
Dibanding 'Selamat anda mendapatkan uang seratus juta rupiah dan sudah bisa dicairkan mulai hari ini- Kanaya lebih terkejut lagi ketika bang Rizal yang mengirimi-nya chat, meski cuma sekedar
'Nay, ntar gue kesana ya!
Gadis itu sekarang ini bahkan menatap datar pada layar ponselnya. Karena kalau sudah begini, pasti akan selalu ada udang dibalik batu, alias bang Rizal ada maunya.
"Ehhh Kha!"
Sakha yang baru keluar dari kamar menoleh pada gadis itu, dari caranya melihat seakan ada kalimat 'Kenapa Nay?
"Nanti bang Rizal ke sini."
"Jam berapa?"
"Kayaknya siangan deh."
"Tapi tau nggak sih, perasaan aku tuh nggak enak."
"Udah biarin aja bang Rizal ke sini, lagian kan ada aku."
Tadinya Kanaya mau nyinyir, tapi Sakha lebih dulu menyela.
"Pokoknya aman." Sambil lagi lagi mengusap rambut Kanaya. Seakan memberi jaminan yang pasti bahwa selagi ada Sakha, jangan harap bang Rizal bisa memperbabu istrinya. Pokoknya Sakha akan jadi tameng Kanaya mulai hari ini, terutama kalau di hadapan oknum yang bernama Rizal tersebut.
"Dahh mandi sana, belum mandi kan?"
"Berasa uda mandi aja ya pak."
"Jangan salah loh, aku uda mandi."
"Kapan?"
"Kemarin sore."
"Yeuhhhh!"
"Ehhh mau kemana?" Tanya Sakha ketika Kanaya akan pergi dari hadapannya. Hal tersebut jelas membuat Kanaya berdecak.
"Katanya tadi disuruh mandi, gimana sihh?"
"Ntar aja ih, airnya dingin." Sakha dan keanehannya yang makin ke sini makin menjadi jadi. Sampai tidak mengertinya Kanaya dengan Sakha, gadis itu hanya tersenyum tertekan.
"Nay?"
"Hmm."
"Nayaaa?"
"Apa?"
"Madep aku dong kalau aku ngomong."
Ini suami gue kenapa jadi begini sih ya Allah, siapa yang nyeting.
"Kayaknya aku mau nemuin papa." Kanaya yang tadinya sudah hampir putus asa menghadapi tingkah Sakha, sekarang ini mendadak melebarkan matanya.
"Ada masalah apa?" Setaunya tidak ada sesuatu yang serius diantara Sakha dan papanya. Atau papa masih belum terima dengan keputusan Sakha pada waktu itu.
"Papa nyuruh kamu kerja di sana lagi?"
"Nggak."
"Terus?"
"Aku yang mau."
"Seriously?"
....
....
....
Hening yang terjadi cukup lama. Sampai akhirnya Sakha tersenyum. Dan dia pikir itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Kanaya.
"Kenapa?"
Tapi bagi Kanaya belum ada yang jelas. Jadi dia meminta penjelasan lagi. Bahkan dari bagaimana Sakha menatapnya, dan bagaimana senyum pada bibir laki laki itu, semua itu makin membuat Kanaya kebingungan.
"Kha, aku uda bilang kan, nggak ada salahnya ketika kamu menolak tawaran papa saat itu dan ngelakuin apa yang kamu mau."
"Kamu-"
"Dengerin aku dulu." Kata Sakha.
"Aku tau kalau kamu nggak akan mempermasalahkan pekerjaan aku. Bahkan aku ajak kamu tinggal di kosan kecil kayak gini pun kamu nggak pernah protes, tapi Nay, aku mau jadi suami yang lebih."
"Aku mau jadi suami yang bisa ngasih kamu banyak. Dari segi apapun."
"Kamu bilang aku harus ngelakuin apa yang aku mau kan?"
Saat Kanaya masih diam, Sakha langsung mengulas senyumnya. Dan lagi lagi dia mengusap rambut tersebut, seraya berkata "Untuk sekarang, ini yang aku mau Nay."
°°°
Kanaya tak ubahnya anak linglung yang tidak tau jalan pulang ketika jam sepuluh bang Rizal datang ke kosan. Bukan lantaran muka bang Rizal yang seram, tapi karena bocah kecil yang bang Rizal gendong.
