jadi meneguk gelas berikutnya. Fokusnya benar benar kepada Tama saat ini,
"Jadi gimana? Berhasil?"
"Apanya?"
"Lupain cewek itu, nggak tau lah gue siapa namanya, orang lo nggak pernah ngasih tau" barang kali Tama melotot sebab Bagas tidak tau siapa nama perempuan yang dia cintai.
Sesaat Tama terkekeh, entah menertawai Bagas atau justru dirinya sendiri. Kadang Tama bingung, dia tidak bisa melupakan orang itu padahal sudah berusaha atau justru selama ini dia tidak pernah berusaha.
"Next question"
"Nggak bisa," Sela Bagas
"Perasaan lo harus dituntaskan dulu"
"Ya lo pikir aja Gas, menurut lo segampang itu"
"Ya lagian dari banyaknya cewek yang bisa lo taksir kenapa harus dia coba?"
"Cinta tuh aneh emang,"
Kadang lucu, kadang juga ajaib.
Parahnya, orang pintar saja bisa mendadak dungu setelah mengenal cinta. Orang egois pun bisa lupa kalau ada diri yang harus dia utamakan.
"Lo yakin nggak mau minum ini lagi?"
Tama kembali menatap gelas itu sebelum akhirnya menggeleng. Lama ia mencoba lupa dengan alkohol, dan jika sekarang ia meneguknya lagi, besar kemungkinan dia akan kecanduan lagi.
"Kurang kurangin minum Gas, uda dosa, nggak baik juga buat kesehatan lo. Dan lagi, sampe kapan sih lo ngelampiasin semuanya di sini?"
"Hidup gue terlalu berantakan buat di perbaiki Tam,"
"Itu lebih baik dari pada nggak sama sekali"
"Anehnya kenapa coba lo mau temenan sama brandal kayak gue, bayangin dah, temen lo Sakha Sakha itu kan anaknya lumayan,"
"Lumayan gimana?"
"Baik"
"Dan lo merasa kalau lo nggak baik?"
"Uda jelas banget men" Bagas bahkan menyesap rokoknya kali ini, memperlihatkan bagaimana dia. Orang yang tidak kenal dengan dia pun sudah pasti tau Bagas ini anaknya berandalan, hanya dengan bagaimana dia berpakaian, atau rambutnya yang jarang hitam dan senantiasa berantakan itu
"Bingung gue, kalau kata bunda, mungkin itu alasan kenapa gue nggak dapet kerjaan sampai hari ini"
"Lo masih nyari kerjaan paruh waktu?"
"Ya menurut lo gue bingung gara gara apa sampai setiap malam ke sini cuma buat beli ginian, gue pusing bukan karna cewek, bukan karna tugas kuliah," sebab Bagas termasuk siswa pintar, hanya saja ia jarang memperhatikan saat ada dosen masuk dan mulai menjelaskan terkait materi yang seharusnya mereka bahas dan mereka diskusikan bersama sama.
"Nggak ada yang percaya sama gue cuma gara gara penampilan gue begini, emang gue preman banget?"
"Ya gitu sih"
Tama tergelak sebelum kembali berujar.
"Gue pernah denger yang kayak gini di internet, lo nggak bakalan bisa mendapatkan apa yang lo mau dengan lo yang sekarang. Tau Maksutnya?"
"Untuk mendapat sesuatu yang kita inginkan, kita harus menjadi versi kita yang lebih baik dari sebelumnya?"
"Betul. Kalau lo uda tau faktor lo nggak diterima di lowongan paruh waktu manapun gara gara penampilan, ya lo urus penampilan lo"
"Karna dia nggak sadar"
"Coba kalau dia sadar?"
"Dia bakalan suka sama lo gitu?"
"Kemungkinannya kecil" Tama lagi lagi tergelak.
"Kemungkinan yang jauh lebih besar dari itu, dia bisa menjauh dan benci sama gue"
°°°
Jakarta semakin menunjukkan keindahan saat menjelang jam satu malam. Udara mungkin lebih dingin dari tadi, tapi cahaya dari lampu lampu di pinggiran jalan nampak kian bercahaya, seolah ikut memancarkan kehangatan lewat sinar yang mereka punya.
"Besok gue kuliah pagi, lo mau gue jemput?" Tanya Sakha begitu mereka sudah sampai di rumah, dan dia baru menutup pintu.
"Nggak perlu, gue bisa naik busway Kha, jarak kampus sama kos kosan juga jauh kan "
"Tapi gue nggak papa Nay, Serius"
Lebih tepatnya Sakha rindu berboncengan dengan Kanaya seperti itu, selepas kelas dia harus menjemput Kanaya juga tidak masalah, paling lelahnya akan hilang sebab ikut tersapu angin, atau karna pelukan gadis tersebut.
"Tidur di kamar gue ya?"
"Hah?" Kanaya jelas melotot, bahkan hampir tersedak Snack yang ia makan sekarang.
"Lo sadar?"
"Berapa kali sih gue bilang, gue nggak pernah koma"
"Ya terus?"
"Salah ya gue ngajak lo tidur seranjang?"
Enggak, tapi untuk ukuran laki laki seperti Sakha, ini cukup aneh. Terlebih ini adalah pertama kalinya Sakha mengajak Kanaya tidur satu ranjang.
"Nggak, lo mau ngapa ngapain gue kan!"
"Nggak salah juga kan kalau gue ngapa ngapain lo"
"Kabur nih?"
"Ya silahkan," sebab kalaupun Kanaya lari, Sakha sudah jelas akan mengejar gadis itu.
"Lagian gue ada tampang tampang mencurigakan hah? Gue cuma mau tidur bareng, nggak lebih"
"Awas kalau lo macem macem"
"Cuma satu macem"
"Sakha!"
"Apaan"
"Nggak boleh macem macem, janji dulu"
Sakha terkekeh, melihat keliling gadis itu yang kini ia keluar tepat di depan dada Sakha, justru membuat Sakha semakin tergelak.
"Yang lo pikirin apaan sih Nay, bisa bisanya janji cuma buat beginian"
"Ya gue kan harus waspada"
Sakha aslinya malas, tapi dia tetap menautkan kelingkingnya.
Lalu kalian pikir setelahnya bagaimana? Bahkan hampir satu menit jari kelingking keduanya bertaut, tapi seolah tidak ada yang mau melepaskan milik masing masing.
Mereka kembali diam dengan apa yang saat ini mereka pikirkan. Dan dalam keterdiaman itu, keduanya sama sama saling menatap, lalu tersenyum dengan senyuman paling tipis yang mereka punya, kalau ini potongan adegan film, mungkin sudah ada musik yang menjadi latar belakang alih alih suara mereka.
Jika Sakha dengan pertanyaan, "kenapa gue baru sadar?"
Maka Kanaya adalah sebaliknya,
"Kapan lo akan sadar? atau lo emang nggak punya waktu untuk sekedar tau?"