DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 26



Membuat otak kembali Fresh menurut Kanaya bukan perkara sulit. Saat seseorang terlalu lelah dengan apa yang dia lakukan, seharusnya dia sadar jika dia butuh waktu untuk istirahat. Kanaya pernah bertanya seperti ini pada dirinya sendiri, orang yang hebat itu orang yang seperti apa? awalnya ia bingung, bahkan pertanyaan itu sering terlontar disela sela keterdiamannya, tapi hari ini sepertinya Kanaya tau orang hebat menurutnya itu yang bagaimana? Yang bisa mengatur waktunya dengan baik.


Tau kapan waktu untuk melakukan, menjeda, bahkan menghentikan. Kanaya ingin menjadi orang yang seperti itu.


Sayangnya dia yang kelewat teledor ini bagaimana bisa!


"Dulu nih, gue sering tau makan bakso disini"


"Oh ya?"


Gadis itu mengangguk, sembari tersenyum mengingat waktu waktu sebelum berteman dengan Sakha dan Tama, ia memang sering kesini. Yang Kanaya lakukan paling hanya makan bakso, lalu setelah itu duduk dipinggir danau sampai sore. Bukan untuk menunggu sunset atau apalah itu, sebab Kanaya bukan remaja pecinta senja, kalau ketemu ya dia senang kalau tidak ya tidak kenapa kenapa juga. Yang dia lakukan benar benar hanya duduk. Seakan meratap dipinggir danau itu padahal sebenarnya tidak.


"Gue juga sering makan disini, tapi gak pernah tuh liat lo"


"Lo uda pernah kesini?"


Sakha mengiyakan dengan anggukan kepala, dia tidak berbohong. Sebelumnya bakso disini juga sudah menjadi langganannya, dan sama seperti Kanaya, setelah bakso yang dia pesan habis, Sakha tidak akan langsung pulang. Lelaki itu selalu menyempatkan untuk duduk dipinggir danau terlebih dahulu, sekedar melempar batu kesana hingga tanpa sadar dia bisa memakan waktu lebih dari satu jam.


"Tapi kok kita enggak pernah ketemu"


"Gue datang setelah lo, atau kadang lo dateng setelah gue mungkin"


"Bisa jadi sih" Kata Kanaya, agaknya setuju dengan apa yang Sakha ucap, bisa jadi juga mereka itu seperti difilm film, yang sebenarnya bertemu tapi tidak saling mengetahui. Tapi kalau dipikir lagi, seandainya mereka bertemu disini sebelum berteman dan mereka saling mengetahui, apa iya keduanya akan bertegur sapa, tidak mungkin juga kan! mengingat bagaimana Sakha, juga bagaimana Kanaya.


"Padahal cuma begini, tapi rasanya lebih nyaman"


Sakha yang duduk disebelahnya turut tersenyum, jika Kanaya saat ini hanya duduk sembari memeluk dirinya sendiri, lain lagi dengan Sakha, ia sudah melempar lebih dari 10 batu ke dasar danau. Seakan bebannya juga ikut terlempar kesana.


"Raka tadi bilang apa?"


"Lo tau?"


Sakha mengangguk, Kanaya yang baru saja menoleh padanya kini menghadap danau kembali.


"Enggak bilang apa apa kok. Cuma ngasih gue es krim sama ngingetin gue kalau rumput yang gue dudukin belum tentu bersih"


"Enak?"


"Apanya?"


"Es krimnya?"


"Selama namanya masih es krim, di mulut gue rasanya pasti enak. Enggak usa ditanya kalau gitu mah"


Iya juga. Sakha tadi yang sempat melihat Kanaya menerima es krim dari Raka saja niatnya ingin menepis tapi urung, lalu tertawa ditempatnya berdiri, ia tau bagaimana Kanaya, ia juga tau kalau Kanaya paling lemah kalau sudah dihadapkan dengan es krim, atau tidak dengan bakso. Andai kata ada seseorang yang mau menculiknya dengan embel embel memberi Kanaya es krim segudang, atau bakso lebih dari 5 porsi sudah tentu gadis itu mau.


"Selain itu,"


"Enggak ada"


"Yakin? Gue lihat loh!"


"Serius tau"


"Dia enggak nanya apa apa gitu?"


"Nanya gue berangkat jam berapa? Naik apa? sama siapa? halaah males gue bahas nya"


"Kenapa enggak lo jawab aja semua yang dia tanya, termasuk sama siapa lo berangkat, kalau bisa kasih tau juga gue ini siapanya lo"


Disampingnya Kanaya menaikkan kedua alis, kebingungan dengan nada Sakha yang tiba tiba sewot, tapi tidak lama setelah itu kekehan ringan dari Kanaya terdengar.


"Cemburu om?"


"Bilang dong kalau cemburu"


"Gue bukannya cemburu, tapi ini juga demi kebaikan kita, sama dia" Katanya yang malah seperti dalih ditelinga Kanaya.


"Kebaikkan dia?"


