DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 54



Untuk beberapa alasan, Kanaya malah merasa aneh dengan sikap mama ataupun papa. Sebab ketika dia sudah sampai di rumah, mama dan papa hanya tersenyum begitu Kanaya melewati keduanya.


Tidak ada pertanyaan


'Ada masalah apa?'


'Kalian berantem?'


Atau sesingkat


'Are you okay?'


Seperti mama atau papa yang biasanya mendapati Kanaya sedang kenapa kenapa.


Bahkan ketika malam yang panjang itu terlewati, dan pagi kembali datang, mama dan papa masih bersikap seolah tidak terjadi apa apa.


Papa asik menyeruput kopi yang sudah mama siapkan sambil sesekali melirik Kanaya, sementara mama juga sibuk dengan piring piring kosong yang harus beliau isi.


Sampai tugasnya benar benar selesai dan beliau ikut duduk di samping Kanaya, barulah mama menjadi orang pertama yang berbicara dalam ruangan itu.


"Kok nggak di makan, di makan dong Nay," Kata beliau. Hanya untuk mendapati Kanaya yang langsung tersenyum kikuk. Saking tidak mengertinya harus menyikapi mama dan papa seperti apa, gadis itu berakhir mengusap bagian tengkuknya.


Lantas memakan makanan yang sudah mama siapkan.


Kalau di ingat lagi, sudah berapa lama dia tidak menikmati makanan seenak ini, bahkan dia hampir lupa bagaimana rasa sambal balado buatan mama, bagaimana enaknnya salad buah yang selalu mama usahakan ada di meja saat waktu sarapan begini.


"Hari ini berangkat ke kampus jam berapa Nay?" Tanya papa. Beliau sudah menghabiskan jatah sarapannya.


"Kira kira jam setengah sembilan pa"


"Papa anter ya," Dan Kanaya hanya mengangguk. Sebab ketika papa sudah berkata begitu, tandanya Kanaya tidak lagi punya ruang untuk menolak. Lagi pula dia juga tidak keberatan untuk ke kampus bersama papa, sebab kalau di pikir pikir, kapan lagi ia akan di antar papa.


"Tadi Sakha telpon mama Nay" lalu setelah menimbang nimbang, akhirnya mama Kanaya mengatakan apa yang sedari membuat beliau ragu. Keduanya diam bukan berati tidak tau, mama ataupun papa sama sama mengerti jika Sakha dan Kanaya sedang bertengkar. Tapi agaknya lebih baik mereka diamkan dulu, sebab mereka juga pernah muda, bertengkar antara suami istri bukan sesuatu yang mengejutkan lagi, terlebih Kanaya dan Sakha masih sama sama muda.


Sementara Kanaya masih khitmad mengunyah sarapannya, di beritahu begitu pun dia tidak peduli. Bahkan sekedar ingin tau apa yang mereka bicarakan pun tidak. Ini saja kalau bukan karna kuliah bayarnya mahal, Kanaya ogah pergi ke kampus. Belum lagi kalau di sana nanti dia bertemu Sakha.


"Oh" lalu di detik di mana sarapannya sudah selesai barulah ia menjawab. Sebelum akhirnya menegak minumnya sampai habis.


"Nanti aku sama bang Rizal aja deh Pa, bukannya papa kerja ya?" Tanya gadis itu, jujur tadinya dia tidak apa apa berangkat bersama papa, tapi seutas rasa ragu kini hadir setelah ia tau Sakha habis menelpon mamanya.


"Kok gue" Kata Rizal. Bukan apa apa ya, dia ini paling anti kalau mengantar Kanaya ke kampus.


"Sama papa aja"


"Iya sama papa aja Nay, papa juga berangkatnya agak siangan nanti"


"Tuhh"


'ini sih gue bakalan abis di mobil


Sebab Kanaya berani bertaruh jika selama dalam perjalanan menuju kampus nanti papa pasti terus terusan ceramah.


°°°


"Nay"


'Sakha sialan'


"Iya pa" jawab Kanaya, meski ia ragu ragu tapi mau bagaimana lagi. Ini sih dia sudah hancur tanpa persiapan, bakalan kena Omelan juga tanpa persiapan.


Hingga di detik di mana Papa masih menatapnya, Kanaya langsung berpaling pada jalanan di sisi kanan.


