DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 66



Dear Sakha✅


Yang Kanaya tau, hidupnya ini bukan hanya untuk bersenang senang, bukan hanya untuk di bahagiakan, ataupun membahagiakan.


Satu minggu yang lalu, saat dia mengalami haid beserta nyerinya yang bukan main itu, sempat terbesit keinginan konyol seperti waktu berhenti saja di sana, dititik dimana dia menerima perhatian yang besar dari Sakha, di titik dimana dia begitu bahagia karna dia tau ternyata untuk Sakha dia juga sepenting itu, bahkan seharian itu rasanya yang Kanaya lakukan hanya terus terusan membuat Sakha repot. Tapi laki laki itu sama sekali tidak keberatan, bahkan dengan sabar dia menenangkan Kanaya, mengusap kepalanya sampai berjam jam, di jadikan bantal oleh Kanaya dari jam sebelas sampai mau menjelang Adzan asar, membuatkan Kanaya susu jahe, bahkan malamnya dia tidak tidur sama sekali agar supaya dia tau bagaimana Kanaya.


Jadi mengingat bagaimana manisnya hari itu


Tentunya Kanaya tidak siap sama sekali untuk hari ini.


Kembali ke kampus, menerima banyak sekali tugas, menyaksikan Sakha dan Habibah berjalan bersamaan memasuki lorong, bahkan katanya, hari ini Sakha akan membantu gadis itu untuk mencari lowongan pekerjaan.


Membayangkan saja Sakha akan pulang selarut apa nanti, bahu gadis itu sudah di buat lemas lebih dulu.


Lalu ketika punggung keduanya sudah tidak terlihat, gadis itu menghela nafasnya cukup panjang, kemudian menuju kantin dan menyenderkan kepalanya di salah satu meja disana.


Kalau begini rasanya Kanaya ingin haid kembali, di perhatikan kembali, di jaga sampai sampai Sakha seperti papanya, dan, Sakha juga tidak akan ingat jika di luar sana ada gadis lain selain Kanaya.


"Lo jangan kekanak-kanakan gitu deh" Gadis itu memaki dirinya sendiri.


Lagi pula apa lagi sih yang dia ragukan setelah kejadian nyeri haid waktu itu, harusnya Kanaya sudah lebih bisa percaya kan pada Sakha? Ataupun perasaan laki laki itu kepada Habibah.


Pada akhirnya gadis itu memilih untuk memejamkan matanya, tangannya dia gunakan sebagai tumpuan pipi sebelah kiri, sementara kedua kakinya sudah aktif di bawah sana, menendang nendang lantai dengan perasaan dongkol.


Kali ini Kanaya tidak menyalahkan Sakha, karna dari awal seharusnya dia tau jika Sakha itu tipikal orang yang kadang merasa ikut bertanggung jawab atas masalah orang lain. Tidak peduli mereka sedekat apa, bahkan ini juga berlaku untuk orang asing.


Aneh kan? Kanaya saja sampai saat ini masih tidak habis pikir.


Gadis itu juga tidak ingin menyalahkan Habibah. Karna wajar saja jika dia butuh bantuan dari orang lain di saat saat dia seperti ini. Dan kebetulan orang yang mau peduli dengan dia itu Sakha.


"Gini banget cemburu" Batin bocah itu. Kemudian dia menarik nafas lagi, membuangnya sembari mendengus. Kali ini bahkan tidak hanya cemburu, dia takut, khawatir juga.


Dan lagi lagi takut dan khawatir nya Kanaya tidak jauh jauh dari bagaimana jika Sakha memperlakukan Habibah ternyata juga sama seperti laki laki itu memperlakukannya?


Gadis itu menyingkap sisi kanan rambutnya dengan kasar, menipiskan bibir lalu menoleh dan mendongak sedikit, dan untuk beberapa detik dia menatap udara yang kosong itu dengan tatapan datar namun seperti mengintimidasi


"Dear setan setan di deket gue. Lo jangan mempengarui gue dehh! omongan lo di kepala gue tuh bulshit semuaaa! Iyaa bulshit, bulshit paraahh!! Jadi uda yaaa! mulai sekarang jangan harap gue mencak mencak cuma karna gue nebak nebak gini, nggak bakalan kemakan gue sama bisikan sesat lo itu"


Dengan kalimat sederhana yang seharusnya akan selalu dia ingat,


Mereka berdua tidak lebih dari sekedar teman.


°°°


Tau apa yang membuat Kanaya merasa seperti gadis dungu saat ini?


Memandangi jam bermenit menit, mengikuti hitungan detik demi detiknya, menguap berkali kali dengan mulutnya yang tidak absen menghitung ini sudah menit yang keberapa yang berhasil dia hitung.


Bahkan sampai jam menunjukkan pukul delapan malam, gadis itu tetap berdiam di sana. Sesekali dia juga melirik ke arah pintu, namun tidak ada tanda tanda jika Sakha akan segera pulang.


Sementara di tempat lain, Sakha juga melenguh panjang ketika dia akan menghubungi Kanaya tapi ternyata HP milik laki laki itu kehabisan baterai.


"Ck" Laki laki dengan kaos hitam itu jelas berdecak. Kemudian mencoba menghidupkan HP nya kembali, namun lagi lagi HP itu mati secara otomatis, tidak sanggup sekalipun hanya Sakha pakai untuk mengabari Kanaya jika sekarang dia tengah sendiri, duduk di tempat abang batagor dan itu tanpa adanya Habibah.


Bukan apa apa, Sakha hanya takut jika di rumah sana Kanaya tidak bisa fokus dengan apa yang dia kerjakan, dan malah berpikir yang macam macam soal dia dengan Habibah. Sakha juga tidak mau jika Kanaya merasa, jika untuk Sakha, dia dan Habibah itu sama. Sakha juga tidak mau Kanaya terus terusan di buat bingung dengan pertanyaan,


'Sebenarnya mana yang lebih Sakha utamakan, dia ataukah Habibah?


"Bang, ini antriannya masih banyak banget ya?"


"Iya mas" Jawab si abang


"Cuma uda mau giliran mas juga sih ini"


Sakha kemudian hanya mengangguk, memilih menunggu sedikit lebih lama lagi. Toh di rumah nanti dia bisa menjelaskan kepada Kanaya, bahkan lebih jelas ketimbang harus memberi tahu gadis itu lewat satu dua buble chat.


Laki laki itu kemudian menghela nafasnya, kembali diam dan mengetuk ngetukan sepatunya pada tanah yang sedari tadi ia injaki.


Dan nyatanya mereka saat ini sedang sama sama menunggu, sama sama khawatir juga


Jika mereka disandingkan, lalu di beri skat di tengah tengah seperti yang di film film, mungkin gambarannya tidak jauh dari Kanaya yang sedang tengkurap di kursi lalu mulai overthinking soal Sakha dengan Habibah. Dan Sakha yang memandangi bagaimana langit malam itu dengan binarnya yang justru gelisah, sebab dia mencemaskan bagaimana dengan perasaan Kanaya. Terlebih yang gadis itu tau, tadinya dia pergi bersama Habibah.