Lagi lagi yang Sakha lakukan hanya menganggukan kepala.


"Kayaknya dia emang suka deh sama gue"


"Itu lo tau"


"Justru itu nay, kalau dia tau seengaknya dia enggak sesakit itu nantinya. Sebelum dia jatuh semakin dalam, ada baiknya dia sadar, lubang yang dia masuki itu salah, dan mungkin setelah itu yang dia usahakan bukan menyelam di lubang itu lagi, tapi usaha untuk keluar"


"Tapi aneh gak sih, masa Iyah dia suka sama gue padahal dia enggak tau gue ini gimana, dia juga ketemu gue belum ada sebulan, seminggu aja belum"


"Itu urusan dia sama perasaan dia"


"Tapi aneh aja gitu loh"


Sakha tidak menjawab lagi, kali ini dia juga tidak melempar batu lagi. Sama halnya dengan Kanaya, Sakha hanya duduk, sembari menyandarkan kedua tangannya kebelakang.


Ditempat ini Sakha tidak ingin memikirkan apapun, sebab bagi dia tempat ini adalah tempat kususnya untuk melepas segala beban, atau segala pikiran, masa bodoh dengan ucapan orang yang katanya pikiran kosong itu sering memicu terjadinya kerasukan, Sakha tidak peduli. Sakha benar benar tidak ingin memikirkan apapun, entah itu Raka, atau harinya besok akan bagaimana.


"Kayaknya mau hujan deh Kha"


"Mau pulang?"


"Ya kali sih lo ngajak gue nginep disini" Gadis itu lantas berdiri, meninggalkan Sakha yang kini terlihat tersenyum tidak habis pikir di tempatnya. Lalu dengan langkah ringannya, ia menyusul Kanaya.


"Kenapa?"


"Apanya?" Kata Sakha yang balik menatap Kanaya. Ada yang salah dengan suami menarik tangan istrinya kemudian menggandengnya?


"Gue bisa kali jalan sendiri"


"Emang lo enggak mau gue gandeng?"


"Aneh lo"


Sakha tidak memperdulikan, tapi setelah itu juga Kanaya tidak mengatakan apa apa, ia menurut sampai Sakha yang melepas tangannya tepat dimana sepedanya diparkir.


"Enggak sekalian lo pakein helm gue" Cibirnya saat Sakha memberinya helm. Biasanya begitu kan? Kanaya sampai bingung sendiri, sebenarnya dia ini istri atau anaknya Sakha sih?


"Gue tau lo bisa, jadi pake sendiri dong" Kata sakha yang menurut Kanaya kelewat menyebalkan. Rasanya dia ingin menyumbal mulut Sakha dengan helm detik itu juga


"Gue juga bisa kali jalan sendiri, gak perlu lo gandeng gue enggak bakalan jatuh"


"Uda naik, mau kehujanan"


Kanaya mencebikkan bibirnya, menatap Sakha nyalang meski pada akhirnya ia juga tetap naik.


•••


Kanaya mengeratkan pelukannya disisa perjalanan mereka, tiba tiba saja angin terasa lebih kencang, ditambah juga hujan kini ikut turun, dibelakang Sakha dia mungkin menikmati, tapi juga merasa tubuhnya sedikit lagi akan beku.


"Mending berteduh deh"


"Gue suka ujan ujan" Sahut yang dibelakang, yang mana Sakha balas dengan berdecak sebelum mengoceh lagi.


"Hujannya deres nay, kalau kita paksain buat terobos yang ada besok gak bisa ikut ospek. Lo mau sakit? gue sih ogah"


"Tapi kontrakan kita uda deket tau dari sini,"


"Deket? ini masih jauh sayaaang, masih jauh" Sahutnya lagi lagi, sementara Kanaya, pelukan gadis itu perlahan terasa longgar, benar benar tidak seperti tadi. Sakha yang merasa tangan Kanaya sudah tidak bertaut di perutnya, kini mengambil tangan itu satu persatu, dan dia tautkan kembali


"Gini aja gak papa, gue tau ini dingin"


"ENGGAK KOK, ENGGAK DINGIN" sela Kanaya. Jujur dia memang kedinginan, tapi dibanding ketahuan jantungnya saat ini berdebar debar, Kanaya rasa lebih baik jika dia besok sakit.


"Bibir lo geter geter begitu kalau enggak kedinginan kenapa coba, kepanasan" Sahut Sakha, Kali ini satu tangannya bertumpu diatas kedua tangan Kanaya, ia akan bergerak cepat jika Kanaya lagi lagi melepas pelukannya. Sakha tidak berharap gadis itu menyadari jika dia bukan laki laki sedingin yang orang orang kira, sebab saat ini yang Sakha harap hanyalah mereka bisa dengan cepat pulang ke rumah dan Kanaya tidak sakit setelah ini.


°


°


°


Menurut kalian Sakha ini anaknya gimana?


coba deh komen dibawah!


btw terimakasih buat yg sudah baca dan masukin cerita "Dear Sakha" didaftar favorit.