
Dibawah rindangnya pohon mangga juga ditengah tengah lapangan luas dengan rerumputan masih hijau, Kanaya dan Sakha sama sama terduduk dengan rasa lelah. Ditangan mereka masing masing ada segelas es Doger, Sesekali juga wajah keduanya diterpa angin yang bergerak lembut, sangat lembut sampai sampai Kanaya ingin memejamkan matanya dan tidur detik itu juga.
"Kira kira, Tama lagi ngapain ya sekarang?"
"Lagi ngeluh mungkin"
Kanaya yang tadinya mengigit sedotan kini terbahak, bayangan wajah Tama saat bocah tengik itu mengeluh sebab hal hal sepele tiba tiba terlintas. Sesepele kuota habis misalnya.
"Tapi gue kangen sih sama dia, gue juga uda jarang ketemu dia. Kampret kampret begitu dia aslinya baik"
"Dia emang tukang ngeluh, tapi ada sisi kerja keras juga dalam diri dia" Jawab Sakha, ia juga membenarkan kata Kanaya, Tama memang laki laki yang baik. Meski sering gonta ganti pacar, aslinya Tama sudah berhati hati dalam bersikap, berhati hati dalam menjaga perasaan orang lain agar tidak menyakiti mereka, tapi terkadang, tanpa sadar Tama sudah melukainya.
Lebih konyolnya lagi, Tama pernah bertanya pada Sakha, tentang bagaimana caranya agar dia bisa pergi dari mantan mantannya dengan cara yang baik, bagaimana dia bisa memutuskan hubungan itu dengan syarat tidak ada yang terluka, tidak ada yang menangis nanti, baik dia ataupun pihak yang lain. Dan sampai detik ini Sakha dibuat bingung oleh pertanyaan yang Tama ajukan, pertanyaan itu seolah ada tanpa mempunyai jawaban.
Lelaki tersebut kembali menyedot es dogernya, matanya menatap keatas, tepatnya kearah langit dengan dominan putih biru.
Layaknya dua laut yang bertemu diteluk alaska, kedua warna tersebut tidak bisa menyatu untuk menghasilkan satu warna baru, namun juga tidak ada pembatas diantara keduanya. Entah ini kali keberapa Sakha dibuat kagum atas kuasa Tuhan, tentang langit yang bisa berdiri meskipun ia tidak memiliki kaki atau penyangga, tentang laut yang Tuhan ciptakan dengan terbentang luas, tentang malam yang gelap namun tetap terlihat indah, tentang berjuta makhluk yang Tuhan ciptakan namun tidak ada satupun yang tidak dia urus. Tidak ada satupun makhluk yang tidak Allah cukupi kebutuhannya, sekalipun makhluk sekecil semut.
Dulu saat Sakha masih berumur 7 tahun, Sakha pernah kehilangan nafsu makannya, dia benar benar tidak makan nasi dan yang dia Konsumi hanyalah susu. Kadang ditambah buah seperti pisang.
Kala itu bukan cuma mama yang pusing, papa juga tidak kalah pusing. Dibelikan vitamin Sakha tidak mau meminumnya, diajak ke dokter sang anak malah menangis histeris, dia bilang takut disuntik, padahal mama sudah berulang kali mengatakan pada anak itu, dia tidak akan disuntik, tapi Sakha tetaplah Sakha, dia dulu lebih keras kepala di banding sekarang.
Sampai akhirnya, papa dapat saran dari teman sekantornya untuk membuatkan Sakha jamu kunyit ditambah madu. Katanya baik agar perut Sakha tetap adem meski dia tidak memakan apapun dan bisa mengembalikan nafsu makan juga. Sakha awalnya jelas tidak mau, ia sampai berguling kesana kemari agar tidak meminum jamu tersebut, tapi setelah pegal dengan ulahnya sendiri, Sakha langsung dibuat haus, seketika papa ambil kesempatan, beliau menyodorkan gelas tadi pada Sakha, tidak disangka sangka Sakha meneguk jamu itu sampai tinggal setetes. Parahnya lagi jempolnya terangkat dengan senyum lebar saat isi dari gelas tersebut benar benar tidak tersisa, iya, Sakha bahkan meminum yang setetes itu lagi.
