DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 48



Kanaya tidak tau sampai kapan Habibah ikut dalam cerita ini. Kemarin mungkin hanya ia dengan Sakha, tapi tidak menuntut kemungkinan jika seterusnya akan begitu.


Saat saat dimana Sakha berjalan bersama Habibah tanpa menyadari kehadiran Kanaya bahkan masih ada sampai hari ini. Saat saat Habibah menyodorkan makanan dan Sakha menjadi pihak yang menerima juga masih sering Kanaya lihat.


Kala gumpalan awan kumulus menutupi cahaya matahari hingga menjadikanya redup, Kanaya hanya menyandarkan tubuhnya pada pohon mangga besar di pinggir lapangan kampus. Sekalipun Sakha selalu menyuruhnya pulang saat ia ada rapat, Kanaya akan tetap di situ. Dengan sebotol air putih atau segelas es Doger yang memang memangkal di sana.


Kadang Kanaya menyalahkan cemburunya, Tapi kadang juga ia benarkan. Bahkan me-wajarkan itu.


"Mereka cuma ke warnet kok Nay, santai" Seperti kemarin saat Kanaya menguntit mereka. Diam diam Raka juga menguntit di belakang Kanaya. Saat Kanaya berhenti, saat itulah Raka baru muncul, sembari terkekeh tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Lagi pula, Sakha tuh bukan laki laki yang menye menye. Dia kalem, nggak suka tebar pesona sama cewek cewek lain, sekalinya secakep Habibah atau semanis adek adek Maba. Yakin dah ama gue"


"Permen kapasnya mbak?"


Perihal bagaimana tenang wajah Raka pada hari itu perlahan berganti menjadi segumpal permen kapas berwarna putih. Dengan matanya yang sedikit menyipit Sakha juga tersenyum. Bahkan tidak mempersalahkan jika tangannya terus terulur seperti itu.


"Bukannya rapat?"


"Uda selesai dong"


"Terus?" Kanaya yang sudah mengambil permen kapas tadi mengangkatnya agak tinggi, meminta penjelasan soal bagaimana Sakha bisa mendapatkan permen kapas tersebut.


"Di kantin tadi ada yang jual, anak ekonomi deh kalau nggak salah. Jadi ya gue beli"


"Cuma satu?"


"Abisin dulu, nanti kalau kurang bilang"


Kanaya jelas terkekeh. Ini bukan masalah dia kurang atau tidak. Tapi mengapa Sakha hanya membeli untuk dia.


"Apa?" Tanya Sakha. Tidak mengerti mengapa Kanaya menyodorkan permen kapas tadi di depan bibirnya.


Tapi detik selanjutkan Sakha tersenyum, lantas memundurkan permen itu.


"Nanti gigi gue item item lagi kalau kebanyakan makan yang manis manis"


"Ya nggak lah" Kata Kanaya, lagi lagi ia terkekeh. Lagi lagi juga ia menyodorkan permen tadi untuk Sakha.


"Itu kalau anak kecil, lu kan uda besar, jadi nggak bakalan Bugisan"


"Manisnya pas, serius"


"Ini boleh gue gigit?"


"Lu makan semua juga silahkan"


"Nanti-"


"Enak kok, beneran" Kali ini gadis itu tidak menyodorkan semua dari permen kapasnya. Hanya sebagian yang tadi sempat ia ambil, dan sama seperti tadi, Kanaya meminta Sakha untuk memakan itu.


"Lu takut gue kadalin atau apa sih, ini serius tau"


Bukan, bukan itu. Jika tadi Sakha masih bisa bereaksi, sekarang jelas tidak. Tangan Kanaya yang terulur dengan secuil permen kapas tersebut berhasil membuatnya berhenti dalam melakukan apapun.


Tidak ada lagi senyum yang menyunging, mata yang berbinar, atau suasana sejuk yang beberapa detik tadi ia hirup. Yang ada hanyalah wajah Kanaya, senyum gadis itu, dan ekspresinya yang masih menyakinkan Sakha tentang manisnya permen kapas.


Sementara Sakha tak ubahnya bocah linglung yang tersesat. Bukan karna ia tidak mengenali jalan, melainkan ada sesuatu yang mengalihkan dia, membuatnya untuk terus di sana, diam sembari memperhatikan Kanaya. Menyaksikan bagaimana mata itu, rambut yang di sapu angin, atau satu alisnya yang perlahan terangkat.


"Ini bocah kenapa sih?"


Tapi alih alih bertanya, Kanaya langsung mengibaskan tangannya tepat di depan Sakha. Membuatnya mengerjap seketika.


Detik dimana Sakha sadar, adalah detik dimana tawa Kanaya yang langsung terdengar. Ia tidak tau pohon yang dibuat mereka berteduh ini angker atau tidak. Tapi melihat Sakha barusan membuatnya berpikir jika Sakha memang kesambet, hanya saja dalam durasi yang tidak lama.