'Mampus' dengan batik yang merutuk. Dia benci suasana canggung plus tegang begini, terlebih ketika hanya ada dia dan papa dalam ruangan sesempit mobil. Kanaya merasa kian terintimidasi


"Mau bicara sama mama nya Sakha? Tadi beliau nelpon papa, nanyain keadaan kamu"


"BELIAU UDA TAU?"


Papa mengangguk. Lantas kembali menatap depan.


"Rencananya beliau mau ke rumah Nay, tapi belum tau kapan"


"Ke rumah papa?"


Sekali lagi beliau mengangguk.


"Bilang aja nggak usa ke rumah pa"


"Loh kenapa?" Tanya papa, yang justru bingung dengan ucapan Kanaya.


"Bukannya bagus kalau mereka datang, kita bisa bicarakan masalah ini dengan konsep kekeluargaan. Kita cari solusinya bareng bareng"


"Kanaya males ketemu Sakha" Hingga gadis itu kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil. Dan menoleh lagi pada jalanan di sisi kanan.


"Lagian kan ngambeknya baru semalem, masa uda mau balikan, gengsi lah pa"


Untuk sejenak papanya terkekeh.


"Terus tunggu berapa hari buat baikkan, sebulan? Dua bulan? Atau setahun?"


"Kelamaan kalau itu mah"


"Jadi?"


"Ya pokoknya jangan minggu ini pa, Kanaya masih pengen marah sama Sakha"


"Nay, batas marahan yang paling lama tuh 3 hari kalau di dalam Islam, lagi pula kalian kan suami istri, nggak takut dosa kalau diemin suami lama lama, nggak baik sayang" Kata papa. Nadanya masih sama seperti papa yang biasanya menasehati Kanaya.


"Sakha juga tadinya mau ke rumah buat jemput kamu, cuma nggak papa bolehin"


Mendengar itu tentu Kanaya terkejut.


"Kenapa? Papa juga marah sama dia"


"Bukan" Jawab papa


"Tapi papa tau kamu butuh waktu buat sendiri dulu, kalau Sakha dateng tadi pagi, yang ada malah kena amuk sama kamu"


"Ya abis dia tuh keterlaluan,"


Papa lagi lagi terkekeh, lantas mengusap surai putrinya itu.


"Iya papa tau ceritanya gimana, cuma ya tetep lagi Kanaya, batas marahan dalam Islam maksimalnya hanya 3 hari"


"Nggak bisa di perpanjang pa?"


"Diperpanjang gimana? Kan itu sudah ketentuan Allah"


°°°


Kanaya benar benar pergi dari kontrakan tanpa persiapan, bahkan tas yang biasanya dia pakai ke kampus saja lupa di bawah semalam.


Akibatnya ia hanya menggunakan tas kecil, dan beberapa buku terpaksa ia tenteng. Sekalipun berat ya mau bagaimana lagi.


"Apes banget gue astaga, tas lupa, bulpen nggak bawa, flashdisk ketinggalan. Kurang mampus gimana lagi"


Lalu belum sempat ia mengumpat, tepat di belokan pertama, seseorang menabraknnya, langkahnya yang tadi terburu buru terhenti sebab orang yang dia tabrak tadi terjatuh, belum lagi buku bukunya yang berserakan.


"Eh, maaf"


"Lo kalau ke kampus matanya di bawa nggak, nggak liat orang segede gue" kata Kanaya. Seandainya yang di depannya ini bukan Habibah, tentu Kanaya tidak mempermasalahkan, sayangnya dia Habibah, wajahnya yang teduh itu ingin sekali Kanaya acak acak.


"Beresin buku gue!"


"Maaf ya Nay, aku tadi buru buru" Kata gadis itu, yang langsung membereskan buku buku Kanaya.


"Terus lo pikir gue nggak buru buru gitu, di kira yang sibuk cuma lo"


"Nay,"


"Bah,"


Untuk waktu yang bersamaan mereka saling memanggil, lalu akhirnya saling terdiam untuk saat yang lebih lama.


"Kenapa?" Sampai akhirnya Habibah lah yang bersuara lebih dulu.


"Lo suka sama Sakha?" tanya Kanaya, setelahnya ia menarik nafasnya dalam dalam, sebelum akhirnya ia mendengus.


"Kalau iya kejar, kalau enggak berhenti deketin dia"