"Enakan, dibilangin ngeyel sih" kata mama yang ketara sekali kesal. Sakha hanya cengegesan. Ia menyerahkan gelas tadi pada papa dan langsung berlari menuju dapur, yang langsung mama ikuti kepergiannya
"Nyari apa si sayang"
"Ma buatin lagi dong jus kayak tadi, tambahin madu juga"
"Jus"
"Iya jus tadi enak"
Jus dengkulmu, batin papa tak kalah kesal. Mungkin urusannya dengan Sakha sudah selesai pagi ini, tapi tidak dengan jamu jamu yang berteteran di lantai.
"Sakha minta madunya ya ma"
"Mau langsung diminum begitu, atau mama ambilin sendok"
Sakha menggeleng, bocah berumur tujuh tahun itu berlari lagi untuk kembali keruang tengah, mama jelas ikut lagi, lain dengan papa yang sudah menghela nafas panjang dan menarik kursi untuk dia duduki, tau begini lebih baik dia kekantor.
"Ehh ... madunya kok dibuang" Teriak mama, terkejut dengan madu yang sengaja Sakha cecerkan kelantai lantai.
"Ssstt, mama diem ya, duduk yang tenang disitu" Kata Sakha, ia terus membuang madu tersebut kelantai.
Mama jelas tidak bisa diam, beliau langsung menghampiri Sakha dan mengambil botol madu tadi, lalu marah marah pada Sakha.
"Sakha, tau kan ini di belinya pakai uang"
"Sakha enggak bilang kalau itu di beli pake daun loh ma"
"Uda tau begitu kenapa dibuang buang, itu namanya mubazir Sakha! Mama enggak pernah ya ngajarin kamu buat buang buang makanan begitu"
"Sakha enggak buang buang makanan, madu itu Sakha kasih ke semut semut dibawa, tuhh mama liat"
Dan benar saja, madu madu tadi sudah dikerubungi oleh semut, seakan tidak peduli dengan mama yang baru saja memarahinya, Sakha malah duduk jongkok disana, memperhatikan bagaimana semut itu berkumpul juga membayangkan perasaan mereka. Mungkin saja mereka bersorak ria karna hari ini Sakha memberinya madu.
"Sakha kasian sama mereka" Cicit anak itu, jamu yang tumpah tumpah tadi tidak sengaja terlihat oleh Sakha, dan jamu tadi juga dikerubungi oleh banyak semut. Ia jadi berinisiatif untuk menuangkan madu dilantai lantai ruang tamu, dengan tujuan agar semut lain yang menghuni rumahnya juga bisa merasakan bagaimana manisnya madu, barang kali mereka belum pernah mencicipi madu
"Mulai sekarang Sakha mau kasih mereka madu, nanti Sakha bakalan pel lantainya kok, Sakha janji, Sakha enggak mau semut semut ini kelaperan"
"Sakha,"
Anak itu mendongak, merasakan bagaimana lembutnya sentuhan mama di pucuk kepalanya, binar yang tadinya seakan berapi kini kembali teduh dengan seutas senyum yang menghiasi bibir tipis sang mama
"Kamu tau enggak siapa yang ciptain semut ini"
"Allah" kata Sakha yang langsung menjawab, yang mana membuat mama mengulas senyumnya
"Bener, Allah yang menciptakan semut semut ini, terus Sakha pikir Allah bakalan biarin mereka begitu aja?"
"Maksutnya?"
Lagi lagi mama tersenyum, kali ini beliau mendekap Sakha dan mengusap usap bahu kecilnya
"Allah itu selalu mengurus makhluknya Sakha, meski sekecil semut tetap akan Allah urus"
"Tapi kan makhluk Allah itu banyak"
"Iya, makhluk Allah memang banyak, tapi itulah hebatnya Allah, enggak ada satupun makhluk yang enggak dia urus, semuanya dia urus Sakha"
Sakha ingat jelas bagaimana senyum mama waktu itu, Sakha juga mengingat jelas bagaimana kepalanya yang waktu itu mendadak pusing. Dengan berjuta juta makhluk yang Allah ciptakan, bagaimana bisa Allah mengurus semuanya. Tapi kembali lagi dengan apa yang mama sampaikan waktu itu, Allah memang maha hebat.