"Kita pindah aja yuk"


"Disini kayak angker gitu nggak sih?" Gadis itu lantas berujar dengan sedikit berbisik. Yang seketika mengundang tawa Sakha.


"Tadi lo diem kayak orang kesambet, sekarang malah ketawa tawa kayak orang kesurupan. Uda paling bener kita pindah deh"


"Nggak ada yang angker" kata Sakha. Lelaki tersebut menahan Kanaya yang akan pergi. Membuat Kanaya kembali duduk sembari sesekali mendongak menatap pohon itu


"Uda gue bilangin juga, nggak ada yang angker Nay"


"Tapi lo rada serem"


Sekali lagi Sakha terkekeh.


Sekali lagi juga Kanaya langsung menuding.


"Noh, aneh kan lu"


"Btw Nay, lo tau nggak? Nggak semua laki laki tuh bisa memperjelas perasaannya dengan cara mengungkapkan. Saben hari, mungkin ada beberapa laki laki yang bilang ke pasangannya kalau dia mencintai pasangannya itu, dia suka, sayang, nggak mau kehilangan lah, ini lah. Tapi ada juga laki laki yang nggak bisa mengungkapkan itu dengan sebuah kata. Yang mungkin menurut sebagian orang, bilang I love you itu gampang, tapi ada juga di antara kami yang anti banget sama kata kata itu. Bukan karna kami nggak cinta sama pasangan kami. Tapi emang kami nggak bisa mengutarakan perasaan kami dengan kata itu"


"Nay" Saat angin begitu lembut menelisik wajah Kanaya. Saat itu juga Sakha dengan tiba tiba mengenggam tangannya.


"Menikah sama gue nggak akan ngebuat lo nemu kata kata itu setiap hari. Tapi sesekali bisa jadi iya. Lo cukup ingat gimana gue menatap lo hari ini, seumpama lo nggak lagi nemuin tatapan yang kayak gini, tandanya gue uda nggak cinta lagi sama lo, tandanya gue mengizinkan lo untuk pergi. Kemana pun, bahkan sama siapa pun kalau dia orang yang baik, gue pasti mempersilahkan"


"gimana cara lo menatap gue hari ini, ini bukan yang pertama kali"


"Gue kira lo nggak tau" Hingga begitu Kanaya mengatakan hal tersebut, ada sesuatu yang melegakan di hati Sakha. Kekhawatirannya menepis begitu melihat senyum tipis juga hadir di bibir Kanaya.


"Gue pernah nebak. Tapi gue takut kalau gue salah" Gadis itu kian menunduk, menatap rerumputan di bawahnya. Mencoba menginggat awal mula Sakha menatapnya dengan tatapan seperti itu.


"Dan nyatanya lo nggak salah" Hingga saat Kanaya masih diam dengan usahanya. Tangan Sakha menarik pundak kanannya. Lagi dan lagi ia di bawah ke aroma colonge tersebut.


"Gue nggak ada maksut apa apa. Gue takut lo nggak paham jadi gue memperjelas"


"Kenapa nggak dari kemarin kemarin coba di jelasin begini. Lo tau? Gue saben hari jadi penguntit lo diem diem. Karna apa? Kalau bukan cemburu. Takut lo kecantol sama si Habibah tuh"


Sakha tergelak. Ia tidak pernah mengira Kanaya sampai seperti itu. Bahkan bagaimana bisa dia di untit setiap hari dengan keadaan tidak pernah tau satu kali pun.


"Dia mah cuma partner kerja gue. Masa yang begitu kudu gue perjelas sih Nay"


"Lagian nih, gue kalau suka sama seseorang tuh-"


"Sakha"


Sakha tidak lagi menghadap Kanaya, Kanaya sendiri juga langsung menoleh pada Habibah yang berdiri di sebrang.


"Kayaknya kita harus print ulang"


Kalimat yang membuat emosi Kanaya tertahan.


Sementara Sakha sudah tergelak bukan main. Selagi Habibah belum sampai di depan dia, dia terus mengusap tangan Kanaya.


"Habibah cantik itu bener, tapi gue juga bukan cowok yang bisa kecantol cuma gara gara fisik. Yang kayak begitu mah sifatnya sementara banget Nay, Jadi santai"


•••


Haii....


btw maaf bngt karna saya baru update


semoga Feel nya dapet, semoga jg kalian nggk lupa kalau ini masih tentang Kanaya dan Sakha.


Oh ya, ini ada yang mau di kasih Visual Sakha nggak? kemarin niatnya tuh saya nggak pake Visual² an. Karna ya, biar kalian imajinasikan sendiri. Tapi kalau mau, Jangan lupa follow IG saya.


@Verliatin-08


Saya udh Nemu sih karakter yg menurut saya pas, Kalem kalem menghanyutkan begitu daahh, tapi nggak tau kalian setuju atau nggak, jadi buat yg penasaran, Skuy di follow, Nanti bakalan saya update fotonya di IG. dan buat yg nggak penasaran jg nggak papa, karna semua orang berhak berimajinasi dan semua orang punya dunia itu.


see you gaiss!!