"Anak siapa bang?" Bukan Kanaya. Kan sudah dibilang Kanaya masih shock didepan pintu. Melainkan Sakha, yang awalnya dia juga kaget, tapi pada akhirnya bisa biasa saja.
"Anak temen gue."
Barulah saat itu Kanaya menghembuskan nafasnya dengan lega. Serius, dia sudah mikir yang iya iya soal Rizal.
"Hallo! Namanya siapa." Tanya Kanaya begitu Rizal mengajak anak itu masuk. Tapi berhubung anak itu belum bisa bicara, yang dia lakukan hanya menunjuk nunjuk Kanaya dengan jari jari mungilnya.
"Ihhh lucu banget deh!" Dan Kanaya tidak bisa untuk tidak girang meski dengan perlakuan sekecil itu.
"Boleh gue gendong nggak Bang?"
"Boleh dong, boleh banget." Kata Rizal.
"Btw gue mau keluar soalnya ada rapat dadakan, ini gue titipin ke kalian ya." Katanya lagi, bersamaan dengan anak itu yang sudah di gendongan Kanaya.
Awalnya Kanaya mengangguk tenang, tapi setelah beberapa detik berlalu, barulah dia nggeh dan melotot bukan main ke arah Rizal.
"Gue nggak bisa ngajak Reina rapat Nay, ya kali sihh."
"Pokoknya gue titip ke kalian, ntar jam empat sore gue ke sini lagi. Anggap anak sendiri aja nggak usah sungkan." Dan dengan tidak tau dirinya Rizal langsung ngicrit keluar.
"Assalamualaikum."
Muka Kanaya merah madam, jelas. Bukan tentang dia suka anak kecil atau tidak, tapi karena Rizal yang suka seenaknya sendiri begini.
"Uda nggak papa." Sakha yang masih di belakang Kanaya mencoba untuk merengkuhnnya, dan mengusap pundak gadis tersebut agar tidak sampai marah di depan Reina.
"Itung itung simulasi Nay."
"Simulasi gimana?"
"Simulasi jadi orang tua yang baik."
°°°
"Sakhaaa tolong!"
"Reina nangis!"
"Sakhaaaa Reinaa kencing!"
"Sakha Reina nangis lagi!!!!"
Ini sih belum apa apa Kanaya sudah trauma lebih dulu. Nyatanya jadi ibu itu susah ya.
"Sini biar aku yang gendong."
"Masa tadi dia pipis kena baju aku sih."
"Oh yaa?"
Ketika Kanaya menganggukkan kepalanya dengan wajah masam, Sakha malah terbahak. Anehkan? Istri ketiban musibah tuh harusnya simpati sedikit gitu, tapi Kanaya sepertinya tidak usa heran lagi sih karena dia kan Sakha. Yang kadang beda banget dari manusia pada umumnya.
"Kha?"
"Hmm?"
"Beneran bisa gantiin popok bayi?"
"Siapa?"
"Ya kamu."
"Gampang kok, kayak pakein celana aja." Lalu dengan pelan dan hati hati Sakha mengganti popok Reina. Sementara itu Kanaya hanya melirik Sakha dengan tatapan yang hangat. Tanpa sadar bibirnya malah menyungging membentuk senyuman yang tipis.
Di mata Kanaya, Sakha itu terkadang nyaris terlihat sempurna, seperti sekarang ini misalnya. Tak jarang Kanaya juga sering insecure tanpa sebab. Bahkan selalu ada kondisi dimana dia malah merasa kalau dia dan Sakha itu tidak cocok. Meski ada yang bilang bahwa jodoh itu saling melengkapi, Kanaya pikir itu tidak akan bisa adil ketika Sakha dengan dia. Sebab Sakha harus melengkapi banyak sekali untuk Kanaya.
"Kamu uda cocok loh jadi ayah."
"Iyakan?" Sakha sempat melirik Kanaya, sebelum akhirnya kembali menciumi pipi Reina.
"Cuma nunggu kamu aja aku tuh,"
"Jadi orang tua tuh berat Kha."
"Iya. Tapi kalau dijalanin bareng bareng, aku yakin kok nggak akan seberat itu."
Sebentar deh Nay sebentar! Lo ngomong apa ya